Tampilkan postingan dengan label Mengerikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengerikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2009

sop janin yang biadab






Juru masak restoran tersebut mengatakan jika memang menginginkan Healthy Soup’, dia menganjurkan untuk datang ke sebuah desa di luar kota dimana ada sepasang suami istri yang istrinya sedang mengandung 8 bulan. Diceritakan pula bahwa si istri sebelumnya sudah pernah mengandung 2 kali, tetapi kedua anaknya lahir dengan jenis kelamin perempuan. Jika kali ini lahir perempuan lagi, maka ‘Healthy Soup’ dapat didapat dengan waktu dekat. Cara pembuatan ‘Healthy Soup’, seperti yang diceritakan oleh jurnalis yang meliput kisah ini adalah sebagai berikut : Janin yang berumur beberapa bulan, ditambah Pachan, Tongseng, Tongkui, Keichi, Jahe, daging ayam dan Baikut, di tim selama 8 jam, setelah itu dimasak selayaknya memasak sup.

Beberapa hari kemudian seorang sumber menghubungi penulis untuk meberitahukan bahwa ada restoran yang sudah mempunyai stok untuk ‘Healthy Soup’. Bersama sang pengusaha, penulis dan fotografer pergi ke restoran tersebut untuk bertemu dengan juru masak restoran tersebut yang tanpa membuang waktu langsung mengajak rombongan untuk tour ke dapur. Di atas papan potong tampak janin tak bernyawa itu tidak lebih besar dari seekor kucing. Sang juru masak menjelaskan bahwa janin tersebut baru berusia 5 bulan, tidak dijelaskan berapa harga belinya, yang pasti itu tergantung besar-kecil, hidup-mati janin tersebut dan sebagainya. Kali ini, harga per porsi ‘Healthy Soup’ 475 USD karena stok sedang sulit untuk didapat. Sambil mempersiapkan pesanan kami, dengan terbuka juru masak tersebut menerangkan bahwa janin yang keguguran atau di gugurkan, biasanya mati, dapat dibeli hanya dengan beberapa puluh USD saja, sedang kalau dekat tanggal kelahiran dan masih hidup, bisa semahal 300 USD. Urusan bayi itu diserahkan ke restoran dalam keadaan hidup atau mati, tidak ada yg mengetahui.

Setelah selesai, ‘Healthy Soup’ disajikan panas di atas meja, penulis dan fotografer tidak bernyali untuk ikut mencicipi, setelah kunjungan di dapur, sudah kehilangan semua selera makan, maka cepat-cepat meninggalkan mereka dengan alasan tidak enak badan.

hiyyy...

Read More ..

Sabtu, 06 Juni 2009

Ahli Forensik FKUI-RSCM= Jenglot Bukan Manusia


Jenglot pernah diperiksa dr Budi Sampurna DSF di Bagian Forensik RSCM. Benda sepanjang 10,65 cm, menyerupai boneka menyeramkan itu memiliki bagian serupa kepala, badan, tangan dan kaki serta rambut terurai sepanjang 30 cm. Ukuran masing-masing tampak proporsional.

Hanya saja, ukuran kuku-kuku jarinya serta taring sangat panjang. Taring mencuat hampir sepanjang ukuran kepala, kuku juga panjang dan meruncing hingga bukan tidak mungkin membuat bulu kuduk penonton berdiri.

Jenglot“Setiap 35 hari pada Jumat Legi, kita kasih satu tetes darah dicampur minyak javaron seperti kalau banyak orang memberikan sesaji berupa kembang atau kemenyan,” kata Hendra.

Tak ada yang tahu apakah darah tersebut benar-benar diminum atau tidak oleh mahkluk seberat 37,2 gram itu. Menurut Hendra, dalam tubuh Jenglot masih terdapat kehidupan.

Tanda kehidupan itu, menurutnya, dapat dilihat dari bola matanya yang bisa berpindah setiap saat serta rambut dan kukunya yang memanjang. Benarkah Jenglot dan kawan-kawannya itu masih hidup atau setidaknya pernah hidup? Hendra dengan berani mengajukan “tantangan” agar para ahli kedokteran menelitinya secara objektif.

Tampaknya gayung bersambut. Pihak forensik RSCM tertarik untuk meneliti “kemanusiaan” Jenglot. Tentu saja bukan berdasarkan ilmu klenik, tapi secara medis berdasarkan ilmu pengetahuan. Maka pada hari Kamis, 25 September 1997 siang, makhluk Jenglot dibawa ke RSCM untuk diperiksa secara medis. Ruang Forensik dan ruang Rontgent RSCM mendadak penuh sesak pengunjung.

Mereka terdiri dari paramedis, mahasiswa kedokteran, wartawan dan sejumlah pengunjung RS yang tertarik melihat kedatangan jenglot yang ditaruh dalam kotak kayu berukir itu.

Ahli Forensik FKUI-RSCM, Budi Sampurna DSF mengatakan, pemeriksaan Jenglot dengan latar belakang seperti yang telah diketahui masyarakat luas merupakan tantangan menarik bagi dunia kedokteran untuk membuktikannya dari segi keilmuan.

Menurut dr Budi, guna membuktikan kemanusiaan jenglot, maka akan dilakukan deteksi dengan alat rontgent untuk mengetahui struktur tulangnya serta pemeriksaan bahan dasar kehidupan seperti C,H,O atau proteinnya.

Untuk keperluan tersebut, ahli forensik mengambil sampel dari bahan yang diduga sebagai kulit atau daging Jenglot serta sehelai rambutnya. Pengambilan sampel dilakuan sendiri oleh Hendra yang saat datang ke RSCM membawa serta tiga batang hio. “Untuk jaga-jaga, jangan-jangan ada yang kena sawab-nya (pengaruh),” katanya perihal hio.

Dokter Djaya Surya Atmaja kemudian memotret dan mengukur berbagai bagian “tubuh” Jenglot. Setelah itu dokter spesialis Radiologi, dr Muh Ilyas memeriksa jenglot menggunakan sinar X. Dalam pemerikasaan lebih lanjut Hendra menolak barang koleksinya dibedah. Alasannya, jasad Jenglot akan rusak. “Akibat tidak baik bagi kita semua,” katanya.

Usai pemeriksaan ternyata hasilnya menyatakan jenglot tak memiliki struktur tulang. Hasil rontgent yang disaksikan puluhan wartawan, paramedis, mahasiswa praktek, ternyata hanya menampilkan bentuk struktur menyerupai penyangga dari kepala hingga badan. Selain itu terlihat juga jaringan kuku dan empat gigi selebihnya tak ada. “Ada bagian jaringan serupa daging, namun kita belum bisa memastikan apakah itu daging atau bahan lainnya,” kata dr Muh Ilyas.

Guna mendapat hasil lebih mendetail, maka Jenglot diteliti dengan CT Scan. Ternyata Jenglot tidak memiliki struktur seperti manusia kendati kenampakan luar menyerupai manusia. Kini pihak Forensik FKUI-RSCM masih meneliti sampel kulit/daging serta rambut Jenglot untuk mengetahui golongan darah, DNA-nya. “Memakan waktu sekitar tiga minggu,” katanya. Menanggapi hasil tersebut, Hendra mengatakan, “Apa pun hasilnya kita harus terima dong,” katanya.

Majalah Gatra, Nomor 52Contoh kulit itulah yang kemudian ditelitinya di Laboratorium RSCM atas prakarsa dan biaya pribadi. Spesimen seirisan kulit bawang itu kemudian diekstraksi agar DNA-nya keluar dari inti sel. DNA merupakan material genetik berupa basa protein panjang yang membangun struktur kromosom. Pada inti sel manusia terdapat 23 pasang kromosom.

Masing-masing bisa dipenggal-penggal menjadi banyak lokus, satu unit yang membangun sifat bawaan tertentu. Djaja memeriksa DNA Jenglot pada lokus nomor D1S80 dari kromosom 1 dan HLA-DQA1 dari kromosom 5, serta lima lokus khusus lain dengan teknik PCR (polymerase chain reaction).

Pemeriksaan HLA-DLA-DQA1 memberikan hasil positif. Artinya, spesimen Jenglot itu berasal dari keluarga primata -bisa monyet, bisa pula manusia. Namun dari penyelidikan atas lokus D1S80, Djaja mendapat kepastian bahwa sampel DNA itu berkarakteristik sama dengan manusia.

Temuan mengejutkan itu diperkuat dengan kajian mesin PCR. “Hasilnya begitu, saya harus bilang apa,” kata satu-satunya ahli DNA forensik Indonesia berusia 37 tahun itu. Hendra Hartanto gembira mendengar hasil penelitian Djaja. “Ini menyangkut peninggalan sejarah yang berumur 3.112 tahun,” katanya ketika ditemui Gatra di pameran Gelar Benda Pusaka Jenglot, di Plaza Metro Sunter, Jakarta Utara waktu itu.

Dokter Budi Pramono, yang pernah merontgen Jenglot, terkejut mendengar hasil penelitian Djaja Surya. “Mirip bagaimana? Harus jelas. Saya kok kurang percaya. Nanti saya akan mengkonfirmasikan langsung ke Dokter Djaja,” katanya. Yang pasti, Budi tak percaya jika Jenglot dianggap hidup. “Makhluk hidup itu perlu makan dan bernapas.

Lalu strukturnya perlu tulang, jantung, paru, dan lain-lain. Jenglot tak mempunyai itu semua,” katanya. Untuk menjelaskan sosok Jenglot secara lengkap, kata Budi, perlu diteliti lebih jauh struktur anatominya, aspek mikroskopis jaringannya, bahkan enzim yang ada di tubuhnya.

Pimpinan RSCM sempat tertarik untuk meneliti Jenglot. Namun setelah Budi melaporkan bahwa Jenglot tak memiliki kelengkapan organ sebagai makhluk, niat itu surut. Jenglot dianggap seperti karya mistik lainnya yang tak mengandung tantangan ilmiah.

Sampai kemudian Djaja Surya menguji DNA dari kulit lengannya, yang ternyata berkarakteristik manusia. Tapi Djaja pun tak memutlakkan temuannya. Bisa saja penyelidikannya meleset karena sampelnya terkontaminasi. “Misalnya, kulit Jenglot sebelumnya terkena olesan darah manusia,” katanya.

Waktu Jenglot dipamerkan, seorang bapak yang mengaku dari Salatiga yang bertanya, “Bisakah jenglot berkembang biak?”

Pertanyaan itu semata-mata berpangkal dari kekhawatirannya jika “makhluk ganas” (karena makanannya darah) itu makin banyak. Tetapi Hendra menepis kekawatiran itu. Menurut dia, jenglot hanya hidup secara gaib (roh). Artinya, “kehidupan” yang dimiliki bukan seperti kehidupan makhluk hidup.

Sebab, secara fisik jenglot sebenarnya sudah mati (mumi). “Namun, dalam kematiannya itu dia masih memiliki kekuatan,” ujarnya. Karena itu, dia mempersilakan orang yang memiliki tenaga dalam untuk membuktikan keberadaan “energi” itu.

”Energi yang terkandung di dalam jenglot betul-betul besar, sampai saya terpental beberapa meter. Padahal, saya sudah mengerahkan kemampuan tenaga dalam untuk meremukkannya, namun ternyata tak mampu. Wah, betul-betul luar biasa,” tutur salah seorang pengunjung yang tak mau disebut namanya, setelah menjajal energi yang tersimpan di jenglot yang dipamerkan di Ruang Pamer Pasarraya Sri Ratu Jalan Pemuda Semarang.

Memang, banyak pengunjung yang kurang percaya jenglot itu mempunyai energi supranatural. Namun, bagi pengunjung yang mempunyai ilmu tenaga dalam atau tenaga supranatural, baru akan mempercayainya mumi mini tersebut mempunyai energi yang besar. Sampai-sampai mampu melemparkan pengunjung yang menjajal-nya.

Beberapa pengunjung yang lain yang memiliki ilmu tenaga dalam ketika menguji juga mengalami nasib serupa, terpental. Namun ada juga pengunjung yang memang tak dibekali dasar-dasar ilmu tenaga dalam, ketika mau membuktikan energi jenglot oleh panitia dengan terpaksa tidak diperkenankan. ”Jangankan diremas oleh orang tua, oleh anak kecil pun jenglot pasti remuk,” tutur Yehana SR, salah seorang panitia pameran.

Tidak hanya itu, kabar jenglot yang diduga mempunyai unsur DNA manusia dan energi supranatural juga telah mendunia. Buktinya, salah seorang pakar foto aura dari Belanda, yakni Ny Adri Bojoh Knijn, secara khusus datang ke Ruang Pamer Jenglot untuk mendeteksi keberadaan energi jenglot tersebut dengan alat foto aura.

Hendra Hartanto pemilik benda tersebut menjelaskan, soal asal-usul jenglot tersebut manusia atau bukan, tergantung pada kepercayaan. Karenanya, jika ada pihak lain yang mempercayai benda tersebut bukan merupakan jasad manusia sah-sah saja. Sedangkan soal penelitian DNA, pihaknya berencana akan melakukan pengujian ke Singapura dan Jepang.

Banyak pula pengunjung yang meragukan jenglot sebagai makhluk mati yang mempunyai energi. Misalnya, kapan jenglot memindahkan tangan atau kakinya. Mulai hari pertama hingga kelima dipamerkan, empat ”pertapa sakti” tersebut tetap dalam posisi semula: tangan tertekuk di depan dada, kedua kaki lurus-sejajar, dengan kedua mata terbuka.

”Katanya hidup, kok nggak bisa berkedip-kedip?” tanya seorang pengunjung.

Terhadap pertanyaan itu, Hendra menjelaskan, jenglot memang tak bisa berkedip. Namun, meskipun belum pernah memergoki, dia sering mendapati posisi kelopak mata yang berubah. ”Suatu saat, posisi kelopak mata terbuka lebar, tapi saat yang lain akan menurun. Saya memang belum pernah memergoki, tapi pernah mendapati kelopak mata dalam kedua posisi seperti itu,” ucapnya mencoba meyakinkan para pengunjung.

Dia menambahkan, yang dimaksud hidup dari jenglot bukan hidup seperti halnya manusia. ”Jenglot itu mumi, dan ‘kehidupannya’ ada dalam kematiannya itu. Jenglot hanya hidup secara gaib (roh).”/III, 15 November 1997 memberikan laporannya mengenai Jenglot. Penelitian yang dilakukan Dokter Djaja Surya Atmaja, PhD, dari Universitas Indonesia menunjukkan bahwa contoh kulit Jenglot yang diperiksa memiliki karakteristik sebagai DNA (deoxyribosenucleic acid) manusia.

“Saya kaget menemui kenyataan ini,” kata Djaja, doktor di bidang DNA forensik lulusan Kobe University, Jepang, 1995. Namun Djaja menolak anggapan seolah ia mengakui Jenglot sebagai manusia. “Tapi sampel yang saya ambil dari Jenglot menunjukkan karakteristik manusia,” katanya. Adapun sampelnya berupa sayatan kulit Jenglot berukuran setengah luas kuku, yang mengelupas dari lengannya

Read More ..

Jenglot, “Monster Kecil” yang Misterius


Jenglot (paling kanan) dan kawan-kawannya yang dipamerkan. Bandingkan besar mereka dengan kotak korek atau botol berisi darah segar yang merupakan ‘’sesaji” dan benda-benda lain disekitarnya. Inzet, Hendra Hartanto, pemilik Jenglot. (Foto:Suara Merdeka)


Sang pemilik, Hendra Hartanto, pengusaha restoran dari Surabaya selalu hanya mendapati posisi kaki, tangan, dan kelopak mata yang sudah berubah. Konon, makhluk misterius itu selalu menghabiskan darah manusia yang dicampur minyak japaron. Namun, sekali lagi, tak ada yang tahu kapan ia menenggaknya.

Menurut Hendra, dalam menyantap sajiannya itu, jenglot tak menggunakan cara seperti yang dilakukan manusia pada umumnya. Yang jelas, dalam setiap 18 jam, sebanyak 3 cc darah dan minyak wangi yang disajikan akan berkurang sekitar 50 persen sampai 60 persen.

Jenglot, karena itu bisa jadi amat misterius. Sama misteriusnya ketika Hendra menemukan makhluk aneh tersebut. Syahdan, perkenalan Hendra dengan “makhluk” aneh itu terjadi pada 1972. Ketika itu, ia bersemadi di pantai Ngliyep, Malang, Jawa Timur. Dalam keadaan setengah sadar, ia merasa ada sosok yang menghadiahinya dengan Bethoro Kapiwiro dan Bethoro Katon.

Beberapa bulan kemudian, dengan cara serupa, dan di tempat itu pula, Hendra mendapatkan Jenglot dan Bethoro Kapiworo. Namun kata Hendra, mereka memiliki asal-usul berbeda. Jenglot dan Bethoro Kapiworo merupakan jelmaan pertapa sakti yang kualat. Sedangkan Bethoro Katon dan Bethoro Kapawiro adalah kera sakti yang dikutuk. Namun mereka semua, menurut Hendra, hidup dan punya mistik.


DNA Manusia

Hendra bahkan berani menyebut “temuannya” itu sebagai manusia. Menurut cerita yang dia susun, jenglot pada masa ribuan tahun lalu adalah manusia (seorang pertapa) yang tengah mempelajari ilmu Bethara Karang. Ilmu Bethara Karang diyakini sebagai ilmu keabadian. Artinya, setiap orang yang memiliki ilmu tersebut akan hidup abadi di dunia.

“Namun, akibat kutukan, jasad jenglot tidak diterima di dunia sedangkan rohnya tidak diterima di akherat. Maka roh tersebut seperti terpenjara dalam jasad kecil ini,” kata Hendra. Setelah itu, sang pertapa menjadi emosional dan merasa sebagai jawara. Tak pelak, tubuhnya pun menyusut, hingga akhirnya mengecil. Empat taring kemudian tumbuh memanjang, tak sebanding dengan lebar mulutnya. Katanya, itu sebagai lambang keganasan dan sifat liar sang “monster”.

jenglotMelihat dari dimensi realita, jenglot kini memang hanya tinggal mumi. Namun, ia masih memiliki energi, di mana rambut dan kuku jari terus memanjang. Bahkan, posisi kaki dan tangan pada saat-saat tertentu akan berubah.

Jika menyimak dari sisi nonrealita, maka jenglot memiliki energi yang bisa dirasakan melalui kekuatan supranatural. “Jadi, masih tersisa energi dalam jasadnya yang beku,” ujar Hendra.

Jenglot sendiri, sebenarnya hanya istilah atau sebutan. Menurut Hendra, pihaknya juga tidak tahu kata itu diperoleh dari hasil “menayuh”. Namun, dia tak mengetahui pasti, dari bahasa Sansekerta atau Jawa Kuno asal kata tersebut. Jenglot, lanjut dia, hanya julukan, sama halnya ketika manusia menyebut “vampire” atau “drakula”.

“Dia sebenarnya memiliki nama, tapi saya nggak bisa menyebutnya di sini. Sebab, nama itu merupakan password.”

Masih menurut si penemu, jenglot merupakan peninggalan sejarah yang berumur 3.112 tahun. Selama ini, jenglot sempat ikut dalam pameran Gelar Benda Pusaka Jenglot di Plasa Metro Sunter, dan Plaza Sentra Buana. Ia dipamerkan bersama tiga “makhluk aneh” lainnya, yakni Bethara Kathon, Begawan Kapiworo, dan Begawan Kapawiro.

Namun, cara perolehan keempat “mumi” itu tak sama. Bethara Kathon dan Begawan Kapiworo diperoleh dari “seseorang” saat dia bersemadi di Pantai Ngliyep. Beberapa waktu kemudian seorang paranormal melimpahkan Jenglot dan Begawan Kapawiro kepadanya.

Keempatnya juga memiliki energi, hidup, dan mistik. Tapi, apa pun hasil penelitian nanti, benarkah sesuatu bisa disebut manusia (meskipun hanya “mumi”), jika tak memiliki kelengkapan organ sebagai makhluk hidup (manusia), seperti jantung, paru-paru, dan tulang?

Dalam pameran, yang disebut “jenglot” sendiri - tergantung dari sudut mana dan dengan perspektif macam apa Anda memandangnya - bisa dilihat seperti boneka, mungkin dari acrylic atau bahan sintetis lain, dipajang dalam kotak kaca.

Kalau melihatnya dari sudut lain, yakni dari sudut dan dunia simbolik kalangan para dukun, “jenglot” dikatakan sebagai “mummy” yang konon berusia 300 tahun. Menurut Abas Soegiono, “jenglot” ditemukan saat sejumlah paranormal alias dukun melakukan tirakat di Wlingi, Jawa Timur tahun 1972.

“Jenglot” yang dipamerkan waktu itu ada empat, masing-masing disebut sebagai “Jenglot”, yang konon berjenis kelamin lelaki dan konon pula bisa membantu mengamankan pemiliknya dari segala macam bahaya. Yang lain lagi adalah Bethoro Karang, pria juga, konon bisa membantu kelancaran usaha, menjaga keselamatan, dan lain-lain.

Lalu Bethoro Katon, konon berjenis kelamin wanita, di mana selain membantu melancarkan usaha juga bisa dipakai sebagai “pengasih”. Yang terakhir, Begawan Kapiworo, katanya penjelmaan kera putih, ada hubungan dengan Anoman, mempunyai padepokan Kendali Sodo. “Jenglot” sendiri menurut Abas adalah benda mati, bukan mahluk hidup.

Meski “jenglot” bukan mahluk hidup, tetapi daya spiritual “jenglot” tetap hidup. Karena itu “jenglot harus diberi makan”. Makanan “jenglot” adalah darah berjenis O dan minyak wangi. Abas menyebut merk minyak wangi yang katanya mudah didapat di pasar.

Read More ..

Jumat, 15 Mei 2009

Williamina “Minnie” Dean


Minnie Dean adalah satu-satunya wanita yang dieksekusi dalam sejarah Selandia Baru. Dia dieksekusi dengan digantung. Berkedok menyelamatkan gadis muda yang miskin, wanita iblis ini membunuh anak mereka dan mengambil uang mereka untuk meningkatkan gaya hidupnya. Pada waktu itu, wanita muda yang hamil tanpa suami dijauhi oleh masyarakat. Hal ini memunculkan suatu kejadian phenomena yang disebut “baby farming” dimana orang akan mengajukan diri untuk mengambil anak mereka dan membesarkan mereka dengan gaji dari pemerintah. Dean adalah salah satu orang tua asuh, tetapi daripada membesarkan anak-anak itu, dia justru membunuh mereka ketika ada kesempatan dan mengambil gaji itu. Hal ini sangat memungkinkan dilakukan karena orang tua adopsi tidak harus mendaftar sesuai hukum. Dalam banyak kasus, anak-anak itu lenyap di rumah para orang tua asuh ini. Dean membunuh paling tidak 3 anak tetapi banyak orang yang menduga dia membunuh lebih dari itu. Saat ini, tulang dari 3 anak itu disimpan didalam museum pribadi polisi Selandia Baru.

Read More ..

Karla Homolka


Dia si Karla Homolka adalah pembunuh serial dari Kanada yang menarik perhatian media diseluruh dunia ketika dihukum karena membantu suaminya, Paul Bernardo untuk memperkosa dan membunuh gadis-gadis remaja, termasuk juga adiknya sendiri Tammy Homolka. Karla merekam kebrutalan dan pembunuhan gadis muda yang dilakukan oleh suaminya, rekeman video ini digunakan untuk melawan mereka dipengadilan dan beberapa bagian dapat disaksikan diinternet walaupun pemerintah Kanada meminta agar video itu dihapuskan. Yang lebih mengejutkan lagi, Homolka dibebaskan dari penjara pada tahun 2005 setelah hanya dihukum 12 tahun dan sekarang hidup di West Indies.

Read More ..

Dorothea Puente


Suspicion was aroused when neighbors noticed the odd activities of a homeless alcoholic known only as "Chief," whom Puente stated she had "adopted" and made her personal handyman. Puente had Chief dig in the basement and cart soil and rubbish away in a wheelbarrow. At the time, the basement floor was covered with a concrete slab. Chief later took down a garage in the backyard and installed a fresh concrete slab there as well. Soon afterward, Chief mysteriously disappeared.

Puente got married for the fourth time in 1976 to Pedro Montalvo, who was a violent alcoholic. The marriage only lasted a few months, and Puente started to spend time in local bars looking for older men who were receiving benefits. She forged their signatures to steal their money, but she eventually was caught and charged with 34 counts of treasury fraud. While on probation, she continued to commit the same fraud.

According to California Court of Appeal records, in 1981 Puente began renting an upstairs apartment at 1426 F Street in downtown Sacramento. The nine murders with which she was charged in 1988 (she was convicted in 1993 of three of them) were associated with this upstairs apartment and not her previous 16-room boarding house.

In April 1982, 61-year-old Ruth Monroe began living with Puente in her upstairs apartment at 1426 F Street, but soon died from an overdose of Codeine and Tylenol. Puente told police that the woman was very depressed because her husband was terminally ill. They believed her and judged the incident a suicide.

A few weeks later, the police were back after a 74-year-old pensioner named Malcolm McKenzie accused Puente of drugging and stealing from him. She was convicted of three charges of theft on August 18, 1982, and sentenced to five years in jail. While in jail, she started to correspond with a 77-year-old retiree living in Oregon, named Everson Gillmouth. A pen-pal friendship developed, and when Puente was released in 1985 after serving just three years of her sentence, he was waiting for her in a red 1980 Ford pickup. Their relationship developed quickly, and the couple was soon making wedding plans. They opened a joint bank account and paid $600-a-month rent for the upstairs apartment at 1426 F Street in Sacramento.

In November 1985, Puente hired Ismael Florez to install some wood paneling in her apartment. For his labor and an additional $800, Puente gave him a red 1980 Ford pickup in good condition, which she stated belonged to her boyfriend in Los Angeles who no longer needed it. Dorothea Puente then asked Florez to do one more thing: build a box 6 feet by 3 feet by 2 feet to store "books and other items." She then asked Florez to transport the filled and nailed-shut box to a storage depot. Florez agreed, and Puente joined him. On the way, however, she told him to stop while they were on Garden Highway in Sutter County and dump the box on the river bank in an unofficial household dumping site. Puente told him that the contents of the box were just junk.

On January 1, 1986, a fisherman spotted the box sitting about three feet from the bank of the river and informed police. Investigators found a badly decomposed and unidentifiable body of an elderly man inside. Meanwhile, Puente continued to collect Everson Gillmouth's pension and wrote letters to his family, explaining that the reason he had not contacted them was because he was ill. She also maintained a "room and board" business, taking in 40 new tenants (most of whom were alcoholics and drug addicts). Although she was making a good profit doing this, she wanted more money and therefore started to frequent bars looking for new customers.

Every month, Puente collected all the tenants' mail before they saw it and gave them only a small amount of their money, pocketing the rest
dari wikipedia

Read More ..

Marybeth Tinning


In the first five years of their marriage, the couple had two children, Barbara and James. In December 1971, Tinning gave birth to a third child, Jennifer. Barely a month later, however, Jennifer died in a Schenectady hospital of severe infection, which was diagnosed as meningitis.

On January 20, 1972, Tinning took James, then two years old, to the Ellis Hospital emergency room. She said he had had some type of seizure. The child was kept under observation for a time and, when doctors could not find anything wrong with him, was sent home. Several hours later, Tinning and her son returned to the ER. This time, however, he was dead. She told doctors that she had placed him in bed and returned later to find that he had turned blue, and was tangled in his sheets.

Not six weeks later, Tinning was back at the same emergency room with her daughter, Barbara (4). She said the little girl had gone into convulsions. Though the doctors wanted the child to stay overnight, Tinning insisted on taking her back home. Several hours later, she returned with Barbara, who was unconscious. The child later died from unknown causes. All three of Tinning's children had died within 90 days of each other, a highly unusual occurrence, even if it were Reyes Syndrome or Sudden Infant Death Syndrome (SIDS). Tinning became pregnant with her fourth child the following year.

On Thanksgiving Day 1973, she gave birth to a son, Timothy. On December 10, just three weeks after his birth, Timothy was brought back to the same hospital — dead. Tinning told doctors she found him lifeless in his crib. Again, doctors found nothing medically wrong. His death was listed officially as SIDS.

Two years later, on March 30, 1975 (Easter Sunday), Tinning gave birth to her fifth child, Nathan. On September 2, she showed up at St. Clare's Hospital with the baby in her arms. He was dead. She said she was driving in her car with the baby in the front seat when she noticed that he had stopped breathing. Again, there seemed to be no explanation for his death.

In 1978, the couple made arrangements to adopt a child. That same year, Tinning became pregnant again. The Tinnings did not cancel the adoption and chose to keep both children. In August 1978, they received a baby boy, Michael, from the adoption agency. Two months later, on October 29, she gave birth to her sixth child, Mary Frances. In January 1979, the baby apparently developed some kind of seizure. She rushed Mary Frances to the emergency room, directly across the street from her apartment, and the staff were able to revive her. On February 20, however, Tinning came running into the same hospital with Mary Frances, who was brain dead. Once again, Tinning said she found the baby unconscious and did not know what had happened to her.

Once Mary Frances was buried, Tinning once again became pregnant. On November 19, she gave birth to her seventh child, Jonathan. In March 1980, she showed up at St. Clare's hospital with Jonathan unconscious. Like her last child, he was successfully revived. Due to the family's history, Jonathan was sent to Boston Hospital where he was thoroughly examined. The doctors could find no valid medical reason why the baby simply stopped breathing. Jonathan was sent home. A few days later, Tinning was back at St. Clare's, this time with a brain dead child. Jonathan died on March 24, 1980.

Less than one year later, on the morning of March 2, 1981, Tinning showed up at her pediatrician's office with Michael, her adopted child, then two-and-a-half years old. He was wrapped in a blanket and unconscious. She told the doctor that she could not wake Michael and had no idea what was wrong. When the doctor examined Michael, he was already dead. Since Michael was adopted, the long-suspected theory that the deaths in the Tinning family had a genetic origin was discarded.

On August 22, 1985, Tinning gave birth to her eighth child, Tami Lynne. On December 19, next-door neighbour Cynthia Walter, who was also a practical nurse, went shopping with Tinning and later visited her home. Later that night, Walter received a frantic telephone call from Tinning. When Walter arrived, she found Tami Lynne lying on a changing table. Walter testified that the child was not moving and she could not feel any pulse or breathing. At the emergency room, the baby was pronounced dead.
dari wikipedia

Read More ..

Delphine LaLaurie


Delphine Macarty was born circa 1775 to Barthelmy Louis Macarty and Vevue Lecomte, prominent members of the New Orleans community.[1] Macarty's parents were allegedly killed in a slave uprising. Delphine Macarty's cousin, Augustin de Macarty, was mayor of New Orleans from 1815-1820.

She was first married to Don Ramon de Lopez y Angulo in 1800; he died in Havana, Cuba, on March 26, 1804. In 1808, she married the slave trader Jean Blanque, who died in 1816. Twice widowed, she married physician Dr. Louis LaLaurie on June 25, 1825. The couple bought a mansion at 1140 Royal Street in 1831, where Delphine LaLaurie maintained a central position in the social circles of New Orleans. Although she would throw lavish parties with guest lists consisting of some of the most prominent people in the city, the heinous manner in which Delphine LaLaurie tortured her slaves is probably the most widely known of the French Quarter’s macabre tales.
dari wikipedia

Read More ..

Rosemary West


Rosemary Letts was born in Barnstaple, Devon,[2] to William Andrew and Daisy Gwendoline Letts after a difficult pregnancy. Her mother suffered from depression and was given ECT while pregnant; some have argued that this may have caused prenatal injury to her daughter.[3] Rosemary grew up a moody teenager and performed poorly at school. She had a slight weight problem in adolescence, but this did not prevent the development of sexual precocity and an interest in older men.

Rosemary's parents split up when she was a teenager, while her father was prone to violence and repeatedly sexually abused her. She lived with her mother before moving in with her father around the time she met West at the age of 16. Rosemary's father disapproved of the relationship, threatening to call social services and threatening West directly. However, by 1970, Rosemary found herself pregnant by West and caring for his daughter Anne-Marie (by his previous marriage to Rena Costello).

Rosemary West and her husband were convicted of sexual assault in January 1973. They were fined for indecent assault of Caroline Roberts, who escaped the couple's home after being attacked and reported them to the police. The Wests' typical pattern was to pick up girls from bus stops in and around Gloucester and imprison them in their home for several days before killing them.

She also worked as a prostitute. She was frequently pregnant and was the mother of eight children: Heather Anne (October 1970), Mae (June 1972), Stephen Andrew (August 1973), Tara (December 1977), Louise (November 1978), Barry (June 1980), Rosemarie (April 1982) and Lucyanna (July 1983). Five of these were fathered by Fred West, while Tara, Rosemarie and Lucyanna were fathered by West Indian clients who had used Rosemary as a prostitute.

It is reported that, even after the birth of her fourth child, Rosemary's father would still visit her for sex, and would then have sex with Fred's daughter Anne-Marie
dari wikipedia

Read More ..

Phoolan Devi


Phulan Devi was born into a shudra family, sub-caste of boatmen called mallah[1] in the small village of Gorha ka Purwa, Uttar Pradesh, India. Her mother was Moola. She was the second child in a family of four girls and a boy.

Her family was very poor, but they were not the poorest in the village. Her father had an acre of agricultural land and a huge Neem tree on it. In her biography, Phoolan recalls that she and two of her sisters together could barely encircle the tree's large trunk with their arms. The valuable timber that could be derived from the tree was, effectively, the family's nest egg.

When Phoolan was ten years old, her cousin, Mayadin, became the head of the family and sent some workers to cut down the Neem tree and sell the wood, keeping the proceeds for himself. Her father did not protest, having lived so many years under subjugation and familiar with the futility of protesting. But Phoolan was young, fearless, and headstrong and confronted her cousin.

Despite his efforts to ignore her, she taunted him, publicly called him a thief, and her older sister and she staged a sit-in on his land. Eventually, Mayadin lost his patience and hit Phoolan with a brick, knocking her out. However, she continued to harass Mayadin, demanding justice. In an effort to rid himself of the little nuisance, Mayadin arranged to have her married to a man named Putti Lal, who lived several hundred miles away. Putti Lal was in his thirties; Phoolan was eleven.[2] According to an autobiography written with the help of Marie-Therese Cuny, first published in France by FIXOT in 2001, Devi said she was married to a man with a very bad character when she was only 11.

There are conflicting reports as to the events of Phoolan's life after this point.

Since she was so young, she could have had no idea what to expect of marriage or was expected of a wife.

Some accounts say that she feared her husband and refused to live with him. He was already married, so Phoolan was relegated to household labour. Miserable, she ran away to her village, much to the horror of her family. In the day, it was believed a wife simply cannot leave her husband. Phoolan's mother, Moola, was so ashamed that she told her daughter to go to jump in a well and kill herself.

Other accounts say her husband raped and mistreated her, according to this account she did not know what was happening, and she thought he was trying to kill her. Further claiming she became seriously ill and her father came to take her to the hospital. Her parents publicly declared the marriage ended in front of the villagers. She did not see her husband for two years, until she was 13. This account claims he then came and took her back to his house where he was living with his “second wife”, an older woman with a character as bad as his. The “second wife” beat Phoolan and treated her like a slave, restricted Phoolan's food, and made her sleep with cowshed. Eventually, the husband decided to take Phoolan back to her village and family.

However it came about that Phoolan's marriage ended, she was marked for life nonetheless. Rejected by her village and family, she had no place in society.

In time, Phoolan rejected her family's condemnations and continued to challenge Mayadin. She took him to court for unlawfully holding her father's land. Even during court proceedings, she seldom controlled her emotions, and her dramatic outbursts often left the courtroom stunned.

In 1979, Mayadin accused Phoolan of stealing from his house. Though she denied the accusation, the police arrested her anyway. In those three days in jail, she was beaten and raped repeatedly, then left in a rat-infested cell. She knew that her cousin was behind this injustice. The experience broke her body but ignited her hatred for men who routinely denigrated women.

When she returned to her village, she was shunned. She realised society could do nothing worse to her then what she had already experienced and became fearless and thus began the rebellion.
from wikipedia

Read More ..

Elena Ceauşescu


She was born Elena Petrescu into a peasant family in the village of Petreşti, Baloteşti commune, Ilfov County, in the informal region of Wallachia. Her family was supported by her father's job as a ploughman. Elena's education ended at the fourth grade and she moved along with her brother to Bucharest, where she worked as a laboratory assistant before getting a job at a textile factory. She joined the Communist Party of Romania in 1937 and met 21-year-old Nicolae Ceauşescu in 1939.

They married on December 23, 1947. On their wedding day she forged her birth certificate (her birth year was changed from 1916 to 1919 in order to make her look younger than her husband Nicolae, who was two years her junior

from wikipedia

Read More ..

Daftar Wanita 10 Terkejam Di dunia

ini dia Daftar Wanita Terkejam Di Dunia dari jumlah korbannya :

1.Jiang Qing 1914 - 1991 (Korban : 500.000 lebih)
Jiang Qing adalah istri dari Mao Tse-Dong seorang dictator komunis di China. Karena kepintarannya menyusun gerakan dia mendapatkan posisi yang paling berkuasa didalam partai komunis (berkuasa seperti Presiden). Dipercaya bahwa dialah otak dibalik Revolusi Budaya Cina (dimana dia menjadi wakil pemimpin). Jutaan orang di Cina dilaporkan mengalami penyiksaan hak-hak asasi selama Revolusi Budaya. Jutaan lainnya juga pemecatan secara paksa. Perkiraan korban kematian, orang sipil dan pasukan merah, baik dari orang barat dan orang timur sekitar 500.000 dalam kekacaubalauan pada tahun 1966-1969 tetapi perkiraan tersebut naik lagi menjadi 3 juta dari 36 juta orang yang dianiaya.


2. Elizabeth I of England 1533 - 1603 (Korban : ribuan orang)
Elizabeth I, dalam perintah untuk menindas paham Katolik, ribuan penganut Katolik di Inggris dan Irlandia dibunuh. Selama dia melakukan hal-hal baik untuk kehormatan parlemen, dia juga merupakan raja yang kejam. Sebagai tambahan, Elizabeth memberikan Queen Mary of Scots tempat perlindungan, lalu tiba-tiba mengkhianatinya dan meletakkan dia didalam penjara selama hamper 19tahun, lalu membunuh dia. Dia menganjurkan perompakan melawan kapal-kapal Spanyol dan mendukung penukaran budak.


3. Elena Ceauşescu 1916 - 1989 (Korban : pemusnahan bangsa)
Elena Ceauşescu merupakan orang Rumania yang menyatakan diri sebagai ilmuwan, istri dari pimpinan komunis Romania Nicolae Ceauşescu, dan wakil perdana menteri Romania. Romania menyatakan bahwa Elena Ceauşescu bertanggungjawab atas pembebasan dari kontrol kelahiran yang menciptakan kondisi krisis selama tahun 1970-1980an, menghasilkan membanjirnya bayi yang tidak diinginkan. Bayi-bayi, dan anak-anak tersebut akhirnya tinggal di tempat yatim piatu. Dia juga mengepalai komisi kesehatan lingkungan, dimana dia menyangkal adanya AIDS di Rumania, yang merupakan salah satu kasus paling besar didunia barat. Dia juga bertanggungjawab atas kehancuran gereja-gereja dan pendistribusian makanan yang pada tahun 1980an terletak di Rumania. Dia akhirnya dieksekusi atas kejahatannya yang melawan kemanusiaan dan pengeksekusinya meneriakkan “pergilah ke neraka” ketika menghukumnya.


4. Phoolan Devi 1963 - 2001 (Korban : 22 orang lebih)
Phoolan Devi adalan dacoit India (perampok bersenjata) yang mempunyai karir singkat sebagai politican nantinya. Pada 1970an dia diculik oleh dacoit gank dan dia akhirnya bergabung dengan mereka untuk melakukan kejahatan. Pada satu saat dia diperkosa oleh grup laki-laki di Behmai. Dia memilih untuk lari dan melanjutkan hidupnya untuk melakukan kejahatan, merampok dari orang-orang kaya. Lalu dia akhirnya kembali ke Behmai dan dia memerintahkan semua laki-laki untuk berbaris dan menembak mereka semua. Paling tidak sekitar 22 laki-laki terbunuh. Lalu dia akhirnya ditangkap dan menghabiskan 11 tahun penjara. Dia masuk kedalam dunia politik, tetapi hanya dalam waktu yang singkat karena adanya pemberontakkan. Secara mengejutkan, tahun 1998, Phoolan Devi dinominasikan untuk mendapatkan penghargaan Nobel oleh beberapa anggota parkemen Inggris. Pada tahun 2001, dia dibunuh oleh seorang laki-laki dalam usaha balas dendam atas pembunuhan yang ia lakukan di Behmai.


5. Rosemary West 1953 (Korban : 12 orang lebih)
Bersama suaminya Fred, Rosemary West dipercaya telah menyiksa dan membunuh 12 wanita muda. Pada agustus 1992 Fred West ditangkap setelah tertuduh memperkosa anaknya yang berumur 13 tahun sebanyak 3 kali, dan Rosemary West ditangkap atas kekejaman terhadap anak. West mengembangkan kebiasaan untuk mengambil anak-anak perempuan dari pemberhentian bus disekitar Gloucester, Inggris dan memenjarakan mereka dirumah mereka untuk beberapa hari sebelum membunuhnya. West mempunyai nafsu seksual yang besar sekali dan menikmati perbudakan ekstrem dan seksual sadomasocithistic. Rosemary adalah seorang biseksual dan banyak korban-korban mereka untuk kepuasan seks dia dan suaminya. West juga bekerja sebagai pelacur.

6. Delphine LaLaurie 1775 - 1842 (Korban : 10 orang lebih)
LaLaurie adalah kaum socialite yang kejam yang tinggal di New Orleans. Rumahnya adalah ruangan yang penuh dengan horror. Pada 10 April 1834, kebakaran terjadi di dapur dan pemadam kebakaran menemukan 2 budak yang dirantai pada kompor, dimana diyakini merekalah yang memacu kebakaran untuk mendapatkan perhatian. Pemadam kebakaran dipandu oleh budak yang lain menuju keloteng dimana terdapat hal yang lebih mengejutkan. Lebih dari satu dosin budak cacat dan buntung terbelenggu di tembok atau lantai. Beberapa menjadi subjek untuk percobaan obat yang mengerikan. Seorang laki-laki terlihat sebagai bagian pertukaran seks yang ganjil, seorang wanita terjebak di kandang yang kecil dengan lengannya yang rusak dan terlihat seperti kepiting, dan wanita lainnya tanpa tangan dan kaki, dan adanya tambalan daging pada dirinya agar terlihat seperti ulat bulu. Beberapa mulutnya dijahit dan kelaparan sampai mati, yang lainnya lagi tangannya dijahit dengan bagian badan yang lainnya. Kebanyakan ditemukan mati, tetapi beberapa masih hidup dan beberapa memohon untuk dibunuh agar tidak menderita lagi. LaLaurie lari sebelum dia diadili dan dia tidak pernah tertangkap.

7. Marybeth Tinning 1942 (Korban : 9 orang)
Antara tahun 1972 dan 1985, Tinning mempunyai 8 anak, dimana semuanya ia bunuh, dan anak adposi yang dia bunuh juga. Selama waktu kematian, tidak ada satupun yang curiga bahwa dia membunuh mereka, dan justru menyalahkan kelainan genetic. Hal ini terjadi walaupun anak adopsinya adalah anak ketujuh yang dibunuh. Dia mengaku bahwa dia mencekik anak-anaknya, tetapi kemudian dia menarik kembali pengakuan itu. Dia dihukum 20 tahun penjara, dan kedua permintaan pembebasan bersyarat ditolak.

8. Dorothea Puente 1929 (Korban : 9 orang)
Dorothy Puente adalah wanita tua yang menjalankan usaha rumah kos. Selama dia menjalankan usaha ini, dia pelan-pelan membunuh orang-orang yang tinggal bersamanya dan memalsukan tanda tangan mereka untuk pemeriksaan keamanan. Dia tidak mengijinkan penyewa-penyewa itu untuk menggunakan telepon atau surat. Dia akan mengambil semua uang yang dikirim untuk para penyewa itu dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Para korbannya biasanya sedang mabuk, dan menderita schizophrenia. Salah satu mayat yang ditemukan dikebun belakang, ditemukan tanpa kepala, lengan, dan kaki. Uang yang dia curi, dia pakai untuk pakaian-pakaian mewah, parfum dan operasi pengencangan kulit muka sesaat sebelum dia tertangkap. Puente tidak memperlihatkan penyesalan yang dalam atas kejahatan yang dia lakukan dan saat ini dia berada dipenjara dengan hukuman seumur hidup.

9. Karla Homolka 1970 Korban : 3 (diduga ada 5 orang lainnya)
Karla Homolka adalah pembunuh serial dari Kanada yang menarik perhatian media diseluruh dunia ketika dihukum karena membantu suaminya, Paul Bernardo untuk memperkosa dan membunuh gadis-gadis remaja, termasuk juga adiknya sendiri Tammy Homolka. Karla merekam kebrutalan dan pembunuhan gadis muda yang dilakukan oleh suaminya, rekeman video ini digunakan untuk melawan mereka dipengadilan dan beberapa bagian dapat disaksikan diinternet walaupun pemerintah Kanada meminta agar video itu dihapuskan. Yang lebih mengejutkan lagi, Homolka dibebaskan dari penjara pada tahun 2005 setelah hanya dihukum 12 tahun dan sekarang hidup di West Indies.


10. Williamina “Minnie” Dean 1844 - 1895 (Korban: 3 orang)
Minnie Dean adalah satu-satunya wanita yang dieksekusi dalam sejarah Selandia Baru. Dia dieksekusi dengan digantung. Berkedok menyelamatkan gadis muda yang miskin, wanita iblis ini membunuh anak mereka dan mengambil uang mereka untuk meningkatkan gaya hidupnya. Pada waktu itu, wanita muda yang hamil tanpa suami dijauhi oleh masyarakat. Hal ini memunculkan suatu kejadian phenomena yang disebut “baby farming” dimana orang akan mengajukan diri untuk mengambil anak mereka dan membesarkan mereka dengan gaji dari pemerintah. Dean adalah salah satu orang tua asuh, tetapi daripada membesarkan anak-anak itu, dia justru membunuh mereka ketika ada kesempatan dan mengambil gaji itu. Hal ini sangat memungkinkan dilakukan karena orang tua adopsi tidak harus mendaftar sesuai hukum. Dalam banyak kasus, anak-anak itu lenyap di rumah para orang tua asuh ini. Dean membunuh paling tidak 3 anak tetapi banyak orang yang menduga dia membunuh lebih dari itu. Saat ini, tulang dari 3 anak itu disimpan didalam museum pribadi polisi Selandia Baru.
http://pondok-cerita.blogspot.com

Read More ..

Jumat, 08 Mei 2009

Codex Gigas : Alkitab iblis






Codex gigas atau buku raksasa adalah sebuah manuskrip abad pertengahan dengan ukuran terbesar yang masih ada. Buku ini ditulis pada awal abad ke-13 di biara ordo benediktus di podlazice di Bohemia.

Saat ini buku tersebut tersimpan di Swedish Royal Library di Stockholm. Dibutuhkan tenaga dua pustakawan untuk mengangkat buku tersebut. Buku ini sering juga disebut “alkitab iblis” karena adanya sebuah ilustrasi ukuran besar bergambar setan didalamnya.

Kodeks tersebut ditaruh disebuah tempat yang terbuat dari kayu, dilapisi dengan kulit dan dihias dengan logam. Tingginya 92 cm, lebarnya 50 cm dan memiliki tebal 22 cm.

Pada mulanya, kodeks itu memiliki 320 lembar naskah. Namun 8 lembar darinya dibuang. Tidak diketahui siapa yang membuang 8 lembar tersebut dan untuk tujuan apa.

Ada dugaan 8 lembar yang dibuang kemungkinan berisi aturan-aturan biara ordo benediktus. Berat kodeks tersebut hampir mencapai 75 kg. Lembaran yang digunakan untuk menulis kodeks ini adalah kulit yang berasal dari 160 ekor anak sapi.

Biara tempat kodeks ini dibuat dihancurkan pada abad ke-15. Catatan yang ada pada kodeks menunjukkan bahwa pembuatan kodeks tersebut adalah sekitar tahun 1229 M.

Setelah penulisannya, kodeks ini kemudian dipindahkan ke Biara Cistercians Sedlec dan akhirnya dibeli oleh Biara benediktus di Byoevnov. Dari tahun 1477-1593, kodeks ini disimpan di perpustakaan di Broumov sampai akhirnya dibawa ke Praha pada tahun 1594 untuk menjadi bagian dari koleksi Rudolf II. Pada tanggal 24 September 2007, Codex gigas dibawa kembali ke Praha setelah 359 tahun.

Isi dari kodeks ini adalah “a sum of the Benedictine order’s knowledge”, “The War of the jews” tulisan Josephus, daftar para orang kudus, metode untuk menentukan tanggal perayaan paskah, seluruh alkitab bahasa latin pre-vulgate, Isidore of Seville’s encyclopedia Etymologiae, Cosmas of Prague’s Chronicle of Bohemia, berbagai macam traktat (dari sejarah, etimologi dan fisiologi), sebuah kalender dengan nekrologium, daftar nama para biarawan di biara Podlaice, formula-formula ajaib dan catatan-catatan lain.

Seluruh isi kodeks ini ditulis dalam bahasa latin. Manuskrip ini juga dihiasi dengan warna-warna seperti merah, biru, kuning, hijau dan emas. Seluruh huruf besar diberi warna yang mencolok.

Yang luar biasa adalah keseluruhan isi kodeks ini ditulis dengan relevansi yang luar biasa antar halaman. Yang berarti bahwa buku ini ditulis oleh satu orang dengan pikiran yang berkesinambungan. Hal ini membuat banyak ahli percaya bahwa keseluruhan kodeks ini ditulis dalam waktu yang sangat singkat.

Pada halaman 290, terdapat sebuah gambar Iblis dengan tinggi sekitar 50 cm. Beberapa halaman sebelum gambar ini ditulis pada lembaran kulit yang menghitam dan dibuat dengan karakter yang gelap, yang membuatnya berbeda dengan keseluruhan isi kodeks.

Menurut Legenda, penulis kodeks itu adalah seorang biarawan yang melanggar aturan biara dan dihukum dengan diikat di dinding dalam posisi berdiri seumur hidup. Biarawan ini memohon ampunan dari penghukuman yang luar biasa kejam itu.

Sebagai gantinya ia berjanji untuk membuat sebuah buku yang akan memuliakan biara dan pengetahuan umat manusia selamanya, dan ia berjanji menyelesaikannya hanya dalam satu malam.

Menjelang tengah malam, biarawan itu menjadi ragu apakah ia dapat menyelesaikannya sendiri. Jadi ia menjual jiwanya kepada iblis demi sebuah pertolongan. Iblis kemudian menyelesaikan manuskrip tersebut.

Sebagai penghormatan kepada iblis yang membantunya, biarawan itu menambahkan gambar iblis ke dalam kodeks tersebut. Walaupun adanya legenda yang melibatkan iblis, pada zaman inkuisisi, kodeks ini tetap disimpan oleh biara dan dipelajari oleh banyak cendikiawan sampai hari ini.
from : http://xfile-enigma.blogspot.com/2009/03/codex-gigas-alkitab-iblis.html

Read More ..

Daftar Penjara Paling kejam dan sadis

1. Carandiru Prison: (Brasil)
Penjara ini sempat menghebohkan Brasil juga dunia ketika peca kerusuhan besar di penjara tersebut tahun 1992. Tragedi pembantaian masal yang melibatkan polisi setempat. Ratusan korban berjatuhan, 103 (ada yg menyebut 111 napi) di antaranya tewas terbunuh. Tragedi Caradiru bermula dari meletusnya perang ‘antar gank’ di penjara tersebut, yang melebar hingga melibatkan banyak narapidana. Polisi kemudian mendatangkan bala bantuan. Sebenarnya saat itu banyak napi telah menyerah dengan melemparkan senjata mereka . mereka meminta perlindungan polisi. Namun dijawab polisi dengan menembaki mereka.

Perlakuan brutal dari pihak kepolisian memicu protes di mana-mana, tak terkecuali Amnesty Internasional yang mengkampanyekan penjara tersebut ditutup tahun 2002. Amnesty Internasional melaporkan telah terjadi pelanggaran hak-hak azasi manusia di sana yang tak bisas ditelerir lagi. Bukan itu saja fasilitas penjara juga sedemikian buruk sehingga menyebarkan penyakit mematikan.

Pada masa itu Kepala Kepolisian Metropolitan Sao Paulo adalah Ubiratan Guimaraes, dia dianggap orang yang paling bertanggungjawab meletusnya tragedy ini. Kasus yang menimbulkan kemarahan dunia ini membawa Guimaraes ke kursi pesakitan. Ia sempat diadili dengan tuduhan pembunuhan terhadap 102 orang. Namun Pengadilan kemudian membebaskan Guimaraes karena yg bersangkutan mengatakan polisi melakukan itu karena ditembaki. Pemerintah Brasil menganggap bahwa tragedy itu terjadi bukan tanggung jawab pihak kepolisian.
2. Bang Kwang Prison (Thailand)

3. ADX Florence Supermax Prison: (Colorado)
Penjara ini dibangun sebagai respon atas serangan terhadap para sipir dan staf yang terjadi di penjara lain di Amerika. Di penjara ini menerapkan maximum security untuk mencegah terjadinya serangan para napi terhadap sipir ataupun staf penjara. Karenanya para napi diisolasi dari staf penjara. Para napi mengalami penyiksaaan psikologis karena selama 23 jam hanya dihabiskan diselnya. mereka tak bisa kemana mana.

Menjadi narapida di ADX adalah suatu mimpi buruk tak tak terlupakan bagi mereka. Di sasna mereka menerima kondisi paling jelek dari yg terjelek. Karenanya mereka yg masuk ke sini adalah para penjahat kelas kakap termasuk yg telah berkali-kali masuk penjara. Di sinilah ‘neraka’ penjara yg bisa mengakibatkan derita seumur hidup.

Selama 13 tahun beroperasi, dua orang tawanan dikabarkan mati terbunuh di ADX Florence. Salah satunya Lawrence Klaker. Ada yg menyebut dia mati ditembak, tp ada juga yg bilang bunuh diri.


4. Alcatraz Island Prison: (San Francisco, CA)

5.San Quentin Prison: (San Quentin, California)
Tahun 1930′a an, pengelolaan penjara ini sarat dengan korupsi, sampai akhirnya muncul direktur baru Clinton Truman Duffy yg melihat kondisi tak manusiawi dari penjara ini, memutuskan melakukan perbaian di tahun 1940 an. Tapi sebelum masuknya direktur baru, penjara ini dikenal sangat tidak manusiawi memperlakukan para napi. Kepala mereka dibotaki dan dipaksa memakai seragam yg diberi nomor, mereka makan dengan wadah ember2. Menghuni sel sempit tanpa diberi lampu.

Di sini nyawa tidak ada harganya. Kerusuhan antar ras kerap terjadi.Rasio antara penjaga penjara dan napi tidak sebanding, itu sebabnya banyak hal terjadi diluar kontrol.
6. Diyarbakr Prison: (Turki)
Penjara ini disebut sebagai penjara terkejam di turki di mana segala kebrutalan dan kesadisan begitu lumrah terjadi. Dari 1981 sampai 1984, 34 orang tawanan tewas karena penyiksaan berlebihan, baik jiwa maupun fisiknya. Belum lagi kasus penyimpangan seksual yg merajalela.

Para napi sebenarnya telah melakukan protes terhadp pengelolaan penjara. Mereka melakukan mogok makan, bahkan membakar diri sendiri sebagai bentuk protes. Namunn tdk berhasil. Fasilitas penjara ini ’sangat mengerikan’ jauh dari standar. Di sini pernah terjadi peristiwa menggerkan di mana anak-anak dijebloskan di sini dan mendapat hukuman penjara seumur hidup. Kejahatan terhadap kemanusian sepertinya menjadi peristiwa biasa saja. Tak heran penjara ini masuk dalam saslah sastu penjara yg paling menyeramkan di dunia.


8. La Sante Prison: (Paris, Perancis)
Seperti penjara ‘maut’ lainnya, di sini pun nyawa manusia tak berharga. perlakuan brutal merajalela. Kesewenangan pengelola penjara membuat kehidupan napi benar benar tidak berharga. Banyak napi akhirnya menjadi gila. Sel-sel penjara yg penuh kutu dan tikus, semakin membuat napi stress.

Sungguh ironis dengan arti kata ‘ La Sante’ yg berarti health (kesehatan) dalam bahasa Inggris. Karena pada kenyataannya hidup di sana sungguh tdk sehat. Perbudakan antar sipir ke napi, napi ke sesama napi, sudah menjadi biasa. Kasus perkosaan antar sesama napi sangat tinggi dan terjadi setiap hari. Tak heran kalo banyak napi tak tahan akhirnya bunuh diri, atau menjadi gila. Sepanjang tahun 2002 dikabarkan terjadi 122 kasus bunuh diri napi. Disusul 73 napi pada pertengahan 2003.

Kecenderungan bunuh diri ini kemungkinan karena kondisi hidup yang mengerikan di sana. Penjara yg terlalu padat, fasilitas minim, serta aneka kekerasan yg terjadi di sana, diduga sebagai pemicu tindakan bunuh diri.
9. Rikers Island Prison: (Rikers Island, New York)
Penyiksaan brutal membuat penjara ini begitu dikenal di amerika. Pada 2007, tawanan Charles Afflic mengalami penyiksaan yg berlebihan dari penjaga penjara sehingga harus menjalani pembedahan otak. Sebanyak 6 napi bunuh diri di selnya krn tak tahan dgn suasana penjara yg menekan, pada 2003.


10. Tadmor Prison: (Suriah)
Kematian di penjara ini seperti tak terhitung banyaknya. Kekerasan di Tadmor begitu mengerikan dan benar-benar tak kenal ampun. Seorang mantan napi Tadmor menggambarkan penjara ini sebagai kerajaan maut dan kegilaan mengerikan

Tadmor memiliki penjaga haus darah, narapidana penjagal,dan tawanan politik. Pada 1980, sesudah percobaan pembunuhan pada Presiden (di Damaskus), narapidana terpaksa membayar mahal. Para perajurit penyerang penjara, mereka menggunakan halicopter dan mendarat di Tadmor. Para prajurit ini membatai 500 orang tawanan di sel mereka. Para napi ini mati mengenaskan, tidak dapat menyelamatkan diri karena para sipir merantai kaki mereka di sel.

from : http://www.acehforum.or.id/10-penjara-paling-t20896.html?s=6fce8e236bb8bebd8e743d81e2bcf223&t=20896
Bookmark and Share

Read More ..

Ikan terbuas dan Paling menakutkan

1. Piranha poisson
Bien que ces poissons se trouvent dans de nombreux films d'horreur de l'homme, mais dans le monde réel de poissons sont en effet violente et effrayante. Les rangées de dents en dents de netteté compact et connectés les uns avec les autres.

Teeth-dents qui est parfaitement conçu pour bondir et déchirer la chair déchirée rapidement lorsque ce poisson a un appétit vorace. Si vous avez faim et il n'y a pas d'autres choix de poissons est également agressif envers leur propre genre et le cannibalisme.

Bien que le piranha chasse en proie à une cruelle et très teroganisir, lorsque la défense est aussi certains poissons mangent les plantes comme l'herbe. La recherche suggère également que ce comportement des poissons a formé un grand groupe comme pertahanannya contre les prédateurs tels que les crocodiles et les dauphins d'eau douce ainsi que d'une stratégie de memangsanya.

Bien que seulement les poissons - mai-vous être plus approprié memandangnya une amende de plus de dîner vice versa -, vous ne serez pas au sérieux nyemplung en Amazonie avec les pieds nus d'inviter pencabik la viande. Vous mai doit être la même dans l'alimentation animale, mais ce sera un guide-bande et à la déchirure, sans attendre une deuxième invitation. Waks! Sereem ...
2. Baudroie

Il n'y a pas de poisson dans la seseram ce, suspendue dans la profondeur de la mer, Baudroie. Loin de se cacher dans les profondeurs de l'océan, le poisson est dite (baudroie poisson = pêcheur), parce que je capture des proies à l'aide d'une unique partie du corps en saillie sur sa tête qui est semblable à l'hameçon trace.

Ajaibnya en mesure de délivrer une bioluminescentes lumière qui provient de la bactérie lumineuse jutaaan joint là. Ceci est très intéressant mangsanya de l'approche et de toucher les «appât», la Anglefish akan langsung melahapnya réagir rapidement.
3. Moray Eel (Moray anguille)
N'est-ce pas ce type peuvent être trouvés dans le monde entier avant-première dans le milieu ou retakan reef - où il a attendu par mangsanya et menyergapnya avec rahangnya forte.

C'est effrayant Karnivora mangeur animaux animaux marins peuvent également conduire à des blessures, même en l'homme qui est trop près de lui. Il semble que vous ne pouvez pas atteindre cette longueur de 13 pi plutôt que d'éviter l'attaque, attaque l'homme, et seulement pour se défendre ou accidentellement un coup de main parce que dikira alimentaire.

Lorsque le sentiment troublé, cette créature est un prédateur, et les bactéries qui se trouvent sur les dents, les dents qui peuvent causer des blessures graves. Chez certaines espèces, le mucus dans la peau contient aussi des poisons.
4. Tigerfish (Macan Fish)
Est compatible avec le nom, ce poisson a une vitesse supérieure à dents, de sorte que dans la bouche. Ce poisson est connu comme un cercle et prédateur vorace et le type de dewasanya peut atteindre 6 m de long.

Son corps est comme faite pour la vitesse et de puissance. Véhicules tels que les couches d'acier fin avec un fort et toujours prêt à bondir, même si la bouche est fermée. Le poisson est souvent utilisé comme même un jeu (jeu) de pêche avec le grand prix.

Ce poisson peut être trouvé dans l'eau douce en Afrique. Les poissons sont sur le chemin à travers rahangnya akan diterkam-fort et des dents des dents comme un piranha. Le poisson est également connu capable memangsa que la taille des poissons est plus grand que lui-même.

La recherche a également prudente des espèces de poissons Goliath Tigerfish par la National Geographic décrit comme "l'évolution sur les stéroïdes." Liat aja suwereeeeeem dents. . .
5. Dragonfish

Les histoires d'horreur dans la mer est toujours en cours, et les poissons Dragonfish est connu comme le grand la bouche et les dents sont semblables taringnya intimidant. Sa tête, comme tous remplis seulement les yeux et la mâchoire.

Suppression de la lumière et de belles possibilités d'attirer mangsanya, comme crochet comme la tige Baudroie. Bien que quelques belles comme la belle lumière que le poisson est encore classé comme un terrible prédateur et proie doit être évitée.

from http://priendah.wordpress.com/2009/05/06/5-ikan-terbuah-dan-menakutkan

Read More ..

Jerman, Heboh Buku Kanibal

Ini kisah tentang IT-specialist yang super – super edan. Edan koyo uwong sing ngga nduwe udel ( edan seperti manusia yang tidak punya udel ). Coba bayangkan sendiri. Yang namanya orang dating, biasanya khan mau cari gacoan. Syukur – syukur kalo bisa dijadiin jodoh beneran.

IT-specialist asal Jerman yang bernama Armin Meiwes, ternyata melakukan dating dengan tujuan yang super nyleneh bin edan ! Dia pasang advertensi di internet, nyari orang yang mau dimakan !!!!

Lha edannya, kok ada orang yang menawarkan diri untuk dimakan oleh Pak Armin Meiwes ini. Katakanlah, minta dimakan secara sukarela. Kasus ini terjadi pada tahun 2001.

Kisah nyata ini sudah sudah diangkat dalam bentuk film dengan judul Rohtenburg, titel dalam bahasa Inggris A Grimm Love Story. Film tersebut dilarang beredar di Jerman, namun mendapatkan penghargaan di negara Spanyol.

Kini negara Jerman sedang heboh dengan berita munculnya kasus Armin Meiwes yang diterbitkan dalam bentuk buku. Banyak yang mengatakan, bahwa buku tersebut dimungkinkan menjadi bestseller.

Berita yang DD baca dari http://www.nieuwsblad.be adalah sebagai berikut :

Buku berjudul Abendmahl der M’o'rder atau Avondmaal van de moordenar ( makan sore seorang pembunuh ) akan muncul minggu depan di negara Jerman. Buku yang dijamin akan menjadi buku bestseller.

Buku yang ditulis oleh seorang Patholog ( Manfred Risse ), merupakan laporan pertama dari saksi mata, tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Armin Meiwes ( kanibal asal Rotenburg ) terhadap Bern Juergen Brandes.

Armin mengadakan kontak lewat internet pertama kali dengan korbannya pada tahun 2001. Brandes menyetujui pertemuan tersebut, yang memang dimaksudkan untuk dibunuh dan dimakan. Armin Meiwes memfilmkan seluruh jalannya proses mengerikan ini.

Kata Cator merupakan nama samaran korbannya saat mengadakan kontak lewat internet. Ditemukan sejumlah 30 bungkusan daging manusia didalam lemari es, yang disertai lebel disetiap bungkusnya.

Melihat film tersebut, merupakan pengalaman yang paling – paling mengerikan, menurut Manfred Risse. Risse menggambarkan, bagaimana sang korban ( Bernd Jurgen Brandes ) meminta kepada Armin agar memotong penisnya, supaya mereka bisa makan penis tersebut bersama – sama pakai bawang putih.

Setelah adegan makan penis bersama ( digoreng dulu ), Armin yang belepotan darah tersebut masih mengeluarkan sendau gurau. Jika sampai keesokan pagi korbannya tidak juga mati, maka dia bermaksud mengiris biji kemaluan korban untuk digoreng, dan dijadikan sarapan pagi bersama ( Menurut istilah bahasa Jerman, diibaratkan dengan gorengan telor ).

Manfred seorang Patholog setelah melihat film mengerikan tersebut, harus membuat kesimpulan, apakah korban masih hidup, disaat Armin Meiwes menggorok leher korban tersebut. Ternyata jawabannya, YA. Korban pada saat itu masih hidup !!!!

************************

Tambahan informasi :

Hingga kini kasus ini masih banyak diperbincangkan di berbagai media di negara Jerman. Minggu depan muncul buku Abendmahl der m’o'rder, juga diadakan interviews dengan Armin Meiwes. Film dokumenter sedang disusun.

Pada sidang pertama, Armin dijatuhi hukuman 8, 5 tahun. Hanya dengan dakwaan melakukan pembunuhan. Tetapi jaksa mengadakan naik banding. Dan setelah melalui sidang dipengadilan yang lebih tinggi, Armin Meiwes akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

from http://www.nieuwsblad.be.

Read More ..