Tampilkan postingan dengan label Perang Besar Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang Besar Dunia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 November 2009

perang berdarah etnis serbia dengan Muslim Bosnia

perang berdarah etnis serbia dengan Muslim Bosnia

Situasi politik yang tegang, pernyataan-pernyataan para anggota pimpinan ketiga golongan etnis yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dari hari ke hari makin mempertegang situasi, namun keadaan masih tetap dibawah kontrol. Api perang tersulut, konflik bersenjata tidak terhindarkan lagi setelah terjadi pembunuhan terhadap seorang etnis Serbia yang sedang menikahkan putranya tanggal 30 Maret 1992 di pusat kota Sarajevo.

Bosnian war header.no.pngPada saat acara pernikahan gereja selesai dan iring-iringan sedang menuju tempat parkir kendaraan di depan gereja, pada saat itu beberapa tembakan telah dilepaskan ke arah iring-iringan mempelai tersebut yang menewaskan ayah mempelai putra dan melukai pendeta yang memberkahi perknikahan tersebut. Dalam kejadian tersebut bendera/panji-panji bangsa Serbia yang dibawa salah seorang rombongan dirampas dan dikoyak-koyak oleh si penyerang yang berhasil melarikan diri.

Akan tetapi hari berikutnya si penyerang berhasil ditangkap dan ternyata adalah dari etnis Muslim Bosnia. Situasi tersebut telah mengakibatkan ketegangan di kalangan penduduk. Pasukan-pasukan Angkatan Bersenjata Yugoslavia mencoba bertindak sebagai penengah, namun, tidak berhasil, malah pos-pos dan tangsi-tangsi Angkatan Bersenjata Yugoslavia di blokade, rintangan-rintangan jalanan dipasang oleh fihak Muslim dan Kroasia yang semenjak semula sudah membentuk koalisi Serbia dan Angkatan Bersenjata Yugoslavia, skenario yang terjadi di Slovenia dan Kroasia terulang, peperangan sporadis, pecah dimana-mana.

Klimaks konflik terjadi setelah Masyarakat Eropa dan AS mengakui Bosnia Herzegovina sebagai negara merdeka dan berdaulat. Hal ini telah mendorong pimpinan Bosnia-Herzegovina yang terdiri dari etnis Muslim & Kroat menuduh etnis Serbia Bosnia yang sebagai "agresor" terhadap negara merdeka dan berdaulat Republik Bosnia Herzegovina. Pertempuran antara pihak Serbia Bosnia dengan Muslim Bosnia berkecamuk kembali terutama di wilayah Sarajevo, wilayah utara Bosnia Herzegovina dan wilayah bagian timur Bosnia Herzegovina.

Pertempuran sengit yang masih terus berlanjut antara pasukan Muslim Bosnia dengan Serbia Bosnia adalah pertempuran untuk memperebutkan tempat strategis di Foca (suatu kota di wilayah bagian selatan Sarajevo yang menghubungkan garis logistik pasukan Muslim dari Bosnia Timur ke Sarajevo) dan perebutan titik kuat di bukit Jablanica dan bukit Igman yang terletak dipinggiran kota Sarajevo. Dari tempat-tempat strategis tersebut diatas akan dapat menguasai Sarajevo secara keseluruhan. Pertempuran yang terus berlanjut antara Muslim Bosnia Herzegovina dengan Serbia Bosnia Herzegovina di Sarajevo tersebut menjadikan perundingan penyelesaian krisis di Bosnia Herzegovina diantara Faksi-Faksi yang bertikai di Jenewa menjadi tertunda.

http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Bosnia

Read More ..

Senin, 31 Agustus 2009

Vietnam-Kekalahan Terbesar AS Dalam Sejarah

Perang Vietnam adalah Kekalahan Terbesar Amerika Dalam Sejarah..

Mungkin benar bahwa dalam Perang Vietnam yang berlangsung dari tahun 1959 sampai jatuhnya Saigon tahun 1975, tentara Amerika selalu menang dalam setiap pertempuran besar melawan pasukan Vietnam Utara dan Viet Cong. Namun tragisnya, kesudahan perangnya menunjukkan Amerika lah yang justru mengalamai kekalahan perang terbesar sepanjang sejarahnya. Mengapa tragedi seperti itu dapat terjadi?

Seorang Pendeta Budha memprotes perang Vietnam
Seorang Pendeta Budha memprotes perang Vietnam

menurut latar belakang sejarah yang mengantar terjadinya Perang Vietnam. Kenyataan menunjukkan, sebelum AS mchbatkan diri dalam perang di Asia Tenggara ini, orang Amerika dari rakyatnya hingga para ilmuwan, kaum militer, dan para politisinya, praktis sama sekali tidak mengenal Vietnam. Perhatian dan pengetahuan mereka tentang negeri itu, termasuk kondisi fisik, sejarah, dan kultur rakyatnya, adalah nol besar!

http://sejarahperang.wordpress.com/category/vietnam-war/

Read More ..

Sabtu, 29 Agustus 2009

Serangan Udara Jepang Ke Pearl Harbor

Serangan Udara Jepang Ke Pearl Harbor

, 7 Desember 1941, adalah hari paling kelabu sejarah bangsa Amerika. Hari itu, secara tak terduga, 441 pesawat Jepang berhasil menerobos dan membom basis kekuatan laut AS di Pearl Harbor, Hawaii. Lima kapal penempur tenggelam,


sembilan kapal perang dari berbagai jenis hancur, 343 pesawat rusak berat, dan lebih dari 2.000 prajurit gugur dalam peristiwa ini.

“I fear all we have done is to awaken a sleeping giant and fill him with a terrible resolve.” Apa yang dikuatirkan Laksamana Isoroku Yamamoto, sang arsitek serangan, pun terjadi. Presiden AS Franklin D. Roosevelt kontan marah dan langsung menabuh genderang Perang Pasifik. Selama empat tahun ke depan, Jepang yang telah menguasai sebagian Asia itu pun berbalik jadi bulan-bulanan militer AS.

Dalam Edisi Koleksi Angkasa Serangan ke Pearl Harbor ini Anda bisa mengikuti seluruh cerita di balik serbuan terdahsyat yang pernah dilakukan Jepang. Mulai dari alasan penyerangan, persiapan penyerbuan, sampai isu konspirasi yang memojokkan posisi Presiden Roosevelt. Selain profit pesawat dan kapal-kapal perang yang terlibat, buku ini kami lengkapi pula dengan seratus lebih foto dan ilustrasi eksklusif. Jangan lewatkan!



This entry was posted on Tuesday, July 15th, 2008 at 2:25 am and is filed under Serangan Ke PEARL HARBOR. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

http://sejarahperang.wordpress.com/2008/07/15/serangan-ke-pearl-harbor/

Read More ..

Jumat, 28 Agustus 2009

Pasukan Inti Dari Kekuatan Nazi | Adolf Hitler

Pasukan Inti Dari Kekuatan Nazi

Pasukan Inti Kekuatan Nazi
Pasukan Inti Kekuatan Nazi

Dalam petualangannya, Adolf Hitler membangun berbagai organisasi yang kemudian dimiliterisasikan, dan lalu diubah menjadi alat perang. Organisasi-organisasi yang dimaksud termasuk masuk SS (Schutzstaffel). SS dimiliterisasikan mulai bulan Maret 1933, ketika di dalamnya didirikan unit-unit tentara yang kuatannya terus membesar. la bukan bagian dari angkatan perang Hitler (Wehrmacht) atau polisi, tetapi secara eksklusif ada ditangan Hitler.

Jika kita sekarang mengenal apa yang disebut pasukan khusus atau pasukan komando, hal ini tidaklah terlepas dari apa yang dikenal sebagai resimen rahasia Brandenburg Jerman. Pasukan inilah yang dianggap sebagai cikal bakal pasukan khusus zaman sekarang. Satuan Brandenburg merupakan hasil gagasan cemerlang Laksamana Walter Wilhelm Canaris (1887-1945), pemimpin dinas rahasia militer Jerman atau Abwehr.

Selain Brandenburg dan Schutzstaffel, dalam episode final dari trilogi Nazi versi Edisi Koleksi Angkasa ini Anda selanjutnya akan dikenalkan pula, misalnya, dengan Grossdeutchland Panzer Division, Das Africa Corps, Gebigrgsjdger Division, dan Fallshcirmjager. Pasukan ini terdiri dari orang-orang pemberani, keras, dan tak kenal ampun. Mereka mandiri dalam segala hal dan dalam kelompok kecil mampu secara efisien menyelesaikan tugas yang tak mungkin dikerjakan satuan lebih besar.

Lengkapnya, baca saja bagian terakhir dari trilogi edisi koleksi Nazi ini. Mudah-mudahan bacaan ini dapat meningkatkan pemahaman serta khasanah Anda tentang bagian terpenting dari sejarah dunia. Akhir kata kami haturkan selamat mengikuti, selamat membaca, dan sampai jumpa dalam edisi berikutnya. Terima kasih.

Dari http://sejarahperang.wordpress.com/2008/07/23/kokpit-pasukan-inti-kekuatan-nazi/#more-232

Read More ..

Kursk- Perang Tank Terbesar Sejarah Manusia

Kursk- Perang Tank Terbesar Sejarah Manusia

Dalam pandangan Soviet, pertempuran Kursk merupakan titik balik yang menentukan dalam perangnya melawan Jerman Nazi. Karena sejak pertempuran satu minggu di bulan Juli 1943 itu, inisiatif peperangan telah beralih seterusnya ke tangan Rusia. Pertempuran tank yang merupakan perang kavaleri modern terbesar dalam sejarah itu karena begitu banyak melibatkan tank dari kedua belah pihak juga mencatat mulai dipakainya tank baru Jerman jenis Panther dan Tiger. Mereka harus menghadapi ribuan tank T-34 dan KV-1 Soviet yang terkenal tangguh.

HARI PERTAMA - Armada lapis baja dari Leihstandarte Division bergerak menusuk lambung pasukan 151st Guards Rifle Regiment Soviet pada hari pertama Battle of Kursk. Pasukan Jerman ini dilengkapi dengan ranpur Sd Kfz 251 dan pemusnah tank StuG III

HARI PERTAMA : Armada lapis baja dari Leihstandarte Division bergerak menusuk lambung pasukan 151st Guards Rifle Regiment Soviet pads hari pertama Battle of Kursk. Pasukan Jerman ini dilengkapi dengan ranpur Sd Kfz 251 dan pemusnah tank StuG III.


Medan perang di Kursk itu sendiri merupakan hasil ofensif musim dingin 1942-43 oleh Jerman, yang menyisakan wilayah tonjolan yang berpusat di kota Kursk, pusat persilangan kereta api penting, sekitar 800 km selatan Moskow. Kawasan yang menjorok ke wilayah yang dikuasai Jerman itu lebarnya 190 km dan dalamnya 120 km, memotong wilayah Army Group South pimpinan Marsekal Erich von Manstein dengan Army Group Center yang dipimpin Marsekal Gunther von Kluge.
BRIEFIENG - Seorang perwira Rusia memberikan briefing; kondisi medan tempur dengan sejumlah pasukan lapangan. Salah satu pasukan yang berada di sebelah kiri perwira bisa dipastikan merupakan awak tank Soviet. Ini dikenali dari helm yang dipakai. Foto dibawah ini diambil di sekitar wilayah pertahanan Voronezh, 1943.

BRIEFIENG : Seorang perwira Rusia memberikan briefing; kondisi medan tempur dengan sejumlah pasukan lapangan. Salah satu pasukan yang berada di sebelah kiri perwira bisa dipastikan merupakan awak tank Soviet. Iini dikenali dari helm yang dipakai. Foto dibawah ini diambi di sekitar wilayah pertahanan Voronezh, 1943



Setelah hancurnya Tentara Keenam Jerman di Stalingrad Januari 1943, Soviet mulai melakukan ofensif balik meski masih terbatas. Sebaliknya Jerman juga mencari peluang untuk mealnacarkan ofensifnya kembali, sekaligus menghentikan ofensif Soviet. Jerman melihat Kursk sebagai sasaran yang tepat. Ofensifnya diberi nama Operasi Zitadelle (perbentengan kota. “Ofensif ini sangat menentukan artinya. Kemenangan atas Kursk akan menjadi sinyal bagi dunia!” demikian Adolf Hitler dalam perintah operasinya, April 1943. Hitler ingin membuktikan bahwa kavaleri Jerman dengan tank-tank barunya tetap perkasa seperti semula. Bahkan is merehabilitasi Kolonel Jenderal Heinz Guderian, ahli perang tank yang tadinya dia singkirkan setelah kekalahan Jerman di depan Moskow akhir 1941. Guderian diangkatnya sebagai inspektur jenderal seluruh pasukan berlapis baja.

Dalam rancangan operasi, dari utara Tentara Kesembilan Jenderal Walther Model akan menuju Kursk, sedangkan dari selatan Tentara Lapis Baja Keempat pimpinan Jenderal Hermann Hoth. Dengan jepitan yang akan menghancurkan tentara Soviet, Jerman mengharapkan dapat mengambil alih lagi inisiatif peperangan. Tentara Model diperkuat dengan 1.200 tank, termasuk Panther dan Tiger serta assault gun Ferdinand. Begitupula serangan dari selatan didukung 1.500 tank, terutama dari Korps Panser SS Ke-2, yang terdiri dari tiga divisi tank SS Totenkopf, SS Adolf Hitler, dan SS Das Reich.

SS-Pasukan Waffen-SS menumpang tank Pz Kpfw III. Sampai Juli 1943 satuan Watten SS berkembang menjadi satuan yang sangat kuat dengan komposisi tiga divisi serta diperkuat oleh 390 unit tank plus 104 unit meriam serang (assault gun)

SS-Pasukan Waffen-SS menumpang tank Pz Kpfw III. Sampai Juli 1943 satuan Watten SS berkembang menjadi satuan yang sangat kuat dengan komposisi tiga divisi serta diperkuat oleh 390 unit tank plus 104 unit meriam serang (assault gun)



Namun apa yang direncanakan Jerman itu tak lupus dari pemikiran Soviet, yang memperkirakan Jerman akan melakukan ofensif kavaleri besar-besaran, “…yang mungkin akan terdiri dari 13 hingga 15 divisi tank,” demikian ramalan Marsekal Georgi Zhukov. la cenderung untuk memperkuat pertahanan yang mampu menyerap serbuan Jerman, lalu melancarkan ofensif balasan pada front-front lain. Sedangkan Stalin lebih menyukai dilakukannya serangan pendadakan terlebih dulu. Tetapi karena pihak Soviet tidak siap untuk melancarkan ofensif terlebih dulu, maka saran Zhukov diterima. Segera garis pertahanan yang berlapis-lapis dibangun, termasuk membuat jebakan tank.


Datangkan bantuan
Ternyata rencana ofensif Jerman tertunda-tunda karena Hitler mau memastikan bahwa produksi tank barunya berjalan lancar. Namun penundaan ini berarti memberi kesempatan bagi Rusia membangun pertahanannya, sehingga baik Manstein, Kluge, maupun Model mulai cemas, ditambah lagi Guderian selaku Irjen Pasukan Lapis Baja menyatakan tank Panther masih mengalami masalah teknis dan dia tidak berhasrat untuk mengirimkannya kefront timur. Seraya menunggu datangnya perintah menyerang, Model memutuskan untuk meniru apa yang dilakukan Montgomery di El Alamein, yaitu infanteri rang didukung tembakan artileri akan membuka celah-celah yang dapat diterobos kavalerinya. Sedangkan Manstein yang dibantu Hoth dan Kempf punya taktik lain, Yakni memusatkan pasukan lapis bajanya pada celah sempit sehingga cepat merangsek dengan daya tembak tinggi.


TIGER -Tank PzKpfw VI Tiger I milik satuan lapis Baja 2nd SS Panzergrenadier Division Das Reich dalam pertempuran Kursk. Divisi ini dipimpin oleh perwira SS (M-Gruppenfuhrer) Walter Kruger dan merupakan satuan terkuat dari tiga satuan lapis baja SS yang digelar Jerman.

TIGER -Tank PzKpfw VI Tiger I milik satuan lapis Baja 2nd SS Panzergrenadier Division Das Reich dalam pertempuran Kursk. Divisi ini dipimpin oleh perwira SS (M-Gruppenfuhrer) Walter Kruger dan merupakan satuan terkuat dari tiga satuan lapis baja SS yang digelar Jerman.


Ofensif Jerman dilancarkan subuh 5 Juli dengan bombardemen artileri. Namun rencana ini diketahui Soviet yang memperoleh informasi dari Sekutu. Inggris berhasil menyadap rahasia Jerman melalui Ultra, alas pemecah kode rahasia yang dimilikinya. Karena itu Soviet pun mendahului dengan menghujani tembakan artileri. Dengan demikian unsur pendadakan Jerman pun hilang sudah. Serangan dari utara dirintis oleh tank dan pasukan panzergrenadiers, lalu disusul gerak besar besaran tank Tiger dan Ferdinand serta ratusan tank Panzer IV serta infanteri. Namun Soviet yang tabu bahwa akan ada ofensif Jerman, telah menyebar ranjau antitank. Akibatnya tank-tank Jerman banyak yang terjebak. Hari pertama serbuan ini, sekitar 100 tank Jerman lumpuh hanya disebabkan oleh ranjau.
Tim senapan mesin Jerman sedang mengamati kondisi garis depan. Senapan mesin yang dipakal adalah dari jenis MG 34 dengan fasilitas teropong plus dudukan tripod. M834 merupakan senapan mesin standar bagi pasukan darat Jerman selama PD II dengan kemampuan daya sembur peluru antara 800 sampai 900 peluru permenit

Tim senapan mesin Jerman sedang mengamati kondisi garis depan. Senapan mesin yang dipakal adalah dari jenis MG 34 dengan fasilitas teropong plus dudukan tripod. M834 merupakan senapan mesin standar bagi pasukan darat Jerman selama PD II dengan kemampuan daya sembur peluru antara 800 sampai 900 peluru permenit

Namun Jerman maju terus, bahkan ujung tombak yang berupa tank-tank Tiger jauh meninggalkan tank-tank medium di belakangnya, sehingga posisi mereka malah berbahaya karena ‘terdampar’ tanpa proteksi pasukan lainnya. Esok harinya Model menyerang lagi, tetapi masih saja terbentur garis pertahanan Rusia yang kokoh. Akibatnya pasukan Jerman hanya mampu maju sejauh 10 km dengan korban 25.000 pasukan serta 200 tank. Pihak Soviet yang dipimpin Konstantin Rokossovsky juga berupaya maju dengan tanknya, namun ironisnya mereka terhalang oleh ranjau mereka sandiri.




Barisan Infanteri Soviet dengan SMG PPSh bergerak menuju garis depan Kursk. Pada tampak depan adalah tank Soviet T-34/76. Pda bagian kubah tank terdapat tulisan yang berarti ”untuk ibu pertiwi” (for motherland)

Barisan Infanteri Soviet dengan SMG PPSh bergerak menuju garis depan Kursk. Pada tampak depan adalah tank Soviet T-34/76. Pda bagian kubah tank terdapat tulisan yang berarti ”untuk ibu pertiwi” (for motherland)



Di front selatan, posisi Manstein lebih lumayan meski tidak sesuai dengan harapan semula. Soviet mencium gelagat bahwa Jerman akan unggul karena Korps Panser SS Ke-2 secara masif bergerak ke kota Prokhorovka. Zhukov pun buru-buru mendatangkan bola bantuan, berupa pasukan kavaleri dari Tentara Kelima yang dipimpin Kolonel Jenderal Pavel Rotmistrov. Dengan ratusan tanknya dari tiga korps, dia harus menempuh perjalanan sejauh 200 mil melalui wilayah kering yang terbuka. Pasukan besar ini kala bergerak di siang hari harus dilindungi pesawat tempur. Mereka menggelinding siang-malam dalam cuaca teramat panas, dengan debu yang menyelimuti jalan mereka. Saking tebalnya debu sehingga matahari pun sulit terlihat.

Pertempuran hebat
Kavaleri Jerman dari Korps Panser SS yang dipimpin jenderal Paul Hausser merasa segera akan berhasil menerobos pertahanan Soviet di Prokhorovka. Pertempuran tank berlangsung sengit. Nikita Kruschev yang di kemudian hari di front tersebut menyatakan, “…dua hari ke depan akan dahsyat, entah kami yang mampu bertahan ataukah Jerman yang merebut Kursk”. Sementara itu 850 tank Rotmistrov yang sebagian besar tipe T-34 yang baru tiba setelah berjalan 200 mil, langsung terjun ke medan tempur menghadapi pasukan tank SS. Hausser mengerahkan seluruh kekuatan tanknya, termasuk sekitar 100 Tiger. Tetapi jumlahnya masih kalah banyak dibandingkan tank Rusia.SS PANZER – Foto jaerak dekat menggambarkan pergerakan satuan lapis baja SS menuju garis depan. Fotografer berada di atas ranpur angkut personel Sd. Kfz 251. Sementara di sebelah kanan adalah tank Pz Kpfw II.

Tanggal 11 Juli kedua kekuatan lapis baja yang seimbang berhadap-hadapan. Setiap gerakan mereka selalu menebarkan debu tebal karena permukaan tanah subur Ukraina yang lagi kering. Matahari di timur di belakang tank Soviet membuat para juru tembak tank Jerman kesilauan, melihat barisan tank Jerman. Korps Tank ke-18 Soviet maju menghadapi Divisi Totenkopf SS, sedangkan Korps ke-29 mendekati Divisi Tank SS Adolf Hitler. Bunyi gemuruh mesin dan rantai tank sungguh menggetarkan.

Ketika jarak tembak semakin dekat, mulailah kedua pihak saling menembak dengan dahsyat. Ribuan tank bertempur dalam jarak dekat, saling tembak atau saling tabrak. Terkadang sulit mengenali mana kawan mana lawan. Tembakan jarak dekat acap mengenai tank kawan sendiri. Karena siapa duluan menembak, dia ada peluang untuk selamat. Banyak tank yang sampai kehabisan peluru. Pertempuran ini begitu ganas dan kejam. Para awak tank yang selamat langsung disapu dengan sanapan mesin. Asap hitam dan kobaran api dari tank-tank yang binasa tampak di mana-mana.

Pertempuran hebat dengan jarak antar tank cukup rapat, membuat sulit bagi kedua pihak untuk membantu tank mereka melalui kekuatan udara maupun tembakan artileri. Esoknya, lanjutan baku hantam menunjukkan pasukan tank Jerman agak terdesak mundur dan harus melepaskan tempat-tempat yang sebelumnya mereka kuasai. Kota Prokhorovka dan sekitarnya telah berubah menjadi kuburan ratusan tank, banyak di antaranya yang masih dijilati api.

Kerugian kedua pihak amat besar. Hausser kehilangan 350 hingga 400 tank, termasuk lebih dari dua pertiga tank Tigernya. Sedangkan sisanya dalam kondisi buruk, sulit untuk melakukan serangan lagi. Tank terpisah-pisah dari kesatuan masing-masing dan menjadi tidak terorganisasikan lagi. Hausser melapor kepada Manstein bahwa serangan lebih jauh sudah tak terjangkau oleh Korps Panser SS. Di pihak Soviet, sekitar 350 tanknya juga hancur, Sedangkan jumlah tank yang masih mampu bertempur, lebih banyak daripada yang dimiliki Jerman. Tetapi pasukan tank Rotmistrov pun juga porak poranda formasinya. Sehingga tugasnya untuk melakukan penetrasi lebih jauh terhadap posisi Jerman pun tidak tercapai.

Pertempuran tank yang melibatkan sekitar 1.200 tank itu secara taktis tak ada yang menang dan tak ada yang kalah. Keduanya babak belur. Sedangkan dari segi strategis, Operasi Zitadelle Jerman telah gagal. Hitler pun mengakui dengan memerintahkan penghentian operasi pada 13 Juli. Sebagaimana ditegaskan oleh Hitler dalam perintah operasinya bahwa kemenangan di Kursk akan memberi sinyal pada dunia, sinyal itu pun memang telah diberikan.

Hanya saja yang memberikan bukanlah Jerman, melainkan Soviet. Inisiatif strategis peperangan di Ostfront, kini beralih dipegang oleh Soviet. Pelan tetapi dengan kecepatan yang kian bertambah, kontra-ofensif pihak Soviet segera terasa. Dalam tempo enam minggu Tentara Merah maju 160 km, sementara Jerman, baik di utara maupun selatan tonjolan Kursk semakin terdesak mundur. Kehebatan seorang Manstein pun akhirnya tak berdaya melawan tekanan Soviet, paling jauh hanyalah menunda-nunda kekalahan Jerman di Front Timur.

Dari http://sejarahperang.wordpress.com/2008/11/25/kursk-perang-tank-terbesar-dalam-sejarah/#more-393

Read More ..

Senin, 29 Juni 2009

Kaisar Rusia, Armageddon : Prediksi Sufistik Perang Akhir Zaman

Kaisar
Rusia itu-mereka menyebutnya 'si Peter gila'-dia
merencanakan untuk menjadikan Rusia sebagai negara
No.1 di dunia; menjadi boss bagi seluruh dunia. Dan
sekarang mereka terjepit di antara Eropa dan Asia, dan
impian mereka adalah turun dan menguasai air hangat,
samudra, sampai ke sana. Dan Rusia tahu persis bahwa
siapa yang dapat memegang kendali atas Timur Tengah,
dia dapat mengontrol 3 benua: Eropa, Asia dan Afrika.
Itu adalah pusat kekuatan, Zhahir dan Bathin.

Mereka bermimpi untuk turun (ke Selatan), dan
rintangan terbesar di depan mereka adalah Turki,
Kekaisaran Ottoman. Mereka berusaha menguasai
kekaisaran yang sangat kuat itu untuk membuka jalan ke
Selatan, ke Samudara Hindia dan Timur Tengah. Sekarang
Kekaisaran Ottoman sudah tidak ada lagi di sana;
sekarang di depan mereka adalah negara Turki yang
besar...

Mereka sekarang membuat rencana, jika tentara Turki
memasuki Iraq Utara, mereka berkata, "Memasuki daerah
Iraq adalah tindakan ilegal! Mengapa kalian masuk?"
dan ada perjanjian antara Baghdad dan Rusia untuk
saling membela bila salah satu pihak diserang Dan
Rusia sekarang menggunakan kekuatannya, melakukan
segala persiapan, sehingga ketika tentara Turki
memasuki daerah Iraq, mereka juga akan memasuki Turki
dari Utara menuju ke Selatan.

Itu adalah peluang terakhir bagi Rusia untuk memenuhi
impian lamanya yang sudah berusia berabad-abad. Jika
mereka kehilangan kesempatan ini, Amerika yang akan
menjadi boss, bukannya Rusia dan Timur Tengah akan
berada di bawah kendali Amerika-kendali penuh-dan
impian mereka tidak akan menjadi kenyataan. Oleh sebab
itu mereka mempersiapkan dirinya menuju selatan.

Ketika mereka turun, Amerika dengan cepat akan
mengakhiri (perang) di Baghdad dan melakukan
perjalanan ke Saudi, karena mereka tidak senang dengan
pemimpin Saudi. Emir Abdullah terlalu banyak menentang
Amerika, dan yang lain juga tidak menyukai Amerika.
Amerika berencana untuk membagi Saudi menjadi 3
bagian: (bagian pertama) tempat-tempat suci, akan
diberikan kepada Hashemites (Bani Hasyim) seperti
sebelumnya. Ahlus Sunnah wal Jamaa'at akan datang,
lalu Mekkah (?)... dan Riyadh akan berada di bawah
kendali mereka sepenuhnya! Dan sisanya adalah
daerah-daerah yang lemah yang tidak penting.

Kemudian Amerika akan menuju Iran, dan menghabisinya.
Kemudian Syiria akan mengangkat tangannya
(menyerah-red)-mereka tidak dapat menghentikan
kekuatan itu. Syria, Libanon dan Mesir tidak akan
sanggup bertempur melawan Amerika. Gerakan yang paling
penting dan 'hareket' yang paling berbahaya di daerah
ini adalah gerakan Rusia. Mereka mempersiapkan
dirinya, meminta dukungan dari Asia dan Eropa.

Dan bangsa Eropa yang berhaluan kiri akan mendukung
mereka: Chirac dan konselir Jerman, karena dia juga
seorang yang berhaluan kiri dan orang yang tidak punya
pikiran, dan hari-hari mereka dihitung... Oleh sebab
itu, Chirac mungkin berbahaya bagi Inggris; dia
mungkin akan menyerang armada Amerika di Laut Tengah.
Oleh sebab itu pergi dari sini ke sana... Tetapi X
mengatakan kepada saya bahwa tentara Rusia telah
menuju ke perbatasan Turki Utara. 8oo.ooo tentara
menunggu di sebuah distrik kecil, Karabag. Mereka
menunggu dan membangun pasukan besar di sana.

Ketika Turki memasuki Iraq, Turki bagian Timur akan
kosong. Dan angkatan bersenjata Turki akan membawa
tentaranya dari Thracia di perbatasan Turki bagian
Eropa menuju ke selatan. Dan Rusia akan membawa
tentaranya ke menuju selatan melalui Moldavia, Rumania
dan Bulgaria dan dengan mudah mereka akan masuk ke
Istanbul. Pada saat itu Istanbul akan kosong, seluruh
angkatan bersenjata akan berkumpul di Selatan, di
tempat yang bernama Amuk, bagian Utara dari Aleppo.
Menurut Hadits Rasulullah saw, itu adalah tempat di
mana pertempuran terbesar akan terjadi.

Di bawah kota Incirlik, di mana Amerika mempunyai
pangkalan udara mereka, terdapat dataran yang luas
untuk berlangsungnya perang yang terbesar. Dan
Rasulullah saw bersabda bahwa 'Bani Asfar', kaum merah
(masyarakat Rusia) akan datang ke tempat itu (Amuk).
8o divisi berada di bawah bendera masing-masing dan
semuanya terdapat 12.ooo tentara. Menurut X, 8oo.ooo
tentara telah bersiap siaga di perbatasan Turki.

Mereka akan turun ke selatan. Ketika Amerika datang
seperti ini, mereka akan datang seperti itu dan
terjebak. Oleh sebab itu, Amerika akan menyelesaikan
perang Iraq dengan cepat dan akan pergi memerangi
Rusia di tempat itu. Oleh sebab itu pesawat pengangkut
sekarang menuju ke Iskenderun dan mendaratkan
tentaranya. Angkatan bersenjata datang ke daerah itu,
Allah mengetahui berapa banyak jumlahnya...
Grandsyaikh mengatakan kepada saya bahwa suatu
kekuatan juga akan datang dari Damaskus untuk
memerangi Rusia di Amuk, dan kekuatan ini akan terdiri
atas 3 bagian: satu bagian akan melarikan diri, karena
mereka tidak sanggup untuk bertempur.

Bagian kedua akan bertempur dan menjadi syuhada. Dan
bagian ketiga akan terus bertempur memerangi Rusia.
Pertolongan Allah akan mendukung mereka dan mereka
akan memangkas angkatan bersenjata raksasa itu seperti
sedang memanen, dan Turki akan menjadi negara yang
terbuka. Rusia akan mengalami kekalahan dan diusir
dari tempat itu. Kemudian Jerman akan bergerak
menentang Rusia dari Eropa; Jepang dan Cina dari
Asia... Sebuah Hadits mengatakan, Merhamet Kubra
(Armageddon-red) dan penaklukan Konstantinopel yang
kedua akan berlangsung selama 6 bulan. Lalu di bulan
ke-7 muncul Dajjal. Dajjal akan mengumpulkan
tentaranya dari bangsa Yahudi, wanita-wanita tuna
susila (dan lainnya?).

Kemudian Imam Mahdi as dan Isa as akan datang dan
menghabisi Dajjal dan semua orang kafir... 4o hari
untuk Dajjal. Dia akan muncul di Khorasan, karena
sekarang dia dipenjara di sebuah pulau di Samudra
Hindia. Ketika waktunya berakhir dia akan datang ke
India, ke Iran dan lalu bergerak ke Khorasan dan lebih
jauh lagi akan pergi ke seluruh dunia. Dan perjalanan
nya akan berakhir di pintu gerbang Damaskus. Kemudian
Isa as akan datang dan membunuhnya, tak ada lagi yang
lain. Semoga Allah melindungi kita dari Dajjal dan
tentaranya dan para pengikutnya... di mana pun ada
pusat setan, orang-orang jahat, akan ada hujan api di
sana...


dari http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Rusia-versus-Amerika-Perang-Dunia-Terakhir

Read More ..

Sabtu, 30 Mei 2009

era zaman perang nuklir presejarah

langsung saja..
Masa sebelum 4000 SM dianggap sebagai masa pra sejarah dan peradaban Sumeria dianggap peradaban tertua didunia.
Akan selama ini terdapat berbagai diskusi, teori dan penyelidikan mengenai kemungkinan bahwa dunia pernah mencapai sebuah peradaban yang maju sebelum tahun 4000 SM.
Teori Atlantis, Lemuria, kini makin diperkuat dengan bukti tertulis seperti percakapan Plato mengenai dialog Solon dan pendeta Mesir kuno mengenai Atlantis, naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana & Bharatayudha mengenai dinasti Rama kuno,dan bukti arkeologi mengenai peradaban Monhenjo-Daroo, Easter Island dan Pyramid Mesir maupun Amerika Selatan.

Akhir-akhir ini perhatian gue tertuju terhadap sebuah teori mengenai kemungkinan manusia pernah memasuki zaman nuklir lebih dari 6000 tahun yang lalu.
Peradaban Atlantis di barat, dan dinasti Rama di Timur diperkirakan berkembang dan mengalami masa keemasan antara tahun 30000 SM hingga 15000 SM.
Atlantis memiliki wilayah mulai dari Mediteranian hingga Pegunungan Andes di seberang Samudra Atlantis sedangkan Dinasti Rama berkuasa di bagian Utara India-Pakistan-Tibet hingga Asia Tengah.

Peninggalan Prasasti di Indus, Mohenjo Daroo dan Easter Island (Pasifik Selatan) hingga kini belum bisa diterjemahkan dan para ahli memperkirakan peradaban itu berasal jauh lebih tua dari peradaban tertua yang selama ini diyakini manusia (4000 BC).

Beberapa naskah Wedha dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dengan tujuh kota utamanya 'Seven Rishi City' yg salah satunya adalah Mohenjo Daroo (Pakistan Utara).

Dalam suatu cuplikan cerita dalam Epos Mahabarata dikisahkan bahwa Arjuna dengan gagah berani duduk dalam Weimana (sebuah benda mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh,lalu dalam sekejap bumi bergetar hebat,asap tebal membumbung tinggi diatas cakrawala,dalam detik itu juga akibat kekuatan ledakan yang ditimbulkan dengan segera menghancurkan dan menghanguskan semua apa saja yang ada disitu.

Yang membuat orang tidak habis pikir , sebenarnya senjata semacam apakah yang dilepaskan Arjuna dengan Weimana-nya itu?

Dari hasil riset dan penelitian yang dilakukan ditepian sungai Gangga di India,para arkeolog menemukan banyak sekali sisa-sisa puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai .
Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan di dalam bangunan juga telah dikacalisasi. Selain di India, Babilon kuno, gurun sahara, dan guru Gobi di Mongolia juga telah ditemukan reruntuhan perang nuklir prasejarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.

Dari berbagai sumber yang saya pelajari, secara umum dapat digambarkan berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini memberikan beberapa bahan kajian yang menarik. Antara lain adalah :
- Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30000-15000 BC).

- Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir.

- Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).

- Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato.

- Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi's City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo.

- Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.

- Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar.

- Dalam sebuah seloka mengenai Mahabharata, diceritakan dengan kiasan sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir masa kini.

- Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari 'wahana terbang' yang disebut 'Vimana' yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini.

Sebagian besar bukti tertulis justru berada di India dalam bentuk naskah sastra, sedangkan bukti fisik justru berada di belahan dunia barat yaitu Piramid di Mesir dan Amerika Selatan.
Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam peradaban Atlantis dan Rama. Bahkan jauh sebelum 4000SM manusia pernah memasuki abad antariksa dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif hingga munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000 SM atau 6000 tahun yang lalu.

dari http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=165754

Read More ..

Rabu, 22 April 2009

Perang Punisia

Perang Punisia adalah peperangan yang terjadi antara Romawi dengan Kartago antara tahun 264 hingga 146 SM,[1] dan merupakan perang terbesar di dunia kuno.[2] Kata Punisia sendiri berasar dari kata Punici, yang memiliki arti Bangsa Fenisia dalam bahasa Latin.

Perang ini terjadi akibat adanya keinginan bangsa Romawi untuk memperluas daerah kekuasaannya. Niat ini awalnya berlangsung tanpa hambatan yang berarti (hambatan disini berarti perlawanan dari penduduk asli) hingga akhirnya Republik Romawi berhadapan dengan Kartago. Pertempuran berlangsung dengan korban mencapai ratusan ribu prajurit. Sebelum serangan Republik Romawi pada Perang Punisia I, Kekaisaran Kartago adalah penguasa daerah Mediterania dengan maritimnya yang kuat. Hingga akhirnya pada Perang Punisia III, Republik Romawi berhasil menghancurkan Kartago dan menghancurkan ibukotanya, menjadikan Republik Romawi sebagai penguasa terkuat di Mediterania bagian barat.

Peperangan ini merupakan titik balik yang berarti bahwa peradaban Mediterania kuno akan menjadi dunia modern melalui Eropa, bukan melalui Afrika. Kemenangan Romawi terhadap Kartago dalam peperangan ini memberikan Romawi status unggul hingga pembagian Romawi menjadi Romawi Barat dan Timur oleh Diocletian tahun 286 M.
Latar belakang

Pada tahun 264 SM, Kartago adalah kota pelabuhan besar yang terletak di pantai Tunisia modern. Didirikan oleh bangsa Fenisia pada pertengahan abad ke-9 SM, Kartago merupakan negara-kota yang kuat. Di Mediterania Barat, hanya Romawi yang dapat menyaingi kekuasaan, kekayaan dan populasi Kartago. Sementara angkatan laut Kartago merupakan yang terbesar di dunia kuno pada saat itu, Kartago tidak memiliki angkatan bersenjata yang besar dan permanen, namun bergantung pada tentara bayaran, menyewanya untuk peperangan.[3] Namun, kebanyakan perwira yang mengkomandokan tentara adalah penduduk Kartago. Kartago terkenal akan kemampuan mereka sebagai pelaut, dan tidak seperti angkatan bersenjata mereka, banyak Kartago dari kelas bawah bekerja di angkatan laut, yang menyediakan karir dan pendapatan yang cukup.

Pada tahun 264 SM, Republik Romawi telah menguasai semenanjung Italia di sebelah selatan sungai Po. Tidak seperti Kartago, Romawi memiliki angkatan bersenjata besar yang sebagian besar terdiri dari penduduk Romawi. Penduduk kelas bawah atau plebeius biasanya menjadi serdadu di legiun Romawi, sementara penduduk kelas atas atau patricius menjadi perwira. Di sisi lain, pada awal Perang Punisia Pertama, Romawi tidak memiliki angkatan laut, dan menjadi kelemahannya hingga mereka mulai membentuk angkatan laut mereka sendiri selama perang.

[sunting] Perang Punisia Pertama
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Punisia Pertama

Pada Perang Punisia Pertama (264 SM - 241 SM) pertempuran bukan hanya terjadi di daratan (Sisilia dan Afrika), namun juga di laut Mediterania. Beberapa perang laut yang besar juga terjadi. Perang ini berlangsung dengan sengit hingga akhirnya Kekaisaran Romawi menang dan menaklukan Sisilia setelah mengalahkan Kartago dalam Pertempuran Kepulauan Aegates yang mengakhiri perang ini. Akibat kekalahannya, Kartago mengalami guncangan politik maupun militer, sehingga Kekaisaran Romawi akhirnya dengan mudah merebut Sardinia dan Korsika ketika Kartago terjerumus kedalam perang tentara bayaran.

[sunting] Perang Punisia Kedua
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Punisia Kedua

Pada Perang Punisia Kedua (218 SM - 202 SM), pasukan Kartago yang dipimpin oleh Hannibal menyeberangi Laut Mediterania, menyusuri Semenanjung Iberia, kemudian Galia lalu ke daerah Alpen untuk menyerang Roma dari utara, dan berhasil memenangkan sejumlah pertempuran penting di daratan Italia, seperti Pertempuran Trebia, Pertempuran Danau Trasimene dan Pertempuran Cannae. Namun ternyata kemenangan ini tidak cukup berarti untuk menjatuhkan Republik Romawi secara keseluruhan. Membalas kekalahannya, Kekaisaran Romawi balik menyerang Hispania, Sisila dan Yunani. Di saat yang sama, pertempuran juga terjadi di Afrika. Di sanalah, Kekaisaran Kartago berhasil dikalahkan dalam sebuah pertempuran di Zama. Hal ini mengakibatkan berkurangnya wilayah kekuasaan Kartago, sehingga hanya menyisakan kota Kartago saja.

[sunting] Perang Punisia Ketiga
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Punisia Ketiga

Pada Perang Punisia Ketiga diwarnai dengan penyerangan Kekaisaran Roma langsung ke jantung Kekaisaran Kartago, Kota Kartago, pada tahun 149 SM - 146 SM. Pada selang waktu antara akhir Perang Punisia Kedua dengan awal Punisia Ketiga, Republik Romawi berusaha memperluas wilayah menuju daerah peradaban Helenistik, yaitu dengan Kerajaan Seleukus, Makedonia, serta wilayah Illyria. Republik Romawi menang dan berhasil menghancurkan Kota Kartago, sekaligus menandai runtuhnya Kekaisaran Kartago.

[sunting] Catatan kaki

1. ^ Chris Scarre, "The Wars with Carthage," The Penguin Historical Atlas of Ancient Rome (London: Penguin Books, 1995), 24-25.
2. ^ Goldsworthy, The Punic Wars, hal. 13
3. ^ Carthaginian - Definitions from Dictionary.com

Read More ..

Selasa, 21 April 2009

Perang Salib






Perang Salib adalah kumpulan gelombang dari pertikaian agama bersenjata yang dimulai oleh kaum Kristiani pada periode 1095 – 1291; biasanya direstui oleh Paus atas nama Agama Kristen, dengan tujuan untuk menguasai kembali Yerusalem dan “Tanah Suci” dari kekuasaan Muslim dan awalnya diluncurkan sebagai respon atas permohonan dari Kekaisaran Byzantium yang beragama Kristen Ortodox Timur untuk melawan ekspansi dari Dinasti Seljuk yang beragama Islam ke Anatolia.

Istilah ini juga digunakan untuk ekspedisi-ekspedisi kecil yang terjadi selama Abad ke 16 di wilayah diluar Benua Eropa, biasanya terhadap kaum pagan dan kaum non-Kristiani untuk alasan campuran antara agama, ekonomi dan politik. Skema penomoran tradisional atas Perang Salib memasukkan 9 ekspedisi besar ke Tanah Suci selama Abad ke 11 sampai dengan Abad ke 13. “Perang Salib” lainnya yang tidak bernomor berlanjut hingga Abad ke 16 dan berakhir ketika iklim politik dan agama di Eropa berubah secara signifikan selama masa Renaissance.

Perang Salib pada hakikatnya bukan perang agama, melainkan perang merebut kekuasaan daerah. Hal ini dibuktikan bahwa tentara Salib dan tentara Muslim saling bertukar ilmu pengetahuan.

Perang Salib berpengaruh sangat luas terhadap aspek-aspek politik, ekonomi dan sosial, yang mana beberapa bahkan masih berpengaruh sampai masa kini. Karena konfilk internal antara kerajaan-kerajaan Kristen dan kekuatan-kekuatan politik, beberapa ekspedisi Perang Salib (seperti Perang Salib Keempat) bergeser dari tujuan semulanya dan berakhir dengan dijarahnya kota-kota Kristen, termasuk ibukota Byzantium, Konstantinopel. Perang Salib Keenam adalah perang salib pertama yang bertolak tanpa restu resmi dari gereja Katolik, dan menjadi contoh preseden yang memperbolehkan penguasa lain untuk secara individu menyerukan perang salib dalam ekspedisi berikutnya ke Tanah Suci. Konflik internal antara kerajaan-kerajaan Muslim dan kekuatan-kekuatan politik pun mengakibatkan persekutuan antara satu faksi melawan faksi lainnya seperti persekutuan antara kekuatan Tentara Salib dengan Kesultanan Rum yang Muslim dalam Perang Salib Kelima.
Konteks Sejarah

[sunting] Kondisi Eropa Barat
Peta dari Semenanjung Iberia pada saat kedatangan Dinasti Almoravid pada Abad Ke 11- Kerajaan-Kerajaan Kristen terdiri dari Aragón, Castile, Leon, Navarre, dan Portugal

Asal mula ide perang salib adalah perkembangan yang terjadi di Eropa Barat sebelumnya pada Abad Pertengahan, selain itu juga menurunnya pengaruh Kekaisaran Byzantium di timur yang disebabkan oleh gelombang baru serangan Muslim Turki. Pecahnya Kekaisaran Carolingian pada akhir Abad Ke-9, dikombinasikan dengan stabilnya perbatasan Eropa sesudah peng-Kristen-an bangsa-bangsa Viking, Slav dan Magyar, telah membuat kelas petarung bersenjata yang energinya digunakan secara salah untuk bertengkar satu sama lain dan meneror penduduk setempat. Gereja berusaha untuk menekan kekerasan yang terjadi melalui gerakan-gerakan Pax Dei dan Treuga Dei. Usaha ini dinilai berhasil, akan tetapi para ksatria yang berpengalaman selalu mencari tempat untuk menyalurkan kekuatan mereka dan kesempatan untuk memperluas daerah kekuasaan pun menjadi semakin tidak menarik. Kecuali pada saat terjadi Reconquista di Spanyol dan Portugal, dimana pada saat itu ksatria-ksatria dari Iberia dan pasukan lain dari beberapa tempat di Eropa bertempur melawan pasukan Moor Islam, yang sebelumnya berhasil menyerang dan menaklukan sebagian besar Semenanjung Iberia dalam kurun waktu 2 abad.

Pada tahun 1063, Paus Alexander II memberikan restu kepausan bagi kaum Kristen Iberia untuk memerangi kaum Muslim. Paus memberikan baik restu kepausan standard maupun pengampunan bagi siapa saja yang terbunuh dalam pertempuran tersebut. Maka, permintaan yang datang dari Kekaisaran Byzantium yang sedang diancam oleh kaum Muslim Seljuk, menjadi perhatian semua orang. Hal ini terjadi pada tahun 1074, dari Kaisar Michael VII kepada Paus Gregorius VII dan sekali lagi pada tahun 1095, dari Kaisar Alexius I Comnenus kepada Paus Urbanus II.

Perang Salib adalah sebuah gambaran dari dorongan keagamaan yang intens yang merebak pada akhir abad ke-11 di masyarakat. Seorang tentara Salib, sesudah memberikan sumpah sucinya, akan menerima sebuah salib dari Paus atau wakilnya dan sejak saat itu akan dianggap sebagai “tentara gereja”. Hal ini sebagian adalah karena adanya Kontroversi Investiture, yang berlangsung mulai tahun 1075 dan masih berlangsung selama Perang Salib Pertama. Karena kedua belah pihak yang terlibat dalam Kontroversi Investiture berusaha untuk menarik pendapat publik, maka masyarakat menjadi terlibat secara pribadi dalam pertentangan keagamaan yang dramatis. Hasilnya adalah kebangkitan semangat Kristen dan ketertarikan publik pada masalah-masalah keagamaan. Hal ini kemudian diperkuat oleh propaganda keagamaan tentang Perang untuk Keadilan untuk mengambil kembali Tanah Suci – yang termasuk Yerusalem (dimana kematian, kebangkitan dan pengangkatan Yesus ke Surga terjadi menurut ajaran Kristen) dan Antioch (kota Kristen yang pertama) - dari orang Muslim. Selanjutnya, “Penebusan Dosa” adalah faktor penentu dalam hal ini. Ini menjadi dorongan bagi setiap orang yang merasa pernah berdosa untuk mencari cara menghindar dari kutukan abadi di Neraka. Persoalan ini diperdebatkan dengan hangat oleh para tentara salib tentang apa sebenarnya arti dari “penebusan dosa” itu. Kebanyakan mereka percaya bahwa dengan merebut Yerusalem kembali, mereka akan dijamin masuk surga pada saat mereka meninggal dunia. Akan tetapi, kontroversi yang terjadi adalah apa sebenarnya yang dijanjikan oleh paus yang berkuasa pada saat itu. Suatu teori menyatakan bahwa jika seseorang gugur ketika bertempur untuk Yerusalemlah “penebusan dosa” itu berlaku. Teori ini mendekati kepada apa yang diucapkan oleh Paus Urbanus II dalam pidato-pidatonya. Ini berarti bahwa jika para tentara salib berhasil merebut Yerusalem, maka orang-orang yang selamat dalam pertempuran tidak akan diberikan “penebusan”. Teori yang lain menyebutkan bahwa jika seseorang telah sampai ke Yerusalem, orang tersebut akan dibebaskan dari dosa-dosanya sebelum Perang Salib. Oleh karena itu, orang tersebut akan tetap bisa masuk Neraka jika melakukan dosa sesudah Perang Salib. Seluruh faktor inilah yang memberikan dukungan masyarakat kepada Perang Salib Pertama dan kebangkitan keagamaan pada abad ke-12.

[sunting] Situasi Timur Tengah

Keberadaan Muslim di Tanah Suci harus dilihat sejak penaklukan bangsa Arab terhadap Palestina pada abad ke-7. Hal ini sebenarnya tidak terlalu mempengaruhi penziarahan ke tempat-tempat suci kaum Kristiani atau keamanan dari biara-biara dan masyarakat Kristen di Tanah Suci Kristen ini. Sementara itu, bangsa-bangsa di Eropa Barat tidak terlalu perduli atas dikuasainya Yerusalem – yang berada jauh di Timur – sampai ketika mereka sendiri mulai menghadapi invasi dari orang-orang Islam dan bangsa-bangsa non-Kristen lainnya seperti bangsa Viking dan Magyar. Akan tetapi, kekuatan bersenjata kaum Muslimlah yang berhasil memberikan tekanan yang kuat kepada kekuasaan Kekaisaran Byzantium yang beragama Kristen Orthodox Timur.

Titik balik lain yang berpengaruh terhadap pandangan Barat kepada Timur adalah ketika pada tahun 1009, kalifah Bani Fatimiah, Al-Hakim bi-Amr Allah memerintahkan penghancuran Gereja Makam Suci (Church of The Holy Sepulchre). Penerusnya memperbolehkan Kekaisaran Byzantium untuk membangun gereja itu kembali dan memperbolehkan para peziarah untuk berziarah di tempat itu lagi. Akan tetapi banyak laporan yang beredar di Barat tentang kekejaman kaum Muslim terhadap para peziarah Kristen. Laporan yang didapat dari para peziarah yang pulang ini kemudian memainkan peranan penting dalam perkembangan Perang Salib pada akhir abad itu.

[sunting] Penyebab Langsung

Penyebab langsung dari Perang Salib Pertama adalah permohonan Kaisar Alexius I kepada Paus Urbanus II untuk menolong Kekaisaran Byzantium menahan laju invasi tentara Muslim ke dalam wilayah kekaisaran tersebut. Pada tahun 1071, di Pertempuran Manzikert, Kekaisaran Byzantium telah dikalahkan oleh pasukan Muslim Seljuk dan kekalahan ini berujung kepada dikuasainya hampir seluruh wilayah Asia Kecil (Turki modern). Meskipun Pertentangan Timur-Barat seldang berlangsung antara gereja Katolik Barat dengan gereja Orthodox Timur, Alexius I mengharapkan respon yang positif atas permohonannya. Bagaimanapun, respon yang didapat amat besar dan hanya sedikit bermanfaat bagi Alexius I. Paus menyeru bagi kekuatan invasi yang besar bukan saja untuk mempertahankan Kekaisaran Byzantium, akan tetapi untuk merebut kembali Yerusalem.

Ketika Perang Salib Pertama didengungkan pada tahun 1095, para pangeran Kristen dari Iberia sedang bertempur untuk keluar dari pegunungan Galicia dan Asturia, wilayah Basque dan Navarre, dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, selama seratus tahun. Kejatuhan bangsa Moor Toledo kepada Kerajaan Leon pada tahun 1085 adalah kemenangan yang besar. Ketidak bersatuan penguasa-penguasa Muslim merupakan faktor yang penting, dan kaum Kristen, yang meninggalkan para wanitanya di garis belakang, amat sulit untuk dikalahkan. Mereka tidak mengenal hal lain selain bertempur, mereka tidak memiliki taman-taman atau perpustakaan untuk dipertahankan. Para ksatria Kristen ini merasa bahwa mereka bertempur di lingkungan asing yang dipenuhi oleh orang kafir sehingga mereka dapat berbuat dan merusak sekehendak hatinya. Seluruh faktor ini kemudian akan dimainkan kembali di lapangan pertempuran di Timur. Ahli sejarah Spanyol melihat bahwa Reconquista adalah kekuatan besar dari karakter Castilia, dengan perasaan bahwa kebaikan yang tertinggi adalah mati dalam pertempuran mempertahankan ke-Kristen-an suatu Negara.

[sunting] Kondisi Sesudah Perang Salib Pertama

Perang Salib Pertama melepaskan gelombang semangat perasaan paling suci sendiri yang diekspresikan dengan pembantaian terhadap orang-orang Yahudi yang menyertai pergerakan tentara Salib melintasi Eropa dan juga perlakuan kasar terhadap pemeluk Kristen Orthodox Timur. Kekerasan terhadap Kristen Orthodox ini berpuncak pada penjarahan kota Konstantinopel pada tahun 1024, dimana seluruh kekuatan tentara Salib ikut serta. Selama terjadinya serangan-serangan terhadap orang Yahudi, pendeta lokal dan orang Kristen berupaya melindungi orang Yahudi dari pasukan Salib yang melintas. Orang Yahudi seringkali diberikan perlindungan di dalam gereja atau bangunan Kristen lainnya, akan tetapi, massa yang beringas selalu menerobos masuk dan membunuh mereka tanpa pandang bulu.

Pada abad ke-13, perang salib tidak pernah mencapai tingkat kepopuleran yang tinggi di masyarakat. Sesudah kota Acra jatuh untuk terakhir kalinya pada tahun 1291 dan sesudah penghancuran bangsa Occitan (Perancis Selatan) yang berpaham Catharisme pada Perang Salib Albigensian, ide perang salib mengalami kemerosotan nilai yang diakibatkan oleh pembenaran lembaga Kepausan terhadap agresi politik dan wilayah yang terjadi di Katolik Eropa.

Orde Ksatria Salib mempertahankan wilayah adalah orde Knights Hospitaller. Sesudah kejatuhan Acra yang terakhir, orde ini menguasai Pulau Rhodes dan pada abad ke-16 dibuang ke Malta. Tentara-tentara Salib yang terakhir ini akhirnya dibubarkan oleh Napoleon Bonaparte pada tahun 1798.

[sunting] Peninggalan

[sunting] Benua Eropa

Perang Salib selalu dikenang oleh bangsa-bangsa di Eropa bagian Barat dimana pada masa Perang Salib merupakan negara-negara Katolik Roma. Sungguh pun demikian, banyak pula kritikan pedas terhadap Perang Salib di negara-negara Eropa Barat pada masa Renaissance.

[sunting] Politik dan Budaya

Perang Salib amat mempengaruhi Eropa pada Abad Pertengahan. Pada masa itu, sebagian besar benua dipersatukan oleh kekuasaan Kepausan, akan tetapi pada abad ke-14, perkembangan birokrasi yang terpusat (dasar dari negara-bangsa modern) sedang pesat di Perancis, Inggris, Burgundi, Portugal, Castilia dan Aragon. Hal ini sebagian didorong oleh dominasi gereja pada masa awal perang salib.

Meski benua Eropa telah bersinggungan dengan budaya Islam selama berabad-abad melalui hubungan antara Semenanjung Iberia dengan Sisilia, banyak ilmu pengetahuan di bidang-bidang sains, pengobatan dan arsitektur diserap dari dunia Islam ke dunia Barat selama masa perang salib.

Pengalaman militer perang salib juga memiliki pengaruh di Eropa, seperti misalnya, kastil-kastil di Eropa mulai menggunakan bahan dari batu-batuan yang tebal dan besar seperti yang dibuat di Timur, tidak lagi menggunakan bahan kayu seperti sebelumnya. Sebagai tambahan, tentara Salib dianggap sebagai pembawa budaya Eropa ke dunia, terutama Asia.

Bersama perdagangan, penemuan-penemuan dan penciptaan-penciptaan sains baru mencapai timur atau barat. Kemajuan bangsa Arab termasuk perkembangan aljabar, lensa dan lain lain mencapai barat dan menambah laju perkembangan di universitas-universitas Eropa yang kemudian mengarahkan kepada masa Renaissance pada abad-abad berikutnya.

[sunting] Perdagangan

Kebutuhan untuk memuat, mengirimkan dan menyediakan balatentara yang besar menumbuhkan perdagangan di seluruh Eropa. Jalan-jalan yang sebagian besar tidak pernah digunakan sejak masa pendudukan Romawi, terlihat mengalami peningkatan disebabkan oleh para pedagang yang berniat mengembangkan usahanya. Ini bukan saja karena Perang Salib mempersiapkan Eropa untuk bepergian akan tetapi lebih karena banyak orang ingin bepergian setelah diperkenalkan dengan produk-produk dari timur. Hal ini juga membantu pada masa-masa awal Renaissance di Itali, karena banyak negara-kota di Itali yang sejak awal memiliki hubungan perdagangan yang penting dan menguntungkan dengan negara-negara Salib, baik di Tanah Suci maupun kemudian di daerah-daerah bekas Byzantium.

Pertumbuhan perdagangan membawa banyak barang ke Eropa yang sebelumnya tidak mereka kenal atau amat jarang ditemukan dan sangat mahal. Barang-barang ini termasuk berbagai macam rempah-rempah, gading, batu-batu mulia, teknik pembuatan barang kaca yang maju, bentuk awal dari mesiu, jeruk, apel, hasil-hasil tanaman Asia lainnya dan banyak lagi.


Keberhasilan untuk melestarikan Katolik Eropa, bagaimanapun, tidak dapat mengabaikan kejatuhan Kekaisaran Kristen Byzantium, yang sebagian besar diakibatkan oleh kekerasan tentara Salib pada Perang Salib Keempat terhadap Kristen Orthodox Timur, terutama pembersihan yang dilakukan oleh Enrico Dandolo yang terkenal, penguasa Venesia dan sponsor Perang Salib Keempat. Tanah Byzantium adalah negara Kristen yang stabil sejak abad ke-4. Sesudah tentara Salib mengambil alih Konstantinopel pada tahun 1204, Byzantium tidak pernah lagi menjadi sebesar atau sekuat sebelumnya dan akhirnya jatuh pada tahun 1453.

Melihat apa yang terjadi terhadap Byzantium, Perang Salib lebih dapat digambarkan sebagai perlawanan Katolik Roma terhadap ekspansi Islam, ketimbang perlawanan Kristen secara utuh terhadap ekspansi Islam. Di lain pihak, Perang Salib Keempat dapat disebut sebuah anomali. Kita juga dapat mengambil suatu kompromi atas kedua pendapat diatas, khususnya bahwa Perang Salib adalah cara Katolik Roma utama dalam menyelamatkan Katolikisme, yaitu tujuan yang utama adalah memerangi Islam dan tujuan yang kedua adalah mencoba menyelamatkan ke-Kristen-an, dalam konteks inilah, Perang Salib Keempat dapat dikatakan mengabaikan tujuan yang kedua untuk memperoleh bantuan logistik bagi Dandolo untuk mencapai tujuan yang utama. Meski begitu, Perang Salib Keempat ditentang oleh Paus pada saat itu dan secara umum dikenang sebagai suatu kesalahan besar.

[sunting] Dunia Islam

Perang salib memiliki efek yang buruk tetapi terlokalisir pada dunia Islam. Dimana persamaan antara “Bangsa Frank” dengan “Tentara Salib” meninggalkan bekas yang amat dalam. Muslim secara tradisional mengelu-elukan Saladin, seorang ksatria Kurdi, sebagai pahlawan Perang Salib. Pada abad ke-21, sebagian dunia Arab, seperti gerakan kemerdekaan Arab dan gerakan Pan-Islamisme masih terus menyebut keterlibatan dunia Barat di Timur Tengah sebagai “perang salib”. Perang Salib dianggap oleh dunia Islam sebagai pembantaian yang kejam dan keji oleh kaum Kristen Eropa.

Konsekuensi yang secara jangka panjang menghancurkan tentang perang salib, menurut ahli sejarah Peter Mansfield, adalah pembentukan mental dunia Islam yang cenderung menarik diri. Menurut Peter Mansfield, “Diserang dari berbagai arah, dunia Islam berpaling ke dirinya sendiri. Ia menjadi sangat sensitive dan defensive……sikap yang tumbuh menjadi semakin buruk seiring dengan perkembangan dunia, suatu proses dimana dunia Islam merasa dikucilkan, terus berlanjut.”

[sunting] Komunitas Yahudi
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Yahudi dan Perang Salib
Ilustrasi dalam Injil Perancis dari tahun 1250 yang menggambarkan pembantaian orang Yahudi (dikenali dari topinya yakni Judenhut) oleh tentara Salib

Kekerasan tentara Salib terhadap bangsa Yahudi di kota-kota di Jerman dan Hongaria, belakangan juga terjadi di Perancis dan Inggris, dan pembantaian Yahudi di Palestina dan Syria menjadi bagian yang penting dalam sejarah Anti-Semit, meski tidak ada satu perang salib pun yang pernah dikumandangkan melawan Yahudi. Serangan-serangan ini meninggalkan bekas yang mendalam dan kesan yang buruk pada kedua belah pihak selama berabad-abad. Posisi sosial bangsa Yahudi di Eropa Barat semakin merosot dan pembatasan meningkat selama dan sesudah Perang Salib. Hal ini memuluskan jalan bagi legalisasi Anti-Yahudi oleh Paus Innocentius III dan membentuk titik balik bagi Anti-Semit abad pertengahan.

Periode perang salib diungkapkan dalam banyak narasi Yahudi. Diantara narasi-narasi itu, yang terkenal adalah catatan-catatan Solomon bar Simson dan Rabbi Eliezer bar Nathan, “The Narrative of The Old Persecution” yang ditulis oleh Mainz Anonymus dan “Sefer Zekhirah” dan “The Book of Remembrance” oleh Rabbi Ephrain dari Bonn.

[sunting] Pegunungan Kaukasus

Di Pegunungan Kaukasus di Georgia, di dataran tinggi Khevsureti yang terpencil, ada sebuah suku yang disebut Khevsurs yang dianggap merupakan keturunan langsung dari sebuah kelompok tentara salib yang terpisah dari induk pasukannya dan tetap dalam keadaan terisolasi dengan sebagian budaya perang salib yang masih utuh. Memasuki abad ke-20, peninggalan dari baju perang, persenjataan dan baju rantai masih digunakan dan terus diturunkan dalam komunitas tersebut. Ahli ethnografi Rusia, Arnold Zisserman, yang menghabiskan 25 tahun (1842 – 1862) di pegunungan Kaukasus, percaya bahwa kelompok dari dataran tinggi Georgia ini adalah keturunan dari tentara Salib yang terakhir berdasarkan dari kebiasaan, bahasa, kesenian dan bukti-bukti yang lain. Penjelajah Amerika Richard Halliburton melihat dan mencatat kebiasaan suku ini pada tahun 1935.

[sunting] Referensi

* Carole Hillenbrand, The Crusades, Islamic Perspectives. New York, 2000.
* P.M. Holt, The Age of the Crusades: The Near East from the Eleventh Century to 1517. New York, 1986.
* Hans E. Mayer, The Crusades. Oxford, 1965.
* Jonathan Riley-Smith, The First Crusade and the Idea of Crusading. Philadelphia, 1986.
* Jonathan Riley-Smith, The Oxford History of the Crusades. Oxford, 1995.

Read More ..

Senin, 20 April 2009

Perang Korea




Perang Korea (bahasa Korea: 한국전쟁), dari 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953, adalah sebuah konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan. Perang ini juga disebut "perang yang dimandatkan" (bahasa Inggris proxy war) antara Amerika Serikat dan sekutu PBB-nya dan komunis Republik Rakyat Cina dan Uni Soviet (juga anggota PBB). Peserta perang utama adalah Korea Utara dan Korea Selatan. Sekutu utama Korea Selatan termasuk Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Britania Raya, meskipun banyak negara lain mengirimkan tentara di bawah bendera PBB.

Sekutu Korea Utara termasuk Republik Rakyat Tiongkok, yang menyediakan kekuatan militer, dan Uni Soviet yang menyediakan penasehat perang dan pilot pesawat, dan juga persenjataan, untuk pasukan China dan Korea Utara. Di Amerika Serikat konflik ini diistilahkan sebagai aksi polisi (Konflik Korea) di bawah bendera PBB dari pada sebuah perang, dikarenakan untuk menghilangkan keperluan Kongres mengumumkan perang.
Keterlibatan Republik Rakyat Cina

Republik Rakyat Cina baru terlibat secara langsung dalam perang ini pada bulan Oktober 1950. Ini terutama dikarenakan pemerintah Beijing kuatir bahwa pasukan Amerika Serikat akan mempergunakan kesempatan menduduki Korea Utara untuk kemudian menyerang provinsi-provinsi di timur laut Cina. Di samping itu, faktor lainnya adalah dukungan Stalin kepada RRC untuk terlibat dalam perang Korea ini....

[sunting] Akhir perang

Perang ini berakhir pada 27 Juli 1953 saat Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, dan Korea Utara menandatangani persetujuan gencatan senjata. Presiden Korea Selatan, Seungman Rhee, menolak menandatanganinya namun berjanji menghormati kesepakatan gencatan senjata tersebut. Namun secara resmi, perang ini belum berakhir sampai dengan saat ini.
Tanggal 25 Juni 1950 sampai gencatan senjata 27 Juli 1953. Karena belum ada perjanjian perdamaian, secara teknis konflik ini masih berlanjut sampai sekarang.
Lokasi Semenanjung Korea
Hasil Gencatan senjata; dibuatnya Zona Demiliterisasi Korea
Casus belli Invasi Korea Utara ke Korea Selatan
Pihak yang terlibat
PBB:

Korea Selatan
Australia
Belgia
Kanada
Kolombia
Ethiopia
Prancis
Yunani
Belanda
Selandia Baru
Filipina
Afrika Selatan
Thailand
Turki
Britania Raya
Amerika Serikat
Negara komunis:

Korea utara
Republik Rakyat Cina
Uni Soviet
Komandan
Syngman Rhee

Chung Il Kwon
Douglas MacArthur
Mark W. Clark
Matthew Ridgway
Kim Il-sung

Choi Yong-kun
Van Len
Kim Chaek
Peng Dehuai
Kekuatan
Korea Selatan 590.911

Amerika Serikat 480.000
Britania Raya 63.000[1]
Kanada 26.791[2]
Australia 17.000
Filipina 7.000
Turki 5.455[3]
Belanda 3.972
Perancis 3.421[4]
Selandia Baru 1.389
Thailand 1.294
Ethiopia 1.271
Yunani 1.263
Kolombia 1.068
Belgia 900
Afrika Selatan 826
Luxembourg 44
Total: 941.356–1.139,518
Korea Utara 260.000

RRC 780.000
Uni Soviet 26.000
Total: 1.066.000
Jumlah korban
AS tewas 50.000
AS terluka 103.000
KorSel tewas 673.000
Total 1.271.244–1.818.410 RRT tewas 145.000
RRT terluka 260.000
Soviet tewas 315
Total 1.858.000–3.822.000
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Read More ..

Perang Iran-Irak


Perang Iran-Irak juga dikenali sebagai Pertahanan Suci dan Perang Revolusi Iran di Iran, dan Qadisiyyah Saddam (قادسيّة صدّام, Qādisiyyat Saddām) di Irak, adalah perang di antara Irak dan Iran yang bermula pada bulan September 1980 dan berakhir pada bulan Agustus 1988. Umumnya, perang ini dikenali sebagai Perang Teluk Persia sehingga Konflik Iraq-Kuwait meletus pada awal 1990-an, dan untuk beberapa waktu dikenali sebagai Perang Teluk Persia Pertama.

Peperangan ini bermula ketika Irak menerobos perbatasan Iran pada 22 September 1980 akibat masalah perbatasan yang berlarut-larut antara kedua negara dan juga kekhawatiran Saddam Hussein atas perlawanan Syiah yang dibawa oleh imam Khomeini dalam revolusi iran. Walaupun Irak tidak mengeluarkan pernyataan perang, tentaranya gagal dalam misi mereka di Iran dan akhirnya serangan mereka dapat dipukul mundur Iran. Walaupun PBB meminta adanya gencatan senjata, pertempuran tetap berlanjut sampai tanggal 20 Agustus 1988; Pertukaran tawanan terakhir antara kedua negara ini terjadi pada tahun 2003. Perang ini telah merubah wilayah dan situasi poltik global.

Perang ini juga memiliki kemiripan seperti Perang Dunia I. Taktik yang digunakan seperti pertahanan parit, pos-pos pertahanan senapan mesin, serangan dengan bayonet, penggunaan kawat berduri, gelombang serangan manusia serta penggunaan senjata kimia(seperti gas mustard) secara besar-besaran oleh tentara Irak untuk membunuh pasukan Iran dan juga penduduk sipilnya, seperti yang dialami juga oleh warga suku Kurdi di utara Irak. Dalam perang ini dipercaya lebih dari satu juta tentara serta warga sipil irak dan iran tewas, dan lebih banyak lagi korban yang terluka dari kedua belah pihak selama pertempuran berlangsung.

[sunting] Latar Belakang

[sunting] Asal Usul Sejarah

Walaupun perang Iran-Irak yang dimulai dari tahun 1980-1988 merupakan perang yang terjadi di wilayah Teluk Persia, akar dari masalah ini sebenarnya dimulai lebih dari berabad-abad silam. Berlarut-larutnya permusuhan yang terjadi antara kerajaan Mesopotamia(terletak di lembah sungai Tigris-Eufrat, yang kini menjadi sebuah negara Irak modern) dengan kerajaan Persia atau negara Iran modern


Tanggal 22 September 1980–20 Agustus 1988
Lokasi Teluk Persia, Perbatasan Iran-Iraq
Hasil Jalan buntu; Kegagalan strategis Iraq; Kegagalan taktis Iran; Gencatan senjata dengan mandat PBB; status quo ante bellum; Pengutukan kepada Iraq oleh PBB; Iran temporarily holds onto the Shatt al-Arab waterway
Casus belli Perselisihan jalur air Syath al-Arab; Perselisihan batas historis dan teritorial; Ketakutan rejim Ba'ath Irak terhadap ancaman Iran; Ketakutan terhadap kebangkitan Syi'ah di selatan Irak karena Revolusi Islam Iran tahun 1979.
Perubahan wilayah Kedua pihak kembali ke batas sebelum perang
Pihak yang terlibat
Iran
Persatuan Patriot Kurdistan Irak
Mujahidin Rakyat Iran
Komandan
Ruhollah Khomeini
Hashemi Rafsanjani
Ali Shamkhani
Mustafa Chamran } Saddam Hussein
Ali Hassan al-Majid
Kekuatan
305.000 prajurit
500.000 Pasdaran dan Milisi Basij
900 tank
1.000 kendaraan berat
3.000 artileri
470 pesawat
750 helikopter[1] 190.000 prajurit
5.000 tank
4.000 kendaraan berat
7.330 artileri
500+ pesawat,
100+ helikopter[2]
Jumlah korban
Est. 500,000-750,000 prajurit/milisi/sipil terbunuh atau luka Est. 375,000-500,000 prajurit/milisi/sipil terbunuh atau luka

Read More ..

Perang Vietnam




Perang Vietnam, juga disebut Perang Indochina Kedua, adalah sebuah perang yang terjadi antara 1957 dan 1975 di Vietnam. Perang ini merupakan bagian dari Perang Dingin.

Dua kubu yang saling berperang adalah Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara). Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru dan Filipina bersekutu dengan Vietnam Selatan, sedangkan USSR dan Tiongkok mendukung Vietnam Utara yang merupakan negara komunis.

Jumlah korban yang meninggal diperkirakan adalah 280.000 di pihak Selatan dan 1.000.000 di pihak Utara.

Perang ini mengakibatkan eksodus besar-besaran warga Vietnam ke negara lain, terutamanya Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Barat lainnya, sehingga di negara-negara tersebut bisa ditemukan komunitas Vietnam yang cukup besar.

Setalah berakhirnya perang ini, kedua Vietnam tersebut pun bersatu pada tahun 1976.

Salah satu korban paling terkenal dari Perang Vietnam adalah Kim Phuc

Latar belakang

Vietnam dijajah oleh Tiongkok sejak tahun 110 SM sampai mencapai kemerdekaan pada tahun 938. Setelah bebas dari belenggu penjajahan Tiongkok, Vietnam tidak berhenti menentang serangan pihak asing.

Pada abad ke-19, Vietnam menjadi wilayah jajahan Perancis. Perancis menguasai Vietnam setelah melakukan beberapa perang kolonial di Indochina mulai dari tahun 1840-an. Ekspansi kekuasaan Perancis disebabkan keinginan untuk menyaingi kebangkitan Britania Raya dan kebutuhan untuk mendapatkan hasil bumi seperti rempah-rempah untuk menggerakkan industri di Perancis untuk menyaingi penguasaan industri Britania Raya.

Semasa pemerintahan Perancis, golongan rakyat Vietnam dibakar semangat nasionalisme dan ingin kemerdekaan dari Perancis. Beberapa pemberontakan dilakukan oleh banyak kelompok-kelompok nasionalis, tetapi usaha mereka gagal. Pada tahun 1919, semasa Perjanjian Versailles dirundingkan, Ho Chi Minh meminta untuk bersama-sama membuat perundingan agar Vietnam dapat merdeka. Permintaannya ditolak dan Vietnam dan seluruh Indochina terus menjadi jajahan Perancis.

Kelompok Viet Minh akhirnya mendapat dukungan populer dan berhasil mengusir Perancis dari Vietnam. Selama Perang Dunia II, Vietnam dikuasai oleh Jepang. Pemerintah Perancis Vichy bekerjasama dengan Jepang yang mengantar tentara ke Indochina sebagai pasukan yang berkuasa secara de facto di kawasan tersebut. Pemerintah Perancis Vichy tetap menjalankan pemerintahan seperti biasa sampai tahun 1944 ketika Perancis Vichy jatuh setelah tentara sekutu menaklukan Perancis dan jendral Charles de Gaulle diangkat sebagai pemimpin Perancis.

Setelah pemerintah Perancis Vichy tumbang, pemerintah Jepang menggalakkan kebangkitan pergerakan nasionalis di kalangan rakyat Vietnam. Pada akhir Perang Dunia II, Vietnam diberikan kemerdekaan oleh pihak Jepang. Ho Chí Minh kembali ke Vietnam untuk membebaskan negaranya agar tidak dijajah oleh kekuasaan asing. Ia menerima bantuan kelompok OSS (yang akan berubah menjadi CIA nantinya).

Pada akhir Perang Dunia II, pergerakan Viet Minh di bawah pimpinan Ho Chí Minh berhasil membebaskan Vietnam dari tangan penjajah, tetapi keberhasilan itu hanya untuk masa yang singkat saja. Pihak Jepang menangkap pemerintah Perancis dan memberikan Vietnam satu bentuk “kemerdekaan” sebagai sebagian dari rancangan Jepang untuk "membebaskan" bumi Asia dari penjajahan barat. Banyak bangunan diserahkan kepada kelompok-kelompok nasionalis.

[sunting] Latar belakang

Vietnam dijajah oleh negeri China sejak tahun 110 S.M. sehinggalah mencapai kemerdekaan dalam tahun 938. Selepas bebas dari belenggu dan kongkongan China, Vietnam tidak henti-henti menentang keganasan oleh kuasa-kuasa luar.

Dalam abad ke-19, Vietnam menjadi wilayah jajahan Perancis. Perancis menguasai Vietnam selepas mengadakan beberapa siri peperangan kolonial di Indochina mulai tahun-tahun 1840-an hingga ke tahun-tahun 1840-an. Pengluasan pengaruh Perancis disebabkan hasrat untuk menyaingi kebangkitan Empayar British dan keperluan mendapatkan hasil mentah seperti getah dan bijih bagi maksud menggerakkan perindustrian di Perancis untuk bersaing dengan penguasaan menyeluruh oleh industri British.

Semasa pemerintahan Perancis, segolongan rakyat Vietnam dibakar semangat nationalisme dan mahukan kemerdekaan daripada penjajahan Perancis. Beberapa pemberontakan dan tentangan dibuat oleh banyak kumpulan-kumpulan nationalis, tetapi usaha mereka gagal. Dalam tahun 1919, semasa Perjanjian Versailles sedang dirundingkan, Ho Chi Minh meminta untuk bersama-sama membuat perundingan supaya boleh menghujahkan kemerdekaan untuk Vietnam. Permintaannya ditolak dan Vietnam dan seluruh takluk Indochina terus kekal sebagai tanah jajahan Perancis.

Kumpulan penentang Viet Minh akhirnya berjaya mendapat sokongan popular dan berjaya mengusir penjajah Perancis dari bumi Vietnam. Semasa Perang Dunia II, Vietnam dikuasai oleh Tentera Jepun. Kerajaan Vichy Perancis berkerjasama dengan pihak Jepun yang menghantar bala tentera ke Indo-China sebagai pasukan berkuasa di kawasan tersebut. Kerajaan Vichy Perancis menjadi kerajaan boneka kerana kuasa pemerintahan sebenarnya di tangan pihak Jepun. Pemerintah Vichy Perancis mentadbir Indochina sehingga tahun 1944 apabila Kerajaan Vichy Peranchis tumbang selepas Tentera Berikat menakluki Perancis dan Jeneral Charles de Gaulle diangkat sebagai Pemimpin Perancis.

Setelah kerajaan Vichy Perancis tumbang, pemerintah Jepun menahan Pentadbir-pentadbir Perancis dan memalukan pembesar-pembesar kolonial di khalayak ramai. Pihak Jepun kemudiannya menggalakkan kebangkitan pergerakan nasionalis di kalangan rakyat Vietnam. Pada pengakhir Perang Dunia II, Vietnam diberikan kemerdekaan oleh pihak Jepun. Ho Chí Minh kembali ke Vietnam untuk membebaskan negaranya daripada dijajah oleh kuasa asing. Dia menubuhkan pergerakan penentang, dan menerima bantuan kumpulan OSS (yang akan berubah menjadi CIA kelak).

Pada penghujung Perang Dunia II, pergerakan Viet Minh di bawah pimpinan Ho Chí Minh berjaya membebaskan Vietnam daripada belenggu penjajah, Tetapi kejayaan itu untuk masa yang singkat sahaja. Pihak Tentera Jepun telah menawan pemerintah Perancis dan memberikan Vietnam satu bentuk “kemerdekaan” sebagai sebahagian daripada rancangan Jepun "membebaskan" bumi Asia daripada penjajahan Barat. Banyak bangunan awam diserahkan kepada kumpulan-kumpulan nasionalis.

[sunting] Ho Chi Minh Berkuasa
Berkas:Dienbienphu.jpg
Tentera Perancis di Vietnam.

Di Persidangan Potsdam, pihak Berikat memutuskan Vietnam ditadbir oleh Tentera British dan China yang akan menyelia penyerahan senjata Tentera Jepang dan kepulangan mereka pulang ke Jepang. Kumpulan Viet Minh pimpinan Ho Chi Minh sebelumnya dibantu pihak Jepang di Indochina apabila para pentadbir dan pemerintah rakyat Perancis dipenjarakan. Bangunan awam juga diserahkan oleh pihak Jepang kepada kawalan oleh Viet Minh. Selepas Jepang menyerah kalah, kumpulan nasionalis Vietnam, kumpulan Komunis dan lain-lain kumpulan mengambilalih pentadbiran negeri.

Pada 2 September 1945, Ho Chi Minh mengisytiharkan penubuhan sebuah kerajaan baru Vietnam di bawah pimpinan beliau. Dalam ucapannya, beliau memetik Pengisytiharan Kemerdekaan Amerika Syarikat dan sebuah pancaragam memainkan lagu "The Star Spangled Banner." Ho Chi Minh yang menjadi agen Komunis Antarabangsa Ketiga sejak awal tahun 1920-an mengharapkan kerajaan Amerika Syarikat akan menyokong kerajaan baru di Vietnam, walaupun kerajaan baru itu sebuah kerajaan di bawah pengaruh Komunis. Harapan beliau Amerika Syarikat akan mengkotakan ucapan-ucapan Franklin D. Roosevelt yang menentang kolonialisme Eropah selepas Perang Dunia II. Franklin D. Roosevelt mahukan rakyat negara-negara Dunia Ketiga menentukan nasib mereka sendiri. Akhirnya, di bawah pimpinan Harry S. Truman, Amerika Syarikat menukar rentak dan tidak membantah Perancis menduduki semula tanah-tanah jajahannya, termasuk Vietnam, selepas tamat perang.
Berkas:Uncleho.jpg
Ho Chi Minh, pemimpin Vietnam Utara.

Kumpulan pimpinan Ho Chí Minh mengumumkan penubuhan sebuah kerajaan Vietnam, dan Maharaja Bao Dai dipaksa turun takhta. Namun demikian, kerajaan itu dapat bertahan beberapa hari sahaja. Dengan ketibaan tentera China, kerajaan pimpinan Ho Chi Minh tiada berkuasa lagi. Apabila pemerintah Perancis dibebaskan selepas Jepun menyerah diri, kuasa penjajah bertapak semula, khususnya di kawasan selatan Vietnam. Tentera Perancis mendarat semula di bahagian utara Vietnam.

Pihak mana yang berkuasa di Vietnam menjadi rumit apabila Tentera Bersekutu kembali ke Vietnam selepas bulan September 1945. Indochina dibahagikan kepada zon-zon kependudukan oleh Tentera Bitish dan Tentera China. Tentera China masuk ke kawasan Vietnam Utara selang beberapa hari selepas ucapan Ho Chi Minh mengisytiharkan kemerdekaan Vietnam. Tentera China menduduki kawasan di sebelah utara Garisan 16 darjah garis lintang (16th parallel). Pasukan Tentera British sampai dalam bulan Oktober 1945 dan menguasai kawasan-kawasan di selatan garisan lintang tersebut.

Di bahagian selatan, pihak Perancis berjaya memujuk Tentera British untuk mengembalikan kuasa kepada pihak Perancis. Pegawai-pegawai Perancis yang dibebaskan daripada penahanan Jepun dalam bulan September 1945 diambil semula sebagai pentadbir. Perancis gembira dengan Keadaan di selatan Vietnam. Di sebelah utara, kerajaan Perancis menrundingkan dengan Kerajaan Nasionalis China dan juga dengan Kumpulan Viet Minh di bawah pimpinan Ho Chi Minh. Pihak Perancis bersetuju meninggalkan Shanghai sekiranya Kerajaan Nasionalis China membenarkan Perancis menguasai semula Vietnam Utara. Ho Chi Minh dan Viet Minh bersetuju pihak Perancis kembali menduduki Hanoi sekiranya Perancis memberikan pengiktirafan kepada kemerdekaan Vietnam di dalam satu Kesatuan Perancis.

Dalam masa perundingan dijalankan, Ho Chi Minh mengambil kesempatan menghapuskan lain-lain kumpulan nasionalis Vietnam. Setelah beberapa lama berunding, tiada penyelesaian dicapai mengenai pembahagian kuasa antara Perancis dan Viet Minh. Tentera China berundur ke sempadan sendiri dan tentera Perancis masuk menguasai Hanoi. Kumpulan Viet Minh melarikan diri ke kawasan pendalaman dan pergunungan. Di sana Viet Minh menyusun satu insurgensi yang membawa kepada Perang Indochina. Perancis berperang dengan Viet Minh untuk mengembalikan penguasaan wilayah Vietnam kepada kolinialisme Perancis.

Ho Chí Minh mendapat bantuan China apabila pihak Komunis bertapak di negeri China, dan dibekalkan dengan persenjataan dan bekalan yang diperlukan oleh Ho Chi Minh untuk menjadikan pasukan gerilanya menjadi satu pasukan tentera regular.

Pasukan Viet Minh akhirnya berjaya menang besar mengalahkan tentera Perancis di pertempuran Dien Bien Phu dan pihak Perancis terpaksa merundingkan pengunduran mereka dari bumi Vietnam. Vietnam Utara yang berada di bawah Ho Chí Minh dijadikan sebuah kerajaan Komunis.

[sunting] Pembagian Vietnam Kepada Utara dan Selatan

Viet Minh secara berperingkat bertukar menjadi satu pasukan tentera konvensional yang berkelengkapan moden. Proses perubahan ini dicepatkan apabila Republik Rakyat China berjaya mengambilalih pemerintahan negeri China. Pada mulanya Viet Minh tidak berupaya menewaskan tentera Perancis di kawasan berpenduduk di Vietnam Utara, pasukan tersebut berjaya bertapak di kawasan-kawasan yang bersempadan dengan China dan juga di kawasan pendalaman seperti di Laos. Akhirnya Viet Minh berjaya menumpaskan tentera Perancis di Dien Bien Phu, dan pihak Perancis terpaksa berundur dari Vietnam. Seluruh Indochina diberikan kemerdekaan, termasuk Laos dan Kemboja. Tetapi Vietnam dibahagikan kepada 2 bahagian berbeza, dengan garis lintang 17 darjah utara (17th parallel) sebagai garis pemisah.

Vietnam terbahagi dua – Vietnam Utara sebagai sebuah negara Komunis dipisahkan oleh sebuah kawasan bebas tentera (demilitarised zone) dengan Vietnam Selatan. Kerajaan Vietnam Selatan yang didokong oleh Amerika Syarikat, enggan mengadakan pilihanraya yang bertujuan mencantumkan semula Vietnam seperti yang dipersetujui di Persidangan Geneva 1954.

Di sebelah utara, wujud Republik Demokratik Vietnam di bawah Viet Minh, dan di selatan pula wujud Vietnam, sebuah kerajaan bukan Komunis di bawah Maharaja Bao Dai. Tidak lama selepas itu, Bao Dai digulingkan oleh Ngo Dinh Diem, yang kemudiannya menubuhkan Republik Vietnam atau lebih dikenali sebagai Vietnam Selatan. Seperti ditetapkan samasa Perjanjian Geneva 1954, pembahagian kepada dua bahagian ini adalah sementara sahaja, sementara menunggu keputusan satu pilihanraya untuk memilih ketua negara yang akan diadakan dalam tahun 1956.
Berkas:NgoDinhDiem.jpg
Ngo Dinh Diem

Dalam tahun 1955, Ho Chi Minh melancarkan kempen untuk memusnahkan kumpulan anti-revolusioner di Vietnam Utara. Pemilik tanah dan lain-lain anti-revolusioner ditahan dan dibunuh. Bilangan mereka yang dibunuh dianggarkan oleh Stanley Karnow seramai 6,000 orang. Manakala, R.J. Rummel pula menganggarkan kematian seramai 200,000 orang.

Melihat dasar kerajaan Vietnam Utara ini, kerajaan Ngo Dinh Diem enggan merundingkan pilihan raya yang ditetapkan, dan keputusan ini disokong oleh Amerika Syarikat yang risaukan kemenangan puak Komunis. Ngo Dinh Diem juga mempersoalkan kewibawaan pilihan raya yang dikendalikan oleh pihak Vietnam Utara. Kerajaan Ngo Dinh Diem tidak menandatangani Perjanjian Geneva, ia ditandatangani oleh bekas maharaja Bao Dai. Dengan itu, Ngo Dinh Diem merasakan tiada salah jika kerajaannya tidak menurut peruntukan Perjanjian tersebut.

Pihak Komunis memang bersiap sedia untuk menyerang Vietnam Selatan, sejak sebelum Perjanjian Geneva ditandatangani. Persiapan ini dibuat sekiranya penyatuan tidak dapat dicapai melalui kemenangan dalam pilihanraya. Ho Chi Minh memerintahkan beribu-ribu orang agen Komunis untuk menyusup masuk ke Vietnam Selatan, dan menyediakan tempat tersembunyi untuk simpanan senjata.

Dalam musim panas 1955, Ngo Dinh Diem melancarkan kempen mengecam Komunis, bila mana anasir Komunis dan anasir-anasir anti kerajaan telah ditahan ataupun dibunuh. Dalam masa ini, penghijrahan besar-besaran berlaku. Dianggarkan 100,000 orang berhijrah daripada kawasan selatan ke Vietnam Utara, dan lebih 1 juta berhijrah dari Vietnam Utara ke selatan. Dalam bulan Januari 1959, Jawatankuasa Pusat Parti Pekerja Vietnam meluluskan resolusi sulit memberikan kuasa untuk perjuangan bersenjata di Vietnam Selatan.

Ho Chi Minh menerima hantaran senjata dan peralatan lain daripada Kesatuan Soviet dan China melalui Pelabuhan Haiphong. Peralatan dan senjata ini kemudiannya dihantar melalui Laluan Truong Son (dipanggil Laluan Ho Chi Minh oleh pihak Amerika Syarikat) kepada NLF and Viet Cong di Vietnam Selatan. Laluan Truong Son ini melalui negara jiran Laos dan Kemboja, dan berakhir kira-kira 50 km di luar Saigon. Ini merumitkan keadaan, dan Amerika Syarikat tertekan kerana tidak dapat menyerang laluan ini tanpa memasuki ataupun menakluki kawasan negara-negara tersebut. Dalam masa yang sama, Laos dan Kemboja sendiri menghadapi pemberontakan oleh kumpulan-kumpulan Komunis di negara mereka. Di Laos, kumpulan Pathet Lao dipengaruhi dan dilengkapkan oleh Vietnam Utara. Kemboja secara rahsia membenarkan kawasannya digunakan oleh Vietnam Utara untuk penghantaran bekalan kepada pemberontak di Vietnam Selatan.

Apabila tentangan kepada pemerintahan Ngo Dinh Diem semakin kuat dan terbuka, Vietnam Utara mencetuskan satu insurgensi di Vetnam Selatan. Barisan Pembebasan Kebangsaan (National Liberation Front) diuruskan, dibaiyai dan diberikan perbekalan oleh Vietnam Utara. Amerika Syarikat, Kesatuan Soviet dan Republik Rakyat China semakin terlibat.

Insurgensi Secara Terbuka

Dalam bulan Disember 1960, dengan arahan diberikan dari Hanoi, anasir Komunis di Vietnam selatan menubuhkan Barisan Pembebasan Kebangsaan NLF untuk menggulingkan kerajaan Vietnam Selatan. Barisan Pembebasan Kebangsaan terdiri daripada dua kumpulan berbeza (i) para intelek Vietnam Selatan, seperti Truong Nhu Tang, yang menentang kerajaan pimpinan Ngo Dinh Diem dan (ii) anasir Komunis seperti Nguyen Thi Binh, yang terus tinggal di Vietnam Selatan selepas pembahagian Vietnam dan penghijrahan beramai-ramai tahun 1954 dan dibantu oleh anasir Komunis yang dihantar ke selatan oleh Viet Minh. Tentera Vietnam Utara menguasai sebahagian besar wilayah timur negara [[Laos] dan membekalkan NLF dengan senjata melalui Laluan Ho Chi Minh.

Pada mulanya, kerajaan Presiden diem menunjukkan keupayaan menangani insurgensi dengan bantuan penasihat-penasihat tentera Amerika Syarikat. Dalam tahun 1962, Vietnam Selatan seakan-akan sedang menang dalam perjuangan menentang insurgensi. Pegawai-pegawai kanan Amerika Syarikat mendapat laporan positif daripada Gen. Paul D. Harkins, pegawai pemerintah Ketumbukan Bantuan ketenteraan (Military Assistance Command, Vietnam) ataupun MACV. President John F. Kennedy menambah bilangan "penasihat" Amerika Syarikat dengan harapan tentera Amerika dapat mengalahkan insurgensi seperti yang berjaya dicapai oleh pasukan keselamatan Tentera British di Malaya semasa Darurat.

Pertempuran Di Ap Bac
Berkas:Battlefield at Ap Bac.jpg
Ap bac : CH-21 dan Huey terhempas di sawah padi

Pada 2 Januari, 1963 pertempuran besar-besaran yang pertama berlaku di Ap Bac di antara pasukan ARVN (Tentera darat Republik Vietnam) seramai 1,400 orang anggota dan pasukan Komunis Vietnam Selatan seramai 350 orang. Tentera ARVN mengalami kekalahan teruk dan mengalami 83 anggota terkorban dan 108 orang lain cedera sementara pihak tentera Komunis berjaya melepaskan diri dengan hanya 18 orang anggota terkorban.

Pertempuran Ap Bac dalam tahun 1963 menunjukkan peningkatan insurgensi di Vietnam Selatan kesan daripada perolehan anggota, senjata dan bekalan daripada Vietnam Utara. Pemberontakan kini dibuat secara terang-terangan. Presiden Ngo Dinh Diem kian dibenci oleh rakyat kerana kerajaannya menganjurkan nepotisme dan korupsi. Kerajaan Presiden Ngo Dinh Diem juga berat sebelah kepada minoriti beragama Kristian dengan membelakangkan kumpulan majoriti yang beragama Buddha. Kerajaan Amerika Syarikat mulai yakin bahawa Presiden Diem tidak akan berupaya menewaskan Vietnam Utara. Bahkan Amerika Syarikat mengesyaki Presiden Ngo Dinh Diem akan membuat perjanjian dengan Vietnam Utara.

Putera Sihanouk dan Pakatannya

Dalam tahun 1965, Putera Sihanouk dari Kemboja membuat pakatan dengan China dan Vietnam Utara membolehkan tentera Vietnam Utaramenubuhkan pengkalan tentera yang tetap di Kemboja. Vietnam Utara dan China juga boleh menggunakan Pelabuhan di Sihanoukville untuk hantaran senjata dan perbekalan tentera. Dalam tahun 1970, Putera Sihanouk digulingkan oleh Perdana Menteri Lon Nol dan laluan melalui Sihanoukville tidak lagi dibenarkan. Dalam masa itu, Laluan Ho Chi Minh telah dibangunkan dan kini boleh mengendalikan lori dan trak tentera. Laluan Ho Chi Minh menjadi nadi penting bagi NLF di Vietnam Selatan dan menjadi sasaran serangan udara oleh Tentera Udara Amerika Syarikat

[sunting] Prinsip Perjuangan

Kerajaan Vietnam Selatan dan sekutunya terdiri dari negara-negara Barat mencerminkan konflik ini sebagai penggunaan kuasa tentera sebagai cara untuk mengubah suasana politik melalui tentangan prinsip Komunisme bagi membolehkan mereka menyekat pengluasan pengaruh Komunisme oleh Soviet Union dan China di Asia Tenggara. Ini mencorakkan bentuk penentangan kuasa besar di masa-masa akan datang.

Kerajaan Vietnam Utara melihat peperangan ini sebagai satu perjuangan untuk menyatukan semula negara Vietnam di bawah pimpinan sebuah negara sosialis dan untuk menghalau pencoroboh asing – sebagai ikutan kepada penentangan mereka terhadap penjajahan Perancis.

[sunting] Campur Tangan Amerika

[sunting] Penglibatan Amerika Semasa Presiden Harry S Truman

Semasa Perang Dunia II, Office of Strategic Services atau OSS (kini CIA) memberikan bantuan ketenteraan kepada Ho Chi Minh. Selepas tamat Perang Dunia II, Amerika Syarikat melihat Viet Minh dengan kesangsian, kerana pegangan Komunisme Viet Minh. Walaupun demikian, pegawai-pegawai OSS masih ditugaskan untuk tujuan penyelarasan dengan Viet Minh. OSS memberikan bantuan kepada Viet Minh untuk menguruskan pulang anggota tentera Amerika yang telah menjadi tawanan perang jepang dan ditahan di Vietnam. Pada 26 September 1945, Lt. Col. A. Peter Dewey [1] seorang pegawai OSS ditembak mati oleh Viet Minh, menjadikan beliau anggota tentera pertama terbunuh di Vietnam.

Dengan tercetusnya Perang Korea, Presiden Harry S. Truman meningkatkan bantuan ketenteraan kepada kerajaan Perancis untuk memungkinkan kemenangan Perancis mengatasi pemberontakan oleh Viet Minh. Harry S. Truman mengumumkan "acceleration in the furnishing of military assistance to the forces of France and the Associated States in Indochina…" dan menghantar 123 orang pegawai tentera ke Vietnam untuk membantu Perancis di dalam peranan bukan tempur. Dalam tahun 1951, Presiden Harry S. Truman membuat sumbangan $150 juta untuk membantu membiayai kos perang Perancis di Vietnam.

[sunting] Penglibatan Amerika Semasa Presiden Dwight D. Eisenhower 1953–1961

Presiden Dwight D. Eisenhower menggunakan kuasa dan prestij Tentera Amerika Syarikat untuk membantu penubuhan sebuah kerajaan bukan Komunis di Vietnam Selatan. Pentadbiran Eisenhower amat risau akan kejayaan pihak Komunis bertapak dan meluaskan pengaruhnya di Asia Tenggara. Amerika Syarikat mengalami 142,000 orang anggota tentera terbunuh di Korea dalam usaha membantutkan kemaraan Komunisme di Semenanjung Korea. Di Malaya, Pentadbiran Eisenhower melihat Tentera British dan anak-anak watan Malaya bergelut menentang pemberontakan oleh Parti Komunis Malaya. Amerika Syarikat melihat ini sebagai sebahagian daripada rancangan besar Komunisme untuk bertapak dan menular ke seluruh pelosok dunia.

Pentadbiran Eisenhower tidak mahukan pengorbanan besar di Korea akan menjadi sia-sia sekiranya Komunisme berjaya bertapak di Asia Tenggara. Tetapi Pentadbiran Eisenhower menghadapi kesukaran mendapatkan sokongan ramai untuk melibatkan diri dalam satu lagi peperangan selepas Perang Korea. Dwight D. Eisenhower menggunakan pasukan-pasukan kecil "penasihat tentera" dipanggil Kumpulan Bantuan Penasihat Tentera (Military Assistance Advisory Group) ataupun MAAG ke Vietnam Selatan untuk membantu Vietnam Selatan menentang kemaraan Komunisme.

Pada 1 November 1955, Dwight D. Eisenhower menghantar kumpulan pertama MAAG ke Vietnam Selatan untuk memberikan latihan kepada Tentera Vietnam Selatan (ARVN). Ini merupakan permulaan pembabitan rasmi Amerika Syarikat di dalam perang Vietnam. Pada 8 Julai, 1958, Charles Ovnand and Dale R. Buis menjadi anggota MAAG pertama terbunuh semasa bertugas di Vietnam. [2] [3]

[sunting] John F. Kennedy - Perkembangan Dasar Kawalan

Dalam bulan Jun 1961, John F. Kennedy bertemu Nikita Khrushchev di Vienna, Austria. Mereka bercanggah pendapat dalam perkara-perkara dasar berkaitan isu-isu Amerika-Soviet. Perjumpaan itu menyakinkan Presiden John F. Kennedy dan para analisis seperti John Kennan bahawa Asia Tenggara akan menjadi medan di mana Soviet Union akan menguji keazaman Amerika Syarikat menguatkuasakan dasar mengawal pengaruh Komunis (containment policy) yang dimulakan oleh Pentadbiran Truman dan dikuatkan oleh kebuntuan penguasaan Komunis semasa Perang Korea.
Thích Quảng Ðức membakar dirinya hidup-hidup sebagai membantah Perang Vietnam. Menurut David Halberstam, "Semasa dia terbakar dia langsung tidak bergerak, tidak mengeluarkan bunyi"

John F. Kennedy berminat dengan konsep penggunaan Pasukan Khas untuk operasi tindakan cegah insurgensi (counterinsurgency). John F. Kennedy melihat kejayaan Tentera British menangani Darurat di Malaya sebagai satu pencontoh cara mana insurgensi dapat ditewaskan. Pasukan Special Forces Tentera Amerika ditubuhkan sebagai pasukan gerila yang menjalankan peperangan bukan konvesional di belakang barisan musuh di Eropah, John F. Kennedy percaya pasukan Green Berets boleh memberikan kesan besar menjalankan peperangan kecil-kecilan (dipanggil “brush fire” oleh Pentadbiran Kennedy) di Vietnam.

Dalam bulan Mei, 1961 — John F. Kennedy menghantar 400 orang anggota Green Beret ke Vietnam Selatan sebagai "Penasihat Khas" untuk melatih ARVN. John F. Kennedy juga membenarkan juruterbang Amerika syarikat membuat penerbangan tempur sambil berpura-pura melakukan misi latihan penerbangan. Pada 20 Januari 1961 Presiden Perancis, Charles de Gaulle memberitahu Presiden John F. Kennedy "I predict you will sink step by step into a bottomless quagmire, however much you spend in men and money". [4] [5]

John F. Kennedy menghadapi krisis besar dalam tiga bahagian ketika itu, (i) kegagalan operasi Bay of Pigs di Cuba (ii) pemisahan Berlin dengan pembinaan Tembok Berlin (iii) penyelesaian secara rundingan di antara Kerajaan pro-Barat di Laos dengan kumpulan Komunis Pathet Lao di Laos. John F. Kennedy takutkan kegagalan Amerika Syarikat mengawal pengluasan pengaruh Komunis di Indochina akan melumpuhkan kredibiliti Amerika Syarikat. John F. Kennedy berazam untuk berpatah arang menghalang kemenangan pihak Komunis di Vietnam. Kata John F. Kennedy, “Now we have a problem in making our power credible and Vietnam looks like the place”. [6]

Pentadbiran Kennedy semakin hampa dengan Presiden Ngo Dinh Diem. Dalam tahun 1963, tindakan keras ke atas sami-sami Buddha yang membantah tindakan kerajaannya mencetuskan peristiwa di mana sami-sami membakar diri mereka hidup-hidup di hadapan pemberita-pemberita antarabangsa. Peristiwa yang mendapat liputan meluas adalah peristiwa membakar diri hidup-hidup oleh Thích Quảng Ðức untuk membantah kekejaman tindakan Presiden Ngo Dinh Diem ke atas kumpulan sami Buddha. Anasir-anasir Komunis mengambil kesempatan untuk menabur fitnah dan dakyah untuk membangkitkan kemarahan penganut fahaman Buddha dan mencetus ketidakstabilan sosial.

Pentadbiran Kennedy cuba memberi tekanan kepada Ngo Dinh Diem dengan meminta Pegawai-pegawai ARVN bertindak menentang tindakan melampau ke atas pembantah Buddha tetapi tidak mendapat sokongan. Ngo Dinh Diem juga keras hati dan tidak selalunya mahu menerima “nasihat” oleh pegawai Tentera Amerika, sebaliknya membuat keputusan sendiri.

Dalam bulan November 1963, kedutaan Amerika Syarikat di Saigon memberikan petanda kepada pengkomplot bahawa Amerika Syarikat tidak ada halangan untuk menggulingkan Ngo Dinh Diem daripada berkuasa. Presiden Ngo Dinh Diem digulingkan dalam satu rampasan kuasa tentera dan dihukum bunuh. Keadaan keselamatan menjadi huru hara dan Vietnam Utara mengambil kesempatan untuk menguatkan kedudukan konco dan anasirnya di Vietnam Selatan.

Vietnam Selatan seterusnya melalui satu tempoh ketidakstabilan, dengan pemerintahan tentera yang saling berganti. Amerika Syarikat semakin runsingkan keadaan dan meningkatkan bilangan anggota penasihat tenteranya di Vietnam. Secara perlahan, Amerika Syarikat ditarik masuk ke dalam kemelut perang di Vietnam. Tujuh kerajaan mengambil kuasa dalam tahun 1964. Dalam tempoh 16 Ogos hingga 3 September sahaja, kerajaan bertukar sebanyak 3 kali. Peralihan ini hanya menguatkan pergerakan Vietcong dan anasir Viet Minh. Mereka menggunakan sepenuhnya kekosongan kuasa ini untuk menguatkan kedudukan mereka dan mengumpulkan lagi bekalan senjata dan peralatan lain.

[sunting] Lyndon B. Johnson Dan Peningkatan Penyertaan Amerika Syarikat

Dalam bulan Jun, 1964 Presiden Lyndon B. Johnson melantik Jeneral William Westmoreland menggantikan Paul D. Harkins sebagai Pemerintah MAAG di Vietnam. Di bawah pimpinan Westmoreland, bilangan anggota Tentera Amerika meningkat dari 16,000 orang anggota dalam tahun 1964 kepada lebih 500,000 orang selepas Serangan Tet dalam tahun 1968. Peningkatan dibuat secara berperingkat oleh Westmoreland. Peningkatan pertama berlaku pada 27 Julai, 1964, apabila 5,000 orang penasihat tentera dikerah ke Vietnam, menjadikan jumlah anggota seramai 21,000 kesemua.

Insiden Teluk Tonkin
Gambar Foto diambil Dari USS Maddox Semasa Serangan oleh 3 Buah bot Penyerang Torpedo Vietnam Utara

Peningkatan mendadak berlaku selepas Insiden Teluk Tonkin pada tarikh-tarikh 2 Ogos 1964 hingga 4 Ogos [1964]]. Dalam insiden ini Presiden Johnson mendakwa kapal pemusnah USS Maddox dan USS C. Turner Joy dari Pasukan Petugas Tentera Laut Amerika telah diserang oleh bot penyerang pembawa torpedo milik Vietnam Utara. Sebelum itu, tidak ada sengketa secara berdepan di antara Amerika Syarikat dan Vietnam Utara. Kesahihan dakwaan serangan ini menjadi bahan perdebatan sehingga kini. (Laporan yang disebarkan oleh Agensi Keselamatan Kebangsaan (National Security Agency) dalam tahun 2005 menunjukkan tidak ada serangan dibuat pada 4 Ogos 1964 seperti yang didakwa Johnson)

Ekoran dari serangan ini, Senat Amerika Syarikat meluluskan Resolusi Teluk Tonkin pada 7 Ogos 1964, yang memberikan sokongan dan kuasa meluas kepada Presiden Johnson untuk membantu mana-mana kerajaan Asia Tenggara yang diancam oleh penggulingan Komunis. Resolusi ini memberikan mandat kepada Presiden Johnson untuk meningkatkan penglibatan Amerika Syarikat di Vietnam, “mengikut ketetapan yang dibuat oleh Presiden”, tetapi dengan tidak mengisytiharkan keadaan perang. Resolusi ini diluluskan sebulat suara oleh Dewan Perwakilan (House of Representatives) dan di Kongres, hanya 2 bantahan diterima dari Wayne Morse (Oregon) dan Ernest Gruening (Alaska). Morse menyatakan bahawa sejarah akan menunjukkan bahawa beliau dan Gruening bertindak untuk mempertahankan kepentingan rakyat Amerika.

Presiden Johnson dalam ucapan di televisyen membahaskan bahawa cabaran yang dihadapi di Asia Tenggara sama seperti cabaran di Greece, Turki, Berlin, Korea, Lubnan dan Cuba. Pada 28 November, 1964 Majlis Keselamatan Kebangsaan di anggotai oleh Robert McNamara, Dean Rusk, dan Maxwell D. Taylor membuat cadangan saranan supaya peningkatan dibuat saranan kepada Presiden Johnson menggunakan pelan 2 peringkat bagi peningkatan campurtangan Amerika Syarikat di Vietnam. Dengan peningkatan pembabitan Amerika Syarikat di Vietnam, mengikut komitmen di bawah Perjanian SEATO, Australia dan New Zealand bersetuju menyumbang anggota tentera dan bahan peperangan kepada usaha ketenteraan di Vietnam.

Australia memperkenalkan kerahan tentera akhir tahun 1964, melibatkan mereka yang berumur 20 tahun untuk mendaftar. Pemilihan akan dibuat melalui cabutan di bawah Skim Khidmat Negara (National Service Scheme). Pemilihan akan dibuat setiap 3 hingga 6 bulan dan mereka yang dilahirkan pada tarikh loteri tersebut perlu menghadiri pemeriksaan fizikal dan psikologi. Mereka yang lulus pemeriksaan akan dihantar ke Vietnam untuk berkhidmat selama 2 tahun.

Memilih Strategi

Sepanjang musim gugur dan musim sejuk tahun 1964, Pentadbiran Johnson membahaskan strategi terbaik untuk memerangi pengaruh komunis di Vietnam. Majlis Ketua-Ketua Turus Angkatan Tentera mahu meningkatkan penggunaan pesawat Tentera Udara Amerika di Vietnam Utara untuk membantu penstabilan kerajaan di Vietnam Selatan. Penganalisis awam di Pentagon mahukan kekerasan dikenakan secara berperingkat menggunakan pengeboman yang terpilih yang terhad. Penolong Setiausaha Negara George Ball tidak bersetuju dan menuduh dasar oleh Pentadbiran Johnson terlampau menekan dan hanya memberikan pulangan yang tidak berbaloi.
Berkas:CaribouUSArmy.jpg
Pesawat C-7 Caribou Tentera Amerika di Pengkalan Pleiku

Selepas Insiden Teluk Tonkin, Johnson mengumumkan bahawa Amerika tidak mahukan perang yang lebih meluas. Vietnam Utara pula mula menghantar anggota-angota terlatih dari Tentera Rakyat Vietnam (PAVN) ke Vietnam Selatan. Mereka menyelaras pergerakan dengan Vietcong. Pada 7 Februari, 1965, mereka melancarkan serangan ke atas sebuah pengkalan helikopter Amerika di Pleiku dan mengakibatkan 8 anggota tentera terbunuh, 126 orang cedera dan 10 buah helikopter musnah. Pada 10 Februari 1965, mereka membuat serangan lain ke atas kediaman tentera amerika di Qui Nhon, dan berjaya membunuh 23 orang tentera Amerika dan mencederakan 21 orang yang lain. Serangan ini dibuat semasa lawatan Aleksey Kosygin, Perdana Menteri Soviet Union ke Hanoi untuk berusaha memujuk Vietnam ke meja perundingan. Aleksey Kosygin menghentikan usaha damainya selepas serangan tersebut dan sebaliknya menjanjikan kepada Vietnam Utara bantuan tentera tanpa bersyarat.

Selepas serangan ini, Johnson mengarahkan serangan balas dengan pengeboman dari udara dilancarkan. Penasihat Presiden Johnson, khususnya McGeorge Bundy dan Robert McNamara percaya pentingnya dilancarkan serangan udara yang intensif ke atas Vietnam Utara untuk menunjukkan balasan bakal diterima sekiranya Vietnam Utara menyokong NLF. Operasi Flaming Dart merupakan kali pertama serangan udara ke atas Vietnam Utara dilakukan sebagai balasan kepada serangan ke atas pengkalan Amerika di selatan. Serangan juga dimulakan ke atas sasaran Vietcong and PAVN di Vietnam Selatan. Tentera Amerika juga melengkapkan pengkalan Da Nang dengan misil darat ke udara jenis Hawk sebagai langkah berwaspada seandainya Hanoi hendak melancarkan serangan udara ke atas pengkalan tersebut. Melihat perkembangan ini, Soviet Union membekalkan misil Da Nang jenis SAM-2 dan SAM-3 ke Vietnam Utara.

Pada 2 Mac 1965, Johnson memberi kelulusan untuk memulakan serangan berterusan ke atas Vietnam Utara. Oleh kerana pasukan ARVN dianggap terlalu lemah untuk memberikan perlindungan, anggota pasukan tempur Amerika diperlukan untuk mengadakan kawalan keselamatan di pengkalan-pengkalan udara yang digunakan tentera Amerika. Pada 8 Mac, 1965, kumpulan pertama terdiri dari 3,500 orang anggota Merin dari Rejimen ke-9 Kor Merin mendarat di Da Nang. Pada akhir bulan April, mereka diikuti oleh 56,000 anggota tentera tambahan. Pada akhir bulan Jun, tambahan tentera meningkat kepada 74,000 orang.

Peningkatan Bilangan Tentera Amerika

Pada permulaan bulan Mac 1965, bilangan tentera Amerika di Vietnam berjumlah 25,000 orang penasihat tentera. Pendaratan oleh Rejimen ke-9 Kor Marin Amerika di Da Nang pada 8 Mac, 1965 merupakan titik tolak peningkatan campur tangan tentera Amerika di Vietnam. Peperangan udara juga ditingkatkan. Pada 24 Julai 1965, 4 buah pesawat MCDonnell Douglas F-4C Phantom II yang mengiringi misi pengeboman di Kang Chi diserang oleh misil darat ke udara Vietnam Utara. Ini merupakan pertama kali pesawat udara Amerika diserang. Sebuah pesawat ditembak jatuh. Empat hari kemudian Presiden Johnson mengarahkan supaya bilangan tentera Amerika ditingkatkan kepada 125,000. Pada 29 Julai, 1965, 4,000 anggota dari Divisyen Ke-101 (Airborne) mendarat di Vietnam melalui Pelabuhan Teluk Cam Ranh.

Operasi “Starlite” yang dilancarkan pada 18 Ogos 1965 adalah pertempuran pertama melibatkan pasukan tempur darat Amerika dan melibatkan 5,500 anggota Marin berjaya memusnahkan kubu Viet Cong di daerah Quảng Ngãi. Selepas pertempuran ini Viet Cong mengelakkan daripada bertempur mengikut cara yang dikehendaki oleh Tentera Amerika.

Vietnam Utara menghantar pasukan tentera mereka (PAVN) ke Vietnam Selatan untuk melancarkan serangan gerila dan konvensional. Mereka berharap dapat mengikis sedikit demi sedikit kekuatan ARVN dan akhirnya menghapuskan ARVN. Sebilangan pemimpin Vietnam Utara hendak melancarkan serangan besar-besaran di Tanah Tinggi Vietnam (central Highlands) menggunakan PAVN untuk memecahkan Vietnam Selatan menjadi dua bahagian.

Pertempuran Lembah Ia Drang

Tetapi kuasa tembak yang ditunjukkan oleh pasukan Amerika semasa Pertempuran Lembah Ia Drang (lihat filem “We Were Soldiers”) menyebabkan PAVN mengalami kerugian besar. Selepas itu PAVN tidak lagi mencabar tentera Amerika dalam peperangan konvesional di mana tentera Amerika dapat menggunakan taktik perang dan kuasa tembak mereka yang jauh lebih baik daripada apa yang boleh digunakan oleh PAVN di Vietnam Selatan.

Pertempuran di Lembah Ia Drang melibatkan Divisyen Kavalri Udara memaparkan pertama kalinya pertemuan di antara formasi tentera Amerika dengan unit pasukan regular PAVN. Batalion Pertama, Rejimen ke-7 Kavalri (Bn 1/7) di bawah pimpinan Lt. Kolonel Hal Moore menggunakan pergerakan dengan helikopter, bantuan pengeboman dari udara dan bantuan tembakan artileri medan dengan berkesan untuk menyerang dan menewaskan Rejimen ke-33, ke-66 dan ke-320 PAVN. [7] Selepas 3 hari bertempur, Bn 1/7 Kavalri mengalami 79 anggota terbunuh dan 121 cedera, tetapi berjaya memaksa Divisyen PAVN tersebut berundur kerana mengalami jumlah korban yang terlalu tinggi.

PAVN mempelajari bahawa kuasa tembakan artileri Amerika boleh diatasi dengan membuat tempur berhampiran kedudukan tentera Amerika supaya mereka tidak dapat memanggil bantuan artileri kerana mungkin terkena kedudukan sendiri. Keberkesanan taktik ini dilihat pada keesokan harinya apabila PAVN menggunakan taktik untuk membuat serang hendap menewaskan Bn 2/7 Kavalri di LZ Albany, dan pada 17 November 1965. Dalam pertempuran itu, tentera Amerika mengalami 155 terbunuh and 126 cedera, jumlah paling ramai terbunuh dalam sesuatu hari di sepanjang Perang Vietnam.

Pertempuran di Lembah Ia Drang penting kerana memberikan manfaat pengajaran kepada PAVN; walaupun mengalami jumlah korban yang tinggi, mereka mempelajari cara mana mengatasi kelebihan kuasa tembakan yang ada di tangan pasukan tentera Amerika. Lt. Kolonel Hal Moore sendiri berpendapat bahawa pertempuran itu berkeputusan seri. [8] Selepas Pertempuran di Lembah Ia Drang, PAVN tidak lagi mencabar pasukan Amerika dalam pertempuran terbuka. Selepas Ia Drang

Selepas Pertempuran di Lembah Ia Drang, Pentagon amat merasa yakin bahawa kuasa tembakan tentera Amerika lebih baik daripada PAVN. Mereka mengumumkan penggunaan operasi besar-besaran berkesan menewaskan Viet Cong dan PAVN. Untuk maksud ini, Pentagon meminta pertambahan anggota tentera dari 120,000 kepada 400,000 orang. Pada akhir tahun 1965, bilangan tentera Amerika di Vietnam mencecah 184,000 orang.

Dalam bulan Februari 1966, Jeneral William Westmoreland bertemu Presiden Johnson di Hawaii. Westmoreland bertegas bahawa kehadiran tentera Amerika telah berjaya menghalang kejatuhan kerajaan Vietnam Selatan. Westmoreland meminta penghantaran lebih ramai anggota tentera untuk membolehkannya menyerang dan seterusnya menghapuskan ancaman Komunis ke atas Vietnam Selatan.

Westmoreland mendakwa dengan tambah anggota tentera, beliau akan dapat, awal tahun 1967, mempastikan titik lintas di mana jumlah korban Viet Cong dan PAVN terlalu berat dan tidak boleh digantikan. Dengan itu, kemenangan boleh menjadi kenyataan. Presiden Johnson yakin dengan dakwaan Westmoreland dan memberikan kuasa supaya bilangan tentera Amerika di Vietnam ditambah kepada 429,000 orang menjelang Ogos 1966. Peningkatan mendadak bilangan tentera penempur Amerika membolehkan Westmoreland menjalankan operasi “cari dan musnah” mengikut strategi pelumpuhan yang menekankan kematian ramai anggota musuh supaya mematahkan semangat juang Viet Cong dan PAVN.

Operasi Rolling Thunder (1965–1968)

Rolling Thunder adalah siri misi pengeboman yang berterusan ke atas sasaran-sasaran di Vietnam Utara, dan dilaksanakan oleh unit-unit Tentera Udara Amerika dan Tentera Laut Amerika. Tujuan misi pengeboman ini adalah untuk (a) mematahkan semangat juang rakyat Vietnam Utara, (b) memusnahkan pusat-pusat industri di Vietnam Utara, (c) memusnahkan sistem pertahanan udara Vietnam utara, khususnya sistem misil darat ke udara di sekitar Hanoi, dan (d) untuk menyekat pergerakan anggota dan bekalan di Laluan Ho Chi Minh.

Tetapi Pentadbiran Johnson menghadkan kawasan operasi pesawat pengebom yang ditugaskan. Umpamanya, Pelabuhan Haiphong dan kawasan sempadan China tidak dibenarkan diserang, walaupun kawasan tersebut merupakan pintu masuk bekalan ketenteraan ke Vietnam. Kawasan tertentu seperti Dewan Perwakilan di Hanoi juga tidak dibenarkan diserang. Kawasan Awam juga dikecualikan daripada serangan. Vietnam Utara menggunakan kesempatan menempatkan bekalan tentera di kawasan awam dan kawasan yang dikenalpasti tidak boleh diserang oleh Tentera Udara Amerika untuk dijadikan tempat simpanan bekalan dan tempat penempatan kelengkapan tentera. Umpamanya, meriam anti kapal terbang diletakkan di kawasan sekolah kerana tidak mungkin diserang oleh Tentera Udara Amerika.

Kehebatan serangan ditingkatkan hanya secara beransur-ansur, tetapi pada kecepatan yang terlalu lembab sehingga membolehkan Vietnam Utara menyesuaikan diri dan taktik peperangan mereka sejajar dengan peningkatan misi pengeboman.

Pada 31 Mac, 1968 selepas Serangan Tet, Rolling Thunder dihadkan kawasan serangannya untuk menggalakkan Vietnam Utara mengadakan perundingan damai. Misi pengeboman digantung sepenuhnya pada 31 Oktober 1968 sejurus sebelum Pemilihan Presiden Amerika Syarikat 1968.

Kejayaan Tentera Amerika

Dalam bulan Januari 1966, Divisyen Pertama Kavalri berjaya membunuh 1,342 orang gerila Viet Cong dalam Ops Masher/White Wing di wilayah Binh Dinh. Gerakan ini berterusan sehingga bulan Oktober dan seramai 1,000 orang gerila Viet Cong terbunuh. Di sebelah utara Vietnam Selatan, PAVN masuk ke wilayah Quang Tri. Oleh kerana bimbangkan serangan PAVN ke atas kota Quang Tri, pasukan Marin Amerika melancarkan Ops Hastings, yang berjaya memaksa PAVN berundur semula ke kawasan bebas tentera (DMZ). Operasi cari dan musnah dilakukan oleh tentera Amerika, dan ARVN ditugaskan untuk membuat kerja-kerja pendamaian (pacification)

Pada 12 Oktober, 1967, Setiausaha Negara Amerika Dean Rusk mengumumkan bahawa cadangan perdamaian dengan Vietnam Utara sia-sia kerana keengganan Vietnam Utara untuk duduk di meja rundingan. Vietnam Utara berkeras supaya Amerika Syarikat terlebih dahulu menjatuhkan kerajaan Vietnam Selatan dan seterusnya meninggalkan Vietnam. Pada 17 November, 1967, selepas terlebih dahulu meminta pandangan daripada kumpulan “Wise Men”, Presiden Johnson mengumumkan bahawa Amerika sedang mencapai kemajuan dalam Perang Vietnam. Jeneral Westmoreland mengesahkan pada 21 November bahawa “Amerika sedang menang”.

Pengepungan Khe Sanh

Pergerakan PAVN dibolehkan kerana pergerakan bebas kumpulan perbekalan di sepanjang Laluan Ho Chi Minh. Khe Sanh pada mulanya diasaskan dalam tahun 1962 oleh satu kumpulan Green Beret dalam bulan Julai 1962. Dalam tahun 1964, pasukan Marin mula menghantar unit-unit ke Khe Sanh dan menjalankan operasi di kawasan sekitar. Dalam bulan Oktober 1964, kumpulan Striker (orang asli Montagnard yang diupah oleh Green Beret) mengesahkan pergerakan tentera PAVN di Laluan Ho Chi Minh, bukti kukuh pertama bahawa Vietnam Utara menyusup anggota ke Vietnam Selatan melalui Laluan Ho Chi Minh.

Dalam bulan September 1966, Pasukan Marin mengambil alih sepenuhnya pengkalan tempur Khe Sanh, dengan dilengkapkan dengan landasan terbang membolehkan pesawat pengangkut mendarat. Pengkalan tempur di Khe Sanh boleh mengancam Laluan Ho Chi Minh. Pengukuhan pengkalan Khe Sanh adalah untuk menarik PAVN menyerang pengkalan tersebut, membolehkan tentera Amerika menggunakan kesemua sumber perang untuk menewaskan PAVN. Pengkalan itu juga digunakan sebagai tempat pelancaran serangan ke atas Laluan Ho Chi Minh. Laluan ho Chi Minh juga dipasangkan dengan pengimbas elektronik yang membolehkan Amerika mengesan pergerakan di sepanjang Laluan Ho Chi Minh.

Pada kepimpinan Vietnam Utara, Khe Sanh adalah satu ancaman yang perlu diketepikan. Mereka melihat kebarangkalian untuk mengulangi kejayaan mereka di Dien Bien Phu semasa Perang Indochina Pertama untuk mengalahkan dengan teruk tentera Amerika. Selama beberapa bulan, pasukan Marin dan PAVN mengatur unit-unit mereka di sekitar Khe Sanh. Pada 21 Januari 1968, PAVN memulakan serangan besarnya yang pertama. Serangan demi serangan PAVN dapat dipatahkan dengan PAVN mengalami kerugian besar. PAVN juga diserang dengan hujan bom daripada pesawat pengebom B-52, bantuan udara terdekat oleh jet penyerang dan juga oleh bedilan artileri . Apabila Pengepungan Khe Sanh tamat dalam April 1968, 8,000 anggita PAVN terbunuh dan ramai yang lain cedera. Khe Sanh masih kukuh dan PAVN tidak dapat memutuskan perbekalan senjata dan bekalan ke Khe Sanh. Pengepungan Khe Sanh tamat apabila Divisyen Kavalri Udara melancarkan Ops Pegasus.

Berbeza dengan Dien Bien Phu, Amerika berupaya meneruskan pembekalan Khe Sanh kerana boleh menggunakan banyak pengangkut seperti C-119 Flying Boxcar, C-123 Provider, C-7 Caribou dan pesawat C-130 Hercules. Amerika juga mempunyai bilangan helikopter yang banyak dari jenis CH-47 Chinook dan helikopter UH-1 Huey. Pengepungan Khe Sanh memaksa AVN mengalihkan sumber daripada Serangan Tet dan mengurangkan kesan serangan tersebut.

Signifikan Pengepungan Khe Sanh

Pengepungan Khe Sanh dianggap satu kemenangan psikologi bagi tentera Amerika. Walaupun dikaitkan dengan kebarangkalian berulangnya situasi seperti Dien Bien Phu, Khe Sanh akhirnya menghampakan PAVN kerana hanya 2 rejimen Marin terkepung di Khe Sanh. Tidak seperti Dien Bien Phu, garison Marin di Khe Sanh secara berterusan dibekalkan oleh pesawat pengangkut Tentera Udara Amerika dan helikopter tentera darat dan Marin. Di saat genting apabila tembakan meriam anti kapal terbang begitu banyak, perbekalan masih boleh dibuat oleh Tentera Udara Amerika menggunakan hantaran payung terjun menggunakan sistem LAPES (Low Altitude Extraction System).

Tentera Amerika mengalami 400 orang terbunuh dan 1,800 yang lain cedera. Di Amerika Syarikat, Water Cronkite menyifatkan Khe Sanh sebagai satu kekecewaan besar, dan membalikkan pendapat ramai mengenai Perang Vietnam. Makin ramai yang mula sangsi kebolehan Amerika memenangi perang tersebut. Kesan dari propaganda dan liputan berita yang mengikut, bersama-sama dengan kesan Serangan Tet yangdialncarkan semasa Pengepungan Khe Sanh, Pentadbiran Johnson mula mengubah dasar Amerika Syarikat sebagai reaksi langsung kepada pendapat ramai rakyat Amerika.

Serangan Tet

Pada pengakhir tahun 1967, Jeneral Westmoreland yakin bahawa “dalam masa 2 tahun ataupun kurang, tentera Amerika tidak lagi akan diperlukan untuk Perang Vietnam” kerana tugas tersebut diserahkan secara beransur-ansur kepada tentera ARVN.

Menjelang 15 Disember 1967, pemerintah pasukan tentera Amerika di Saigon menyerahkan tanggungjawab pertahanan Saigon kepada pasukan ARVN. Tindakan ini adalah sebagai tanda keyakinan Amerika kepada kesediaan ARVN memikul tanggungjawab mempertahankan ibu negara tersebut. Tugas menjaga keselamatan Saigon. Keselamatan Saigon adalah tanggungjawab Kumpulan ke-5 Ranger ARVN dengan dibantu oleh Bn 2/13 Rejimen Artileri Tentera Amerika. Di luar kawasan Saigon, Pasukan Medan II Amerika mempunyai 39 batalion tempur yang sedang bersedia untuk menjalankan operasi tentera dekat dengan sempadan Kemboja.

Apabila menjelang hari Tet, hanya 14 batalion tentera berada di sekitar 29 batu sekeliling Saigon. Leftenan Jeneral Fredrick C. Weyand, tidak sedap hati melihat keadaan ini. Beliau nampak ada peningkatan trafik radio musuh di Saigon, sedangkan pertembungan dengan pasukan musuh berkurangan. Pada 10 Januari 1968, Weyand mendapat kebenaran untuk membawa masuk 13 batalion tempurnya ke Saigon.

Setelah diberitahu oleh pimpinan Tentera Amerika akan peningkatan keadaan keselamatan di Vietnam, rakyat Amerika amat terkejut apabila Viet Cong dan PAVN melanggar gencatan senjata pada perayaan Tết Nguyên Ðán tahun tersebut untuk melancarkan serangan di seluruh pelosok Vietnam Selatan menggunakan kumpulan-kumpulan tentera yang lengkap bersenjata.

35 buah bandar termasuk 13 ibu kota wilayah dirampas oleh anasir Viet Cong. Serangan Tet bertujuan merampas pejabat-pejabat penting kerajaan Vietnam Selatan untuk melumpuhkan kerajaan tersebut dan membolehkan Viet Cong menghasut rakyat ramai untuk memberontak menggulingkan kerajaan. Pemberontak beramai-ramai tidak berlaku. Sebaliknya, Serangan Tet menyebabkan pihak-pihak yang sebelum itu tidak memperdulikan politik berjuang di pihak kerajaan Vietnam Selatan.

Serangan-serangan dapat dipatahkan dengan cepat, kecuali di Saigon di mana pertempuran berlanjutan selama 3 hari dan di Hue di mana pertempuran berlanjutan sehingga sebulan lamanya. Semasa pendudukan Komunis ke atas bandar Hue, 2,800 orang dibunuh dengan kejam. Serangan ini mengakibatkan bilangan korban yang tinggi di kalangan pejuang Viet Cong dan PAVN. Ramai agen Viet Cong yang sebelumnya seperti orang awam yang enggan terlibat dalam aktiviti anti kerajaan menunjuk belang semasa serangan ini dan dihapuskan oleh askar-askar kerajaan.

Dalam tempoh satu bulan selepas ia dilancarkan, Jeneral Westmoreland mendakwa bahawa Serangan Tet adalah satu bencana bagi Viet Cong dan PAVN dan infrastruktur yang dibina selama ini dimusnahkan. Dengan kehancuran Viet Cong, hanya PAVN menggalas beban perjuangan di Vietnam Selatan.

Media Amerika menyifatkan Serangan Tet sebagai tamparan hebat ke atas tentera Amerika. Walter Cronkite, menyatakan keyakinan beliau bahawa adalah mustahil bagi Amerika menang di Vietnam. Kepercayaan ini dikuatkan dengan tayangan visual bangunan Kedutaan Amerika yang berjaya dirempuh masuk oleh askar berani mati Viet Cong, dan serangan tersebut ditayangkan melalui televisyen di dalam ruang rehat rumah-rumah di seluruh pelosok Amerika. Rakyat Amerika bertanyakan bagaimana bangunan paling terkawal itu boleh jatuh ke tangan pemberontak komunis.

Selepas Serangan Tet President Johnson menaikkan cukai pendapatan untuk memperoleh dana bagi membiayai kos perang di Vietnam. Dalam tahun 1968, Perang Vietnam memerlukan kos US$66 juta setiap hari. Tentangan kepada penglibatan Amerika di Vietnam kian memuncak. Rakyat Amerika bertanyakan mengapa perlu meneruskan pembiayaan perang yang begitu mahal sedangkan Amerika tiada lagi peluang untuk menang.

Serangan Tet mencetuskan krisis politik di Amerika, dan kesannya mengubah arah perang di Vietnam. Jeneral Westmoreland meminta tambahan 206,000 orang anggota tentera tetapi permintaan itu ditolak. Sebaliknya Pentadbiran Johnson mahu memulakan perundingan damai dengan pihak Komunis Vietnam. Ketika ini, pendapat ramai menjurus kepada penentangan Perang Vietnam. Pentadbiran Johnson mula mencari strategi untuk keluar dari Vietnam.

Di Vietnam, kepimpinan tentera menghadapi masalah untuk berdepan dengan PAVN kerana pasukan tersebut mengundurkan diri di belakang kawasan bebas tentera DMZ. Walaupun mempunyai peralatan moden jauh lebih baik daripada Vietnam Utara, tentera Amerika kini tiada strategi yang jelas untuk mencapai kejayaan. Sebarang serangan melewati DMZ dianggap terlalu berisiko kerana kemungkinan China melibatkan diri menyebelahi Vietnam Utara. Operasi tentera di Kemboja dan Laos akan mencetuskan kontroversi politik dan akan menyebabkan PAVN mengubahkan Laluan Ho Chi Minh ke arah barat.

Meskipun tewas di medan tempur, pihak Viet Cong dan PAVN mencapai kejayaan propaganda semasa Serangan Tet. Rakyat Amerika mula mencurigakan apa yang dikhabarkan oleh Pentadbiran Johnson kepada mereka. Kebanyakan pemimpin politik tidak melihat kemenangan untuk Amerika. Percaturan politik kini tinggi, bukan sahaja dalam bentuk kewangan pembiayaan perang tetapi juga dalam bilangan nyawa yang terkorban. Sistem pengerahan tentera juga dilihat tidak adil kerana pemilihan yang tidak seimbang.

Creighton W. Abrams

Jeneral Westmoreland digantikan oleh timbalannya, Jeneral Creighton W. Abrams. Abrams mengambil pendekatan baru, beliau mesra dan terbuka dengan media. Beliau cermat menggunakan serangan udara dan tembakan artileri, dan menghentikan penggunaan “body count” sebagai petunjuk kejayaan. Abrams juga lebih bekerjasama dengan ARVN.

Pada 14 Oktober 1968, Jabatan Pertahanan Amerika mengumumkan penghantaran 24,000 anggota tentera ke Vietnam untuk tugasan kali kedua. Langkah ini tidak diterima baik di Amerika Syarikat. Pada 31 Oktober 1968, Presiden Johnson mengumumkan pemberhentian semua pengeboman udara, laut dan artileri ke atas sasaran di Vietnam Utara, berkuat kuasa 1 November. Ini bertujuan memujuk Vietnam Utara ke meja perundingan damai. Perundingan akhirnya gagal dicapai.

Pada 3 November, 1969, Presiden Richard M. Nixon meminta rakyat Amerika bersama-sama dengannya untuk mencari penyelesaian perang di Vietnam dan pengunduran tentera Amerika dengan menguatkan dan seterusnya melepaskan tanggungjawab pertahanan Vietnam Selatan kepada rakyat Vietnam Selatan sendiri.

[sunting] Richard M. Nixon

Polisi Vietnamisasi

Apabila Nixon dilantik menjadi Presiden, beliau mulakan rancangan pengunduran diri dari Perang Vietnam. Nixon mahukan ARVN dan pasukan keselamatan Vietnam diperkuatkan supaya boleh mempertahankan Vietnam tanpa bantuan Amerika dalam proses yang dipanggilnya Vietnamisasi. Amerika mula mengurangkan bilangan tenteranya di Vietnam. Serangan bom di Vietnam Utara dan Laos diteruskan semula untuk memusnahkan sistem perbekalan di Laluan Ho Chi Minh. Amerika Syarikat mula menyerang pengkalan komunis di Kemboja. Kerajaan Kemboja digulingkan dan kerajaan anti komunis di bawah Lon Nol mengambil kuasa. Pelabuhan di Kemboja kini tidak boleh digunakan lagi oleh Viet Cong dan PAVN. Vietnam Selatan membuat serangan besar ke atas pengkalan komunis di Laos tetapi gagal menutup bahagian Laluan Ho Chi Minh di situ. Lebih banyak misi pengeboman dijalankan oleh Amerika ke atas Vietnam Utara.

Di medan politik, Nixon mengeratkan hubungan dengan Soviet Union dan China, penyokong terkuat Vietnam Utara dengan tujuan meminta kedua negara memujuk Vietnam Utara ke meja perundingan. Usaha ini melancarkan satu era dipanggil era “détente” yang seterusnya membawa kepada perundingan pengurangan senjata nuklear (START, SALT) dan membuka dialog dengan China. Dalam tahun 1972, Nixon mengadakan lawatan ke Beijing, Hangzhou dan Shanghai di China. Lawatan ini signifikan kerana ketika itu Amerika tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan China.

Dalam masa itu, Nixon meneruskan pengeboman Vietnam Utara dan seterusnya meminta bantuan China memujuk Vietnam Utara ke Perundingan Damai Paris. Nixon mahukan peluang membolehkan Amerika keluar dari Vietnam walaupun dengan membiarkan Vietnam Selatan sebagai korban selepas “satu tempoh yang munasabah”. Soviet Union dan China terus membekalkan Vietnam Utara dengan senjata dan bekalan yang akhirnya membolehkan Vietnam Utara melancarkan serangan akhir mengalahkan Vietnam Selatan dalam tahun 1975.

Pencerobohan Kemboja

Putera Norodom Sihanouk berkerjasama dengan konco komunis dan membenarkan komunis menggunakan pengkalan dan pelabuhan Kemboja. Dalam tahun 1968, pemberontakan oleh Khmer Rouge mula mengancam kestabilan Kemboja dan mengambil perlindungan di kawasan-kawasan kemboja yang dikuasai Vietnam Utara. Khmer Rouge adalan kumpulan ganas yang berhaluan ektremis dan mendapat ilham dari Josef Stalin dan Mao Zedong.

Dalam tahun 1970, Putera Norodom Sihanouk digulingkan Perdana Menteri Lon Nol yang mahu menghentikan kerjasama dengan Vietnam Utara dan China kerana kedua pihak menyokong Khmer Rouge. Presiden Nixon mengarahkan serangan pada 1 Mei 1970 ke atas pengkalan Vietnam Utara dan Khmer Rouge di Kemboja dan menutup Laluan Ho Chi Minh supaya kerajaan Lon Nol boleh dikukuhkan.

Serangan ke atas Kemboja berjaya melumpuhkan bekalan melalui Laluan Ho Chi Minh dan berjaya menemui banyak tempat simpanan senjata. Keupayaan Vietnam Utara mengadakan gerakan tentera terencat. Ini membolehkan pengukuhan program Vietnamisasi Nixon. Vietnam Utara tertekan dan hadir di meja Perundingan Damai Paris. Tentera Amerika mengundur diri dari Kemboja pada 30 Jun 1970. Operasi di Kemboja mengakibatkan 284 anggota Tentera Amerika terbunuh, 2,339 orang lagi cedera dan 13 tentera hilang. ARVN mengalami 800 kematian dan 3,410 cedera. PAVN dan Viet Cong mengalami 11,349 kematian dead dan 2,328 anggota ditawan.

Walaupun dilihat sebagai kejayaan tentera, rancangan Nixon di Kemboja mendapat kesan sebaliknya. Anasir Komunis berundur ke kawasan pedalaman dan mengugatkan kestabilan Kemboja. Khmer Rouge menguatkan pegangan ke atas Kemboja. Putera Sihanouk lari mendapatkan suaka di China dan memberi sokongan kepada usaha menggulingkan kerajaan Lon Nol. Akhirnya Lon Nol digulingkan oleh Pol Pot. Ini adalah permulaan kekejaman di Kemboja di mana hampir satu pertiga penduduk kemboja dibunuh dalam kempen yang lebih kenali sebagai “The Killing Fields”.

Pada 13 Februari 1971, ARVN melancarkan serangan ke atas Laos dan menduduki kawasan yang dikuasai Vietnam Utara dan dibantu oleh sokongan serangan udara dan artileri Amerika. Serangan ini juga untuk menutup Laluan Ho Chi Minh. Operasi yang dipanggil Lam Son 719 akhirnya menemui kegagalan, dan menimbulkan kecurigaan dan keraguan Amerika terhadap kesediaan dan kesan program Vietnamisasi.

Pengurangan Bilangan Tentera

Untuk mengurangkan penentangan rakyat Amerika ke atas pentadbirannya, Presiden Nixon mengumumkan pada 12 Oktober 1970 bahawa beliau akan mengundurkan 40,000 anggota tentera dari Vietnam sebelum tibanya perayaan Krismas. Pada 18 Ogos 1970, Australia dan New Zealand juga membuat keputusan untuk mengundurkan tentera mereka dari Vietnam.

Menjelang 29 Oktober 1971, bilangan Tentera Amerika sudah turun kepada 196,700 orang. Pada 12 November 1971, Presiden Nixon menetapkan 1 Februari 1972 sebagai tarikh akhir untuk pengunduran 45,000 lagi anggota tentera.

Pada bulan Mac, 1972, bilangan askar Amerika di Vietnam sudah kurang daripada 100,000 orang dengan 6 batalion infantri. Program Vietnamisasi melalui cabaran getir pada 30 Mac 1972 apabila Vietnam Utara melancarkan serangan besar “Eastertide Offensive” menyeberangi DMZ dengan pasukan konvensional. Operasi tentera tersebut dengan cepat menawan kawasan di bawah kawalan Wilayah I, dan termasuk Quang Tri dan Hue. Dalam bulan April 1972, Vietnam Utara melancarkan serangan di 3 kawasan lain termasuk di kawasan Tanah Tinggi di Vietnam Tengah dan di wilayah Binh Dinh (Wilayah II Tentera) dan di kawasan An Loc (Wilayah III Tentera). Seluruh Vietnam Selatan kelihatan seakan tumbang.

Amerika Syarikat bertindak balas dengan memberikan bantuan serangan udara dan melancarkan operasi Linebacker ke atas Vietnam Utara. Akhirnya ARVN berjaya menyekat kemaraan PAVN dan menawan semula Quang Tri dalam bulan September 1972. Ini adalah bukti kepada Nixon bahawa ARVN sudah bersedia memikul tanggungjawab mempertahankan Vietnam.

Pembunuhan Beramai-ramai di My Lai

Dalam tahun 1969, wartawan Seymour Hersh membongkar peristiwa Pembunuhan Beramai-ramai di My Lai melibatkan kumpulan askar Amerika pimpinan Leftenan William Calley yang ditugaskan menyiasat dan menghapuskan “dengan apa jua cara” kawalan Viet Cong ke atas perkampungan My Lai dan menghapuskan simpanan senjata yang disyaki disimpan di situ.

Leftenan William Calley mendapati kampung itu didiami oleh kebanyakannya wanita dan kanak-kanak. Ketiadaan penduduk lelaki dilihat sebagai bukti penyertaan dalam unit Viet Cong. Tambahan pula kawasan tersebut diisytiharkan oleh Perisik Tentera sebagai kawasan hitam. Setelah berfikir panjang, Leftenan William Calley mengarahkan pasukannya membunuh beberapa ratus orang awam terdiri dari wanita dan kanak-kanak dan orang tua. Pembunuhan hanya dihentikan kerana 3 orang askar Amerika melihat pembunuhan itu daripada helikopter mereka dan mendarat untuk campur tangan dan menghalang askar-askar itu daripada meneruskan pembunuhan. Leftenan William Calley dihadapkan ke mahkamah tentera dan dalam tahun 1970 dihukum penjara seumur hidup.

Pilihan Raya Presiden 1972

Perang Vietnam sekali lagi menjadi isu utama semasa kempen pilihanraya presiden tahun 1972. Nixon berhadapan dengan George McGovern, seorang calon yang anti perang. Pada 22 Oktober 1972 Presiden Nixon menghentikan operasi pengeboman Linebacker. Henry Kissinger mengumumkan bahawa “kedamaian sudah hampir” sehari sebelum hari mengundi. Pada 30 November 1972 bilangan Tentera Amerika di Vietnam hanya pada tahap 27,000 orang sahaja.

Apabila Vietnam Utara melengah-lengahkan menandatangani perjanjian damai, Nixon mengarahkan pengeboman B-52 ke atas Vietnam Utara dimulakan kembali. Linebacker II yang bermula pada 18 Disember 1972 mensasarkan Hanoi dan Haiphong dan berterusan sehingga 29 Disember 1972. Vietnam Utara bersetuju kembali ke meja perundingan.


[sunting] Perjanjian Damai Paris

Pada 15 Januari 1973, Nixon menggantungkan serangan bom ke atas Vietnam Utara dan diikuti pengunduran tentera Amerika dari Vietnam. Tindakan ini dibuat beralaskan kemajuan yang dibuat di meja perundingan di Paris.

Perjanjian Damai Paris ditandatangani pada 27 Januari 1973, dan dengan rasminya menamatkan penglibatan Amerika Syarikat di Vietnam. Perjanjian ini membawa kelegaan kepada rakyat Amerika kerana satu lembaran hitam dalam sejarah Amerika Syarikat kini dapat ditutup.

Tawanan Perang Amerika Syarikat mula dibebaskan oleh Vietnam Utara pada 11 Februari 1973. Tentera Amerika meninggalkan Vietnam tidak lewat daripada 29 Mac 1973. Mereka tidak disambut sebagai wira, tetapi sebaliknya dikecam kerana menyertai perang di Vietnam.

Sebagai dorongan untuk menerima kedamaian, Presiden Nguyen Van Thieu dijanjikan bantuan kewangan oleh Nixon untuk membolehkan kerajaan Vietnam Selatan berdiri menentang Vietnam Utara. Tetapi, masalah Watergate mengikis kuasa dan pengaruh Nixon dan bantuan kewangan tidak dapat disalurkan kepada Vietnam Selatan. Apa-apa bantuan ekonomi yang dapat disalurkan telah dikikis oleh pegawai-pegawai kerajaan yang korup dan bukannya disalurkan untuk menguatkan ARVN. Sebaliknya, Soviet Union dan China terus melengkapkan Vietnam Utara dengan kelengkapan baru dan moden. Nixon meletakkan jawatan Presiden dan digantikan oleh Gerald Ford.

[sunting] Gerald Ford

Dalam bulan Disember 1974, Kongres Amerika meluluskan Akta Bantuan Luar 1974 (Foreign Assistance Act 1974) yang menyekat bantuan kewangan ke Vietnam Selatan dan menetapkan syarat-syarat yang tidak dapat dipenuhi oleh Vietnam Selatan. Vietnam Selatan kini tidak mempunyai sekutu berdepan dengan Vietnam Utara. Ketiadaan Tentera Amerika di bumi Vietnam menyebabkan kehilangan sumber ekonomi yang penting bagi rakyat Vietnam. Vietnam Utara melihat sikap Amerika ini sebagai keengganan campur tangan lagi dalam hal ehwal Vietnam. Ini merupakan peluang untuk menggulingkan secara muktamad kerajaan Vietnam Selatan.

Serangan Terakhir

Dalam bulan Mac 1975, Vietnam Utara melancarkan serangan kawasan tinggi di Vietnam Tengah menggunakan tentera konvensional dan dibantu artileri dan kereta kebal. Vietnam Selatan kini terbelah dua. Kerana takutkan tentera Vietnam Selatan di bahagian utara akan terkepung oleh PAVN, Presiden Thieu mengarahkan penempatan semula pasukan tentera Vietnam Selatan di wilayah utara ke kawasan tengah Vietnam. Tetapi pergerakan tentera menjadi haru biru kerana PAVN melancarkan serangan dari arah utara. Kedudukan tentera menjadi tidak keruan, dengan pergerakan tentera diganggu oleh orang-orang pelarian.

Pada 11 Mac 1975, Ban-Me-Thuot jatuh ke tangan PAVN. Setelah dibedil artileri, garison seramai 4,000 orang itu melarikan diri bersama keluarga. Presiden Thieu mengarahkan kawasan tengah Vietnam ditinggalkan, untuk memperkuatkan pertahanan di kawasan selatan. Pleiku dan Kontum ditinggalkan. Pasukan ARVN berundur menuju selatan, tetapi pergerakan mereka dihindar oleh orang-orang pelarian. PAVN menyerang pasukan yang sedang berundur ini dan 60,000 tentera ARVN menjadi korban. Melihatkan kesan kehancuran pasukan yang berundur, Presiden Thieu pada 20 Mac 1975 mengarahkan pasukan tentera bertahan di wilayah tengah negara tersebut. Tetapi panik sudah menular, dan penentangan ARVN tidak berkesan. PAVN menawan Hue, selepas pengepungan selama 3 hari.

Da Nang pula diserang oleh 30,000 orang tentera PAVN. Pucuk pimpinan ARVN melarikan diri. Pada 30 Mac 1975, 100,000 anggota ARVN di Da Nang yang tidak berkepimpinan menyerah diri. Dengan kejatuhan Da Nang, kawasan utara dan tengah Vietnam sudah tewas. PAVN merancang serangan kilat untuk menawan Saigon sebelum saki baki ARVN dapat menyusun semula pertahanan mereka.

Pada 7 April 1975, 3 divisyen tentera PAVN dari Kor ke-4 menyerang Xuan-loc, kira-kira 65 kilometer di timur Saigon. Mereka ditentang Divisyen ke-18 ARVN. Walaupun Divisyen ke-18 menentang hebat selama dua minggu, kekuatan PAVN terlalu kuat. Pada 21 April 1975, garison di Xuan-loc menyerah diri.

Presiden Thieu meletak jawatan pada 21 April 1975, dan sambil menunjukkan dokumen-dokumen tahun 1972 yang menjanjikan bantuan tentera, menyalahkan Amerika Syarikat kerana mengkhianati rakyat Vietnam. Thieu melarikan diri ke Taiwan. Duong Van Minh ditinggalkan untuk memimpin Vietnam.

Kejatuhan Saigon

Kereta kebal PAVN kini sudah sampai ke Bien Hoa, dan menuju Saigon. Pada masa ini, ARVN sudah tidak efektif sebagai satu pasukan tentera. Pada 27 April 1975, 100,000 tentera PAVN mengelilingi Saigon dan berhadapan dengan 30,000 tentera ARVN.

Amerika memulakan pemindahan keluar rakyatnya dan tanggungan mereka keluar dari Vietnam. Kesatuan Kebajikan melancarkan “[[Operation Babylift]]”, dengan 30 penerbangan untuk memindahkan anak-anak yatim keluar dari Vietnam.

Untuk menimbulkan huru hara, PAVN membedil lapangan terbang Saigon. Dalam kekecohan ini, sebuah pesawat pesawat C-5A Galaxy yang membawa 300 orang kanak-kanak jatuh terhempas kira-kira 3 kilometer dari Lapangan Terbang Tan Son Nhut. 138 orang terbunuh, termasuk 127 orang anak-anak yatim. Tan Son Nhut ditutup sepenuhnya kepada semua kapal terbang.

Pada 23 April 1975, Gerald Ford mengumumkan bahawa perang Vietnam sudah berakhir dan tiada lagi bantuan akan diberikan kepada Vietnam Selatan. Pada 29 April, 1975, Amerika Syarikat melancarkan Option IV, pemindahan keluar yang terbesar menggunakan helikopter. Pemindahan keluar dilakukan dari Tan Son Nhut dan Kedutaan Amerika Syarikat. Pemindahan keluar dengan helikopter berterusan siang dan malam. PAVN tidak menembak helikopter yang memindahkan keluar pelarian kerana tidak mahu Amerika campur tangan lagi dalam perang Vietnam. Pada pagi 30 April 1975, askar Marin terakhir meninggalkan Kedutaan Amerika di Saigon. Option IV berjaya memindahkan 7,000 orang pelarian dengan helikopter.

Saigon ditawan oleh PAVN dan tentera ARVN lari bertempiaran dan menanggalkan uniform mereka dan meninggalkan kelengkapan mereka. Istana Presiden ditawan tanpa tentangan. Bendera Viet Cong dikibarkan di istana Presiden. Presiden Duong Van Minh menyerah kalah dan ucapan serah diri dipancarkan melalui radio.

Tirai Penutup – Insiden SS Mayaguez

Operasi terakhir perang Vietnam berlaku di Kemboja apabila kapal SS Mayaguez ditawan oleh pihak Khmer Rouge. Presiden Gerald Ford yang risaukan insiden penawanan ini dijadikan propaganda besar, mengarahkan operasi tentera untuk menyelamatkan kapal dan anak akap SS Mayaguez. Serangan dilakukan menggunakan askar Marin dan kapal Tentera Laut Amerika. Setelah berlaku pertempuran, kapal dan anak-anak kapal mayaguez dalam dibebaskan, tetapi Amerika mengalami korban 18 askar Marin dan 3 lagi ditawan. Mereka merupakan korban terakhir Perang Vietnam dan disenaraikan terakhir sekali di Memorial Veteran Vietnam di Washington D.C..

[sunting] Kesan Perang Vietnam

Ramai pihak beranggapan Perang Vietnam sebagai kekalahan pertama Tentera Amerika dengan jumlah korban melebihi 58,000 orang. Di Vietnam Selatan, lebih 1 juta askar ARVN terbunuh sepanjang tempoh peperangan 30 tahun. Lebih 1 juta askar komunis terbunuh bersama-sama 4 juta orang awam. Vietnam Utara dan Vietnam Selatan disatukan di bawah Republik Sosialis Vietnam dan Saigon ditukarkan nama menjadi Ho Chi Minh City. Beratus ribu bekas pekerja kerajaan dan askar ARVN dihantar ke pusat pendidikan semula. Vietnam menyerang dan menakluki Laos dan Kemboja sehinggalah ke lewat tahun 1980-an. Dalam tahun 1979, Vietnam berperang dengan China dalam satu peperangan singkat.

[sunting] Korban Perang Vietnam

Artikel utama: Korban Perang Vietnam

Rekod rasmi Vietnam Utara sukar diperolehi, dan ramai korban pengeboman hancur berkecai menyebabkan pengesahan sukar dibuat. Vietnam Utara bertahun-tahun memendam maklumat mengenai bilangan korbannya akibat pengeboman Amerika. Kesan alam sekitar sukar dibuat nilaian. Kecacatan akibat keracunan Agent Orange tidak boleh dianggarkan secara tepat - berapa banyak keguguran yang berlaku, kelahiran cacat yang akhirnya membawa maut dan lain-lain. Kesan Agent Orange tidak dapat diletakkan nilai tetapi ia menyebabkan tekanan sosial yang hebat ke atas negara yang sudah luluh akibat perang.

Kementerian Buruh, Kecacatan Perang Dan Ehwal Sosial Vietnam pada 3 April 1995 meletakkan jumlah 1.1 juta orang pejuang Vietnam Utara dan Viet Cong terbunuh dan 4 juta rakyat Vietnam di utara dan selatan juga menjadi korban di antara 1954 dan 1975. Angka ini tidak pernah disangkal. Vietnam utara menyenaraikan 200,000 anggota tenteranya sebagai hilang. Robert McNamara meletakkan anggaran 3.2 juta orang. Jumlah pejuang yang cedera diletakkan pada angka 600,000 orang. (jumlah ini terlalu rendah, kerana biasanya jumlah yang cedera adalah dua ataupun 3 kali ganda mereka yang terbunuh). Bilangan orang awam yang cedera tidak diketahui hingga ke hari ini.

Bilangan kematian tentera Amerika Syarikat disahkan pada 58,226 orang, termasuk mereka yang disenaraikan sebagai hilang semasa bertempur. 153,303 orang lagi cedera. [9] Jumlah ini termasuk 56 rakyat Canada yang menyertai Angkatan Bersenjata Amerika untuk berkhidmat di Vietnam. Daripada jumlah kematian dan cedera yang dialamai oleh Amerika Syarikat, pecahan mengikut cabang perkhidmatan adalah –

* Tentera Darat 38,179 terbunuh dan 96,802 cedera
* Kor Marin 14,836 terbunuh d and 51,392 cedera
* Tentera Udara 2,580 terbunuh dan and 931 cedera
* Pengawal Pantai mengalami 7 kematian dan and 60 anggota yang cedera.

Di kalangan sekutunya, Korea Selatan mengalami jumlah kematian di antara 4,400 and 5,000 orang. [10] Australia mengalami 510 kematian dan 3,131 kecedraan perang, New Zealand mengalami 38 kematian dan 187 cedera. Thailand mengalami 351 kematian. Jumlah kematian anggota kontinjen Filipina tidak dapat dipastikan tetapi dianggarkan 1,000 orang (Small & Singer).

Lebih kurang 6,000 anggota tentera Soviet Union berkhidmat di Vietnam Utara semasa peperangan ini, kebanyakannya sebagai jurulatih peralatan perang. 16 daripada anggota tentera yang berkhidmat itu mati terbunuh.

[sunting] Persenjataan Perang Vietnam

Berbagai jenis senjata digunakan semasa Perang Vietnam. Dekade 1960-an merupakan dekade lonjakan teknologi persenjataan. Vietnam menjadi medan ujian senjata dan taktik baru peperangan. Helikopter menjadi satu ikon di Vietnam dan membolehkan pengaturan tentera dengan pantas. Pengimbas elektronik digunakan di serata medan untuk mengesan pergerakan musuh. Pemprosesan data kelajuan tinggi membolehkan penyampaian data yang cepat, khususnya kerja-kerja pengintipan di Laluan Ho Chi Minh.

[sunting] Persenjataan

Raifel M-16
Raifel Tempur Colt M16

Senjata M-16 diperkenalkan semasa peringkat awal penglibatan Amerika dalam Perang Vietnam, menggantikan raifel M-14 yang digunakan sebelumnya. M-16 lebih ringan daripada senjata M-14 dan Ak-47 dan menggunakan kaliber 5.56mm. Anggota tentera boleh membawa lebih banyak peluru pada beban yang sama. M-16 mempunyai daya tembakan 550 tembakan per menit dan boleh digunakan secara automatik di mana isi kelopak peluru dengan isian 30 butir boleh dikosongkan dengan sekali sahaja menarik picu.

Pelancar Grenad M79

Pelancar grenad M79 memberikan askar infantri kuasa tembakan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. M79 membolehkan askar infantri melontar grenad 40mm sejauh 375 meter dan boleh melontar grenad asap ataupun letupan.

M72 LAW

M72 LAW pula adalah sistem senjata pakai buang menggunakan roket 66mm yang boleh digunakan menentang kereta kebal ringan ataupun perkubuan musuh. Walaupun hanya 2.3 kg, ia efektif sehingga jarak 200 meter.

Pelancar Grenad Mk 19

Senjata ini mulanya digunakan oleh bot peronda sungai Tentera Laut Amerika (dikenali sebagai Pibber) dan boleh melontarkan grenad 40mm dari jarak minimum 75 meter sehingga jarak maksimum 2,200 meter walaupun ia paling berkesan sehingga jarak 1,600 meter.

Helikopter Huey

Helikopter jenis Huey (daripada huruf pengenalan HU-1) mencapai kematangan sebagai sistem persenjataan semasa perkhidmatan di Vietnam. Helikopter in kecil, terbang laju dan boleh terbang rendah dan boleh diubah suai menjadi beberapa konfigurasi mengikut keperluan keadaan.

Helikopter CH-47 Chinook
Berkas:Chinooklift.jpg
Helikopter CH-47 Chinook Menunjukkan Mengangkat Muatan Berat Di Vietnam

Dalam tahun 1966, Tentera Darat Amerika diarahkan menyerah kesemua pesawat pengangkut C-7 Caribou kepada Tentera Udara Amerika. Dengan penyerahan ini, Tentera Darat kehilangan keupayaan pengangkutan taktikal. Helikopter pengangkut CH-47 Chinook diperkenalkan dalam tahun 1966 dan membawa dimensi baru ke medan tempur. Dengan menggunakan helikopter ini, peralatan berat boleh dibawa di serata pelosok medan tempur.

Pesawat “Gunship”

AC-47 Spooky

Dalam Perang Vietnam, Tentera Udara Amerika mengubah suai pesawat C-47 Skytrain sebagai platform senjata. Pesawat ini dipasangkan secara percubaan dengan 3 pucuk minigun GAU-17 yang boleh menembak peluru 7.62mm pada kadar 2,000 hingga 4,000 butir peluru per minit. Pesawat ini juga dipasangkan 48 butir lampu suar Mk 24 membolehkan pesawat ini menerangi kawasan sasaran untuk membuat serangan. AC-47 Spooky amat berkesan membantu kumpulan askar sedang bertempur (troops in contact). AC-47 Spooky lebih dikenali dengan nama “Puff The Magic Dragon” sempena lagu popular ketika itu.

AC-130 Spectre

Melihatkan kejayaan AC-47 Spooky, Tentera Udara Amerika mahukan kombinasi persenjataan yang lebih berat dengan kerangka yang lebih besar untuk membolehkan pesawat berlegar lama di kawasan tempur. Lebih daripada 10,000 trak dan lori dimusnahkan di sepanjang Laluan Ho Chi Minh. Pesawat AC-130 Spectre dilengkapkan dengan 4 laras minigun GAU-17, dan 4 laras meriam. Pesawat ini juga mempunyai lampu cari dan pengimbas infra merah.

A1 Skyraider

Pesawat ini digunakan sebagai pesawat pengiring helikopter penyelamat, dan untuk sokongan udara dekat (close air support) bagi unit-unit tentera darat yang memerlukan bantuan. Pesawat di dicipta oleh Ed Heinemann, dari syarikat Douglas Aircraft. A1D Skyraider adalah sebuah kapal terbang yang lasak, boleh membawa muatan perang yang banyak dan boleh berlegar berjam-jam di atas kawasan operasi untuk menunggu panggilan daripada pasukan yang memerlukan bantuan.

Napalm

Walaupun telah digunakan semenjak tahun 1944, penggunaan bom napalm secara meluas di Vietnam membuka mata dunia kepada kekejaman pengguna senjata ini. Dibuat menggunakan galian daripada asid naphthenic dan palmitic, campuran ini menjadi sejenis gel yang melekat. Apabila dicucuh, ia membakar pada paras 800 darjah celsius. Napalm juga menghapuskan oksigen dari udara dan mengeluarkan carbon monosida dengan jumlah yang banyak. Bom napalm digunakan untuk mewujudkan dengan serta merta kawasan untuk pendaratan helikopter.
Kim Phuc Phan Thi, tengah berlari selepas bom napalm digugurkan ke atas perkampungan Trang Bang, Vietnam kerana disyaki menjadi sarang gerila komunis. Kim Phuc selamat apabila mengoyakkan bajunya yang terbakar. Jurugambar : Huynh Cong Ut (Nick Ut)

Med-evac

UH-1 Huey juga terkenal kerana kegunaan sebagai helikopter "Med-evac" yang digunakan untuk mengeluarkan anggota yang cedera dari medan tempur dan menerbangkan mereka ke pusat perubatan medan. Ini mengurangkan dengan besar kadar kematian askar yang cedera di medan pertempuran. 97% tentera cedera yang dikeluarkan dari medan tempur ke surgeri medan berjaya hidup. [11] 390,000 orang anggota tentera yang cedera dikeluarkan dari medan tempur dengan helikopter.

APC M113

Kereta perisai ini digunakan dalam jumlah yang besar semasa perang Vietnam oleh tentera Amerika dan juga oleh ARVN. Kenderaan perisai ini ringan dan boleh diangkat dengan kapal terbang C-130 Hercules. Ia dilengkapkan dengan selaras mesingan 12.7 mm M2.

Cadillac Gage V-100 Commando

Kenderaan perisai ini digunakan untuk mengiringi konvoi kenderaan bekalan dan untuk tugasan kawalan keselamatan setempat. Kenderaan ini mempunyai pacuan 4 roda dan mempunyai keupayaan amphibia. Ia mempunyai kelajuan darat sehingga 62 bsj dan kelajuan 3 bsj di dalam air. Perisainya boleh menahan peluru sehingga 7.62 x 51 mm.

Pasukan Khas

Pasukan Khas seperti Green Berets dan Navy Seals beroperasi dalam perlaksanaan peperangan bukan konvensional di Vietnam.Amerika amat berpuashati dengan pencapaian oleh pasukan Special Air Service Regiment dari Australia dan New Zealand. Pasukan SAS Australia.

[sunting] Medan Ujian Senjata

Vietnam juga merupakan medan ujian untuk doktrin Kavalri Udara. Helikopter digunakan untuk memasukkan dan mengubah kedudukan unit tentera dengan cepat. Cara pergerakan ini disempurnakan oleh Divisyen Pertama Kavalri Udara dan Divisyen ke-101 Gerak Udara (Airmobile). Pasukan Marin juga menggunakan helikopter untuk pergerakan “vertical envelopment” mereka.

Peluru Berpandu

Tentera udara mula menggunakan peluru berpandu semasa perang Vietnam. Jambatan di Thanh Hoa sebelumnya diserang berkali-kali tetapi tidak dapat dimusnahkan. Pada 27 April 1972, 8 pesawat penyerang di mana 2 pesawat membawa dengan 2 misil Walleye II setiap satu dan 2 pesawat lain masing-masingnya membawa 2 bom berpanduan laser memusnahkan jambatan tersebut.

Agent Orange
Berkas:Agent orange.jpg
Pesawat Udara Menyembur Peranggas Agent Orange Di Hutan Belantara Vietnam

Amerika menggunakan racun herba semasa Perang Vietnam untuk (a) menyebabkan pokok-pokok hutan menggugurkan daun supaya pergerakan Viet Cong dan tentera PAVN, dan (b) untuk memusnahkan sumber makanan pihak musuh. Peranggas disembur daripada pesawat udara (biasanya pesawat C-123 Provider) yang terbang rendah sangat berbahaya, walaupun dalam jumlah yang kecil. Hampir 50 juta liter Agent Orange, mengandungi 170 kilogram dioxin disembur sepanjang Perang Vietnam.

[sunting] Pembabitan Negara Lain

[sunting] Australia dan New Zealand

Australia dan New Zealand menghantar pasukan tentera ke Vietnam Selatan sebagai mengotakan komitmen yang diberikan di bawah perjanjian ANZUK. Australia dan New Zealand mempunyai pengalaman luas berperang dalam hutan belantara setelah sekian lama berkhidmat di Semenanjung Tanah Melayu semasa Darurat dan juga di Borneo semasa Konfrontasi Indonesia-Malaysia. tentera New Zealand berkhidmat di bawah pemerintahan Tentera Darat semasa bertugas di Vietnam.

Australia mendokong Teori Domino, kerana kedudukan geografi yang dekat dengan Asia Tenggara membuat Australia paling terancam sekiranya Teori Domino menjadi kenyataan. Daripada detik hantaran pertama pakar penasihat tentera dalam tahun 1962, sehingga penarikan keluar batalion tentera Australia dari kem Nui Dat dalam bulan November 1971, seramai 50,000 orang anggota, meliputi anggota Tentera Darat, Tentera Laut dan Tentera Udara telah berkhidmat di Vietnam. Penasihat Tentera Australia terakhir diundurkan pada bulan Disember 1972. Daripada bilangan ini, 496 orang terbunuh dan 2,400 orang lain cedera.

Untuk memenuhi komitmen penghantaran tentera ke Vietnam , Australia memperkenalkan Skim Khidmat Negara. Skim ini menerima tentangan rakyat dan tidak popular. Keengganan melaporkan diri untuk khidmat negara boleh dikenakan hukuman denda ataupun penjara. Pada tahun 1972 apabila skim ini dimansuhkan, 17 orang dipenjarakan kerana enggan berkhidmat. Kerajaan Konservatif akhirnya tewas kepada kerajaan Buruh disebabkan oleh kemarahan rakyat. Perang Vietnam menyebabkan bantahan sosial dan politik paling besar di Australia sejak referendum kerahan tenaga dalam tahun 1914. [12] [13]

Penglibatan ketenteraan paling tinggi untuk Australia pada sesuatu masa adalah seramai 7,672 askar penempur. Bilangan paling tinggi tentera New Zealand ditugaskan di Vietnam Selatan adalah seramai 552 orang. Bilangan ini signifikan kerana Tentera Darat Australia hanya berjumlah 28,000 orang dalam tahun 1965 sementara jumlah anggota New Zealand jauh lebih kecil. New Zealand pada mulanya menghantar askar jurutera dan pasukan artileri, dan diikuti dengan pasukan New Zealand Special Air Service.

Askar Australia dan New Zealand menggunakan taktik rondaan kumpulan kecil seperti mana operasi di Malaysia. Mereka tidak menggunakan denai hutan, membawa bekalan air tambahan dan menggunakan pendekatan “hati dan jiwa” untuk mendapatkan sokongan daripada penduduk tempatan. Ini berbeza dengan doktrin yang digunakan oleh Tentera Amerika, yang mementingkan penggunaan pasukan yang besar dan menggunakan kuasa tembakan yang ada. Tentera Australia dan New Zealand lebih menitik beratkan mendapatkan kerjasama penduduk tempatan, menggunakan taktik yang sama digunakan semasa perang cegah pemberontakan komunis di Malaysia.

[sunting] Korea Selatan
Berkas:Koreantiger.jpg
Anggota Divisyen Harimau Korea Selatan di Phu Cat Menunggu Giliran menaiki Huey

Pasukan Korea Selatan merupakan kontinjen kedua paling besar selepas kontinjen Tentara Amerika. Anggota tentera Korea Selatan berkhidmat selama 1 tahun di Vietnam sebelum digantikan. Pada kemuncaknya, 50,000 orang tentera Korea selatan berkhidmat di Vietnam. Lebih dari 5,000 anggota tentera Korea Selatan terbunuh dan 11,000 yang lain cedera

Korea Selatan berhasrat untuk campur tangan di Vietnam sejak tahun 1954 lagi untuk menentang pengluasan pengaruh komunis. Pelawaan bantuan oleh Korea Selatan ditolak oleh Perancis. Dalam tahun 1964, Presiden Johnson meminta bantuan antarabangsa untuk Vietnam Selatan. Korea Selatan menyahut seruan dan menghantar tentera ke Vietnam Selatan. Pada 8 Januari 1965, Kabinet Korea Selatan meluluskan penghantaran unit-unit perubatan dan askar jurutera ke Vietnam dengan alasan peperangan di Vietnam mempunyai kesan langsung kepada Korea Selatan.

Pada 25 Februari 1964, pasukan askar jurutera tiba di Bien Hoa, Vietnam Selatan dan ditugaskan membina jalan raya lingkaran di Saigon. Pasukan ini diikuti oleh Kumpulan Kapal Pengangkut “Sea Gull” dan Kumpulan Bantuan Pembinaan askar jurutera. Dalam bulan Jun 1965, Amerika Syarikat dan Vietnam Selatan dengan rasminya meminta bantuan tentera penempur dari Korea Selatan. Penghantaran tentera penempur diluluskan oleh Dewan Perhimpunan Kebangsaan dalam bulan Ogos 1965. Kos penghantaran pasukan tentera Korea Selatan dibiayai sepenuhnya oleh Amerika Syarikat.

Pada 22 September 1965, Divisyen “Harimau” Korea Selatan tiba di Qui Nhon dan Markas Tentera Korea Selatan ditubuhkan. Briged Marin ”Naga Biru” tiba dalam bulan Oktober dan ditempatkan di Teluk Cam Ranh. Pada 22 september 1966, Divisyen ke-9 “White Horse” tiba untuk berkhidmat di Vietnam dengan dituruti oleh Divisyen “Cross Stars” (Markas Logistik ke-100)

Pada 24 Februari 1972 Briged Marin “Blue Dragon” meninggalkan Vietnam diikuti dengan Kumpulan Kapal Pengangkut “Sea Gull” dalam tahun 1973. Divisyen “Harimau” dan Divisyen ke-9 “White Horse” meninggalkan Vietnam dalam tahun 1972. Divisyen “Harimau” mengalami 2,111 anggota terbunuh dan 4,474 yang lain cedera. Kesemuanya, lebih daripada 300,000 orang anggota Tentera Korea Selatan telah berkhidmat di Vietnam Selatan.

Semasa perkhidmatan mereka di Vietnam Selatan, kontinjen Korea Selatan juga terlibat dengan kerja-kerja penempatan semula penduduk dan berjaya memindahkan 1.2 juat orang penduduk Vietnam. Kerja-kerja pembangunan melibatkan pengagihan 19,640 tan barang makanan, membuat derma 6,400 jentera pertanian, pembinaan 3,319 buah rumah dan sekolah, 132 buah jambatan dan 394 kilometer jalan raya.

[sunting] Thailand

Sebagai anggota SEATO, Thailand (di bawah pimpinan tentera) juga memberikan sokongan tentera kepada Amerika Syarikat. Di Vietnam Selatan, pasukan batalion "Queen Cobra" dan lain-lain unit Tentera DiRaja Thailand berkhimdat di Vietnam Selatan di antara tahun 1965 hingga 1971. Tentera DiRaja Thailand bertugas di Laos untuk beberapa lama, di dalam pasukan-pasukan dipanggil batalion "Unity". Pada teorinya, mereka sepatutnya menjadi tentera upahan, tetapi pada hakikatnya mereka adalah anggota regular Tentera Diraja Thailand. Tentera Thailand ini bertempur menentang Pathet Lao dan juga Viet Minh di Laos. Tentera Thailand aktif di Laos antara tahun 1970 hingga 1972.

Thailand juga membenarkan Amerika Serikat membina pengkalan udara di Udon, Korat, Nakhon Phanom, U-Tapao, Takhli dan Don Muang yang kemudiannya digunakan untuk melancarkan serangan udara ke atas Vietnam. U-Tapao umpamanya sangat besar dan boleh digunakan untuk melancarkan serangan pengebom B-52 Stratofortress. Lain-lain pengkalan digunakan untuk penempatan pesawat seperti F-105 Thunderchief dan juga pasukan penyelamat CSAR. Operasi oleh Tentera Udara Amerika banyak yang dikelaskan sebagai sulit, dan dirahsiakan sehingga ke hari ini. [14] Helikopter yang digunakan dalam operasi tentera untuk membebaskan SS Mayaguez dilancarkan daripada pengkalan di Thailand.

[sunting] Kesatuan Soviet

Kesatuan Soviet bersama dengan China merupakan pembekal utama persenjataan kepada Vietnam Utara. Juruterbang Kesatuan Soviet juga ditugaskan ke Vietnam Utara sebagai juruterbang pengajar, tetapi “secara sukarela” menjalani misi tempur. Anggota tentera Kesatuan Soviet juga berkhidmat di Vietnam Utara membuat penilaian ke atas prestasi senjata-senjata mereka, khususnya sistem pertahanan udara.

[sunting] China

Keterlibatan China bermula dalam tahun 1962 apabila Mao Zedong bersetuju membekalkan Hanoi dengan 90,000 laras senjata api tanpa dikenakan bayaran. Apabila Amerika Serikat melancarkan Rolling Thunder, China menghantar batalion askar jurutera dengan dilindungi pasukan meriam anti kapal terbang untuk membantu kerja-kerja pembaikan dan juga untuk membina jalan raya, jalan keretapi dan lain-lain kerja pembinaan. Ini membolehkan unit-unit PAVN dilepaskan untuk berkhidmat di kawasan Selatan.

Dalam tahun 1965 hingga tahun 1970, lebih 320,000 orang tentera China berkhidmat di Vietnam Utara, paling ramai dalam tahun 1967 apabila 170,000 anggota tentera China berkhidmat di Vietnam Utara. 1,100 orang tentera China terbunuh sementara 4,200 orang cedera semasa berkhidmat di Vietnam Utara.

[sunting] Malaysia

Walaupun Malaysia tidak terlibat secara langsung dengan peperangan di Vietnam, Pengkalan Udara Butterworth digunakan oleh Tentera Australia untuk membolehkan pergerakan udara ke Vietnam. Mulai tahun 1964, Malaysia memberikan latihan kepada hampir 2,900 orang pegawai tentara dan polis Vietnam. Pegawai-pegawai Vietnam dilatih dalam kumpulan 20 hingga 30 orang untuk latihan singkat dalam tindakan cegah pemberontakan yang dikendalikan oleh Polis Diraja Malaysia. Malaysia juga memberikan sedikit kelengkapan cegah pemberontakan termasuk kenderaan polis dan tentera, di samping bekalan perubatan. Dalam tahun 1967, Malaysia menerima jemputan untuk menghantar 4 orang pakar pembangunan luar bandar untuk program penempatan semula dan pendamaian di Vietnam Selatan. Kumpulan pakar tersebut akan membuat cadangan mengenai keselamatan kampung dan peperangan psikologi. Tetapi Kerajaan Vietnam tidak yakin dengan keberkesanan program yang dijalankan. [15]

[sunting] Pingat Yang Di Anugerahkan Semasa Perang Vietnam

Semasa Perang Vietnam, banyak pingat dan darjah kebesaran dianugerahkan kepada penempur dan juga orang awam yang berkhidmat di Vietnam oleh pihak Amerika Syarikat, Vietnam Selatan dan juga oleh Vietnam Utara.

Pingat Anugerah Amerika Syarikat

Amerika Serikat memberikan pingat seperti yang diberikan kepada anggota tentera semasa Perang Dunia II seperti Purple Heart. Beberapa pingat baru juga diwujudkan. Pingat Khidmat Vietnam diberikan kepada mana-mana anggota Tentera Amerika yang berkhidmat selama 30 hari berturut-turut ataupun berkhidmat untuk jumlah 60 hari di Vietnam.

Pingat Anugerah Vietnam Selatan

Vietnam Selatan juga menganugerahkan pingat kepada tentera Amerika Serikat. Dengan demikian, pegawai-pegawai kanan tentera Amerika yang berkhidmat di Vietnam akan memakai pingat-pingat anugerah Vietnam Selatan dengan seragam mereka. Pingat Anugerah Vietnam Utara

Antara pingat yang diberikan kepada tentera dan mereka yang berjasa adalah Liberation Order, Ho Chi Minh Insignia, Brass Fortress of the Fatherland Decoration, Friendship Decoration dan Defeat American Aggression Badge.

[sunting] Perang Vietnam Dalam Budaya Popular

Filem :

Banyak film mengenai perang Vietnam telah difilemkan, meliputi semua perspektif, daripada filem pro-perang seperti The Green Berets arahan John Wayne, sehingga film-film anti perang. Senarai Filem Bertemakan Perang Vietnam
Tanggal 1957 – April 30, 1975
Lokasi Asia Tenggara
Hasil Kekalahan politis dan militer Amerika Serikat
Perubahan wilayah Bersatunya Vietnam.
Pihak yang terlibat
Republik Vietnam
Bendera Amerika Serikat Amerika Serikat
Bendera Korea Selatan Korea Selatan
Bendera Thailand Thailand
Bendera Australia Australia
Bendera Selandia Baru Selandia Baru
Bendera Filipina Filipina Republik Demokratik Vietnam
Front Nasional Kemerdekaan Vietnam Selatan
Bendera Republik Rakyat Cina Republik Rakyat Cina
Bendera Korea Utara Korea Utara
Kekuatan
~1.200.000 (1968) ~520.000 (1968)
Jumlah korban
RV
tewas: 230.000
terluka: 300.000
Bendera Amerika Serikat Amerika Serikat
tewas: 58.209
terluka: 153.303
Bendera Korea Selatan Korea Selatan
tewas: 5.000
terluka: 11.000
Bendera Australia Australia
tewas: 520
RDV/FNKV
tewas: 600.000
terluka: 600.000
Bendera Republik Rakyat Cina Republik Rakyat Cina
tewas: 1.100
terluka: 4.200
Sipil (warga Vietnam): 1.000.000
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Read More ..