Para pemburu menangkap berbagai jenis burung dalam jumlah besar dengan menggunakan jaring. Seorang pemburu biasanya memasang 4 buah jaring, masing-masing sepanjang 100 meter. Dengan cara seperti ini, setiap hari, paling sedikit 20 ekor burung dari berbagai jenis dapat dibawa pulang untuk dijual kepada pengepul. Harga burung di pengepul bervariasi antara 500 rupiah sampai 250 ribu rupiah tergantung jenisnya. Harga Tesia jawa, salah satu burung endemik (hanya hidup di suatu tempat) Jawa yang jarang dijumpai di hutan hanya dijual dengan harga 500 rupiah setiap individu. Sementara itu, burung-burung berkicau seperti Cucak ijo dapat dihargai 150 ribu rupiah per ekor. Burung-burung yang tidak laku dijual akan dimasak sebagai tambahan lauk atau hanya dibiarkan mati dalam kurungan.
Setiap pengepul menampung burung buruan dari, paling sedikit, lima orang pemburu. Setiap minggu seorang pengepul mengirimkan burung ke pasar burung minimal 500 ekor dari berbagai jenis. Tuduhan MacKinnon bahwa setiap tahun sekitar satu juta burung dijual di pasar-pasar burung di Jawa dan Bali (Whitten dkk.,1999) tidak dapat kita sangkal.
Setiap satu ekor burung yang sampai ke tangan pemelihara membutuhkan tumbal tiga ekor burung. Burung-burung ini mati mulai dari saat penangkapan, pengangkutan, perawatan di pasar burung dan perawatan di tangan pemelihara amatiran. Banyak pemburu yang masih melakukan kesalahan saat melepaskan burung atau terlambat melepas burung dari jaring sehingga mengakibatkan adanya burung yang mati sia-sia.
Pengepul membawa burung ke pasar burung dengan angkutan umum dan seringkali tidak menempatkan burung dalam kandang khusus sehingga kematian dalam jumlah besar sulit dihindari. Perawatan yang meng-anaktirikan burung-burung berharga murah di pasar burung juga berujung pada kematian. Lebih dari satu bulan tidak laku, maka banyak burung yang akan mati. Terlebih burung-burung pemangsa, seperti Burung Hantu, Elang dan Alap-alap yang hanya dapat bertahan hidup selama satu minggu di pasar burung.
Pemelihara burung amatiran seringkali melakukan kesalahan-kesalahan mendasar dalam perawatan burung, seperti memberikan pisang dan voer kepada burung madu yang baru saja dibeli di pasar. Fakta-fakta seperti inilah yang sering menjadi perusak citra para pemelihara burung berkicau.
Meski demikian, kita tidak dapat menumpahkan kesalahan sepenuhnya pada pemburu, pengepul, pedagang, dan pemelihara burung amatiran. Ketidak-tahuan, kemiskinan, dan rendahnya akses informasi sepertinya merupakan akar permasalahan yang membutuhkan peran banyak pihak untuk ambil bagian dalam memecahkan persoalan ini. Hujatan dan saling menudingkan tangan tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan. Kita, para pecinta burung berkicau mestinya dapat tampil di garis depan dalam menyelesaikan permasalahan ini karena kita adalah korban utama dari mengemukanya persoalan-persoalan ini.
Jika kita tidak mampu bertanggung jawab dalam penyelesaian persoalan, maka bijak kiranya jika kita tidak menjadi bagian dari munculnya persoalan ini. Caranya, menjamin bahwa burung peliharaan kita bukan merupakan burung hasil buruan di alam.
Penangkaran Burung berkicau
Cucak rawa, Jalak uren, dan Jalak bali sudah banyak ditangkarkan. Namun jenis-jenis ini sudah sangat sulit ditemui di alam, bahkan Nash pada tahun 1994 telah mencatat bahwa Cucakrawa telah sangat langka di alam dan kemungkinan telah punah di Jawa (Whitten, dkk.,1999). Sejak tahun 1999 sampai dengan saat ini, laporan Departemen Kehutanan selalu saja menyebutkan bahwa Jalak Bali liar tinggal 15 ekor di Taman Nasional Bali Barat. Alih-alih dapat menghentikan perburuan, penangkaran justru meningkatkan minat para pemburu untuk memperbanyak hasil tangkapannya. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa jenis-jenis burung yang telah berhasil ditangkarkan memiliki harga yang relatif stabil.
Mengambil contoh pada kasus perkutut, penangkaran dapat mengurangi tingkat perburuan karena para pemelihara lebih menyukai keturunan dari burung-burung yang pernah menjadi juara dalam lomba. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa sifat-sifat “juara” pada perkutut dapat diwariskan. Hal serupa mungkin juga terjadi pada burung kicauan, meski banyak pemelihara burung yang meyakini bahwa perawatan dan latihan yang baik merupakan jaminan terciptanya burung-burung juara.
Berkaca pada kasus Jalak Bali, pelepas-liaran sebagian hasil penangkaran untuk mengembalikan populasi burung agar tidak punah ternyata tidak semudah membuka pintu sangkar burung. Burung hasil penangkaran cenderung lebih jinak dan mulai kehilangan sifat-sifat “alaminya”, sehingga lebih mudah ditangkap kembali oleh pemburu mapun satwa predator. Pengamanan kawasan tanpa membangun kesadaran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan lagi-lagi hanya seperti menaburkan garam di lautan.
Meski manfaat ekologis penangkaran relatif kecil, namun penangkaran terbukti mampu memberi sumbangan manfaat ekonomi dan sosial yang sangat besar. Banyak kesaksian penangkar menjadi bukti keberhasilan mereka secara ekonomi, bahkan turut serta mengambil bagian dalam membantu upaya pemerintah mengatasi masalah pengangguran. Beberapa penangkar burung Jalak Uren di Klaten, Cucakrawa di Yogyakarta dan Kenari di Malang pernah menyatakan bahwa dari hasil penangkaran burung mereka dapat mengirimkan anaknya belajar sampai perguruan tinggi.
Pembuatan sangkar, gantangan, penyediaan pakan hidup, dan perawatan intensif anakan burung yang baru menetas merupakan serangkaian pekerjaan yang akan hilang jika tidak ada penangkaran. Padahal para pekerja dibidang penangkaran seringkali adalah orang-orang yang tidak tertampung dalam skema pengembangan ekonomi yang dijalankan pemerintah. Beberapa pengrajin sangkar burung di daerah Kulonprogo, DI.Yogyakarta adalah para penyandang cacat yang sudah berulang kali ditolak saat melamar pekerjaan. Para perawat anakan burung di Klaten adalah ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja, dan para pencari kroto sebagian besar adalah orang-orang yang bahkan tidak tamat sekolah dasar sehingga tidak tertampung dalam dunia pekerjaan yang mensyaratkan ijazah.
Penangkaran juga memberi kesempatan bagi pemanfaatan lahan di daerah perkotaan secara intensif. Banyak para penangkar burung yang hanya memanfaatkan sebagian kecil dari ruangan di dalam rumah untuk memperoleh pendapatan yang cukup besar.
Penangkaran menjadi kunci tetap berlangsungnya hobi pemeliharaan burung kicauan ketika hasil tangkapan dari alam tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan. Hal ini membuktikan bahwa tanpa adanya penangkaran, perputaran uang dari hobi pemeliharaan burung yang mencapai lebih dari 700 milyar rupiah setiap tahun (www.burung.or.id) tidak akan terjadi.
Penangkaran di alam
Praktek penangkaran burung di alam telah berlangsung bertahun-tahun di sekitar kita,namun mungkin masih awam bagi kita. Istilah penangkaran di alam dimunculkan untuk membedakan dengan penangkaran di kandang dan perburuan dengan jaring. Penangkaran di alam merupakan praktek perburuan selekif ditambah penjagaan dan peningkatan kualitas habitat burung di alam. Praktek konservasi kawasan ini kurang mendapat perhatian karena merupakan karya masyarakat indonesia, sementara gerak konservasi di negara kita harus diakui banyak disetir oleh agenda internasional.
Penangkaran di alam menggabungkan kegiatan pemanenan burung dari alam, kegiatan perlindungan habitat burung dari kerusakan, dan serangkaian kegiatan pelestarian. Para penangkar burung di alam memiliki beragam teknik untuk menghindari kepunahan burung. Antara lain pemberlakuan musim libur menangkap, pemberlakukan kuota jumlah tangkapan dan pemilihan burung yang akan dipanen. Di lereng Gunung Slamet beberapa pemburu menghentikan aktivitas perburuannya pada hari Selasa Kliwon. Pada kalender masyarakat Bali bahkan ada catatan tentang “hari baik” berburu burung. Meski alasan ilmiah pemilihan hari libur ataupun hari baik untuk memanen burung di alam ini belum diketahui, praktek ini cukup memberi ruang bagi burung-burung untuk berbiak kembali. Secara prinsip ketika makanan bagi burung masih cukup tersedia, tempat bersarang juga tersedia atau dengan kata lain habitat burung masih terjaga, maka meskipun ada pengambilan atau pemanenan burung, sisa populasi akan mampu berkembang biak kembali. Jumlah populasi burung juga dapat diperkirakan, sehingga jumlah burung yang dapat dipanen dapat ditentukan tanpa menghambat proses reproduksi burung.
Beberapa pemburu Perkutut mendasarkan pembatasan jumlah tangkapan berdasarkan petung jumlah hari, misalanya di hari Rebu Legi, maka seorang pemburu hanya akan menangkap 12 ekor burung. Ada semacam kepercayaan bahwa jika menangkap lebih banyak, maka akan mendapat Perkutut dengan katuranggan yang tidak baik. Perkutut tidak ditangkap dengan jaring, tapi hanya dengan “pikat” sehingga jumlah burung yang tertangkap lebih mudah dikontrol. Di Nusa Penida, ada “awig-awig” atau semacam aturan adat yang hanya mengijinkan mengambil anakan Jalak putih dari sarang sebanyak setengah dari jumlah anakan yang ada di sarang. Bagi pelangar akan dikenakn hukuman adat. Tidak hanya itu, anakan Jalak putih hanya boleh diambil dari sarang buatan yang dibuat dari batang pohon kelapa yang diberi lobang.
Kegiatan perlindungan dilakukan dengan menjaga tempat-tempat pengambilan burung atau habitat, dari perusakan. Sebagai contoh, beberapa pemburu di Gunung Muria, yang melarang siapapun mengambil rumput dan semak-semak pada tempat pemburu biasa menangkap burung. Di Bali, para penangkar di alam hanya boleh mengambil anakan Anis merah dari kebunnya sendiri. Saat ini Yayasan Kutilang Indonesia tengah merintis program “Kawasan Konservasi Burung Setempat”. Program ini akan menentukan beberapa kawasan yang dikelola untuk konservasi burung. Konservasi tidak hanya di definisikan dengan melarang pemanfaatan burung seperti penetapan kawasan-kawasan konservasi oleh pemerintah. Masyarakat atau pemilik kawasan akan mengelola burung untuk mendapatkan beragam manfaat, seperti perburuan untuk konsumsi, perburuan untuk hobi menembak, pengambilan anakan burung untuk dijual sebagai peliharaan dan juga wisata pengamatan burung. Hal ini didasarkan bahwa sedikit sekali jenis burung yang dapat memenuhi semua manfaat. Anis merah yang digemari para pemelihara burung, misalnya, ternyata tidak digemari oleh para penembak burung, juga para penikmat daging burung.
Sementara itu kegiatan pelestarian dilakukan dengan memperbaiki habitat dan meningkatkan jumlah panen. Misalnya dengan penanaman pohon-pohon yang disukai burung dan memasang sarang buatan. Yayasan Kutilang Indonesia telah melakukan uji coba penggunaan sarang buatan dan penanaman berbagai jenis vegetasi yang disukai burung di kompleks candi Prambanan. Sampai dengan saat ini, sarang-sarang buatan tersebut telah digunakan oleh Gelatik Jawa, Kerak kerbau (jalak penyu) dan Cekakak sungai. Kegiatan penanaman belum menunjukkan hasil karena baru dimulai satu tahun yang lalu. Pengalaman kami membuktikan bahwa burung-burung mulai berdatangan setelah pohon yang ditanam berbunga dan berbuah. Hal ini sangat tergantung pada jenis vegetasi yang ditanam. Sebagai contoh, pohon Kersen atau Talok, baru didatangi burung Kutilang, trocokan, Cabe Jawa, dan Burung madu Sriganti pada umur 4 tahun.
Berjalannya kegiatan penangkaran di alam akan menjamin keberlanjutan hobi pemeliharaan burung berkicau. Penangkaran burung di alam merupakan muara tempat bertemunya nilai-nilai sosial, ekonomi dan ekologi dari hobi pemeliharaan burung berkicau. Kedepan dengan hanya memelihara burung hasil penangkaran di alam, para pemelihara burug berkicau akan terhindar dari tuduhan sebagai eksploitator burung di alam. (Kutilang Indonesia, 082707)
Minggu, 07 Juni 2009
Penangkaran burung berkicau di alam baik
Jumat, 29 Mei 2009
cara dan tips ternak angsa
pertama-tama Pemilihan bibit
Pertama-tama yang harus ditentukan adalah pemilihan bibit angsa. Memilih bibit tergantung dari tujuan pemeliharaannya. Bila untuk sekedar hobby maka akan banyak pilihan karena sifatnya kesukaan pribadi. Sedangkan untuk keperluan memproduksi daging atau telur, pilihan menjadi agak terbatas karena harus memperhitungkan faktor ekonomis yaitu ongkos produksi harus lebih rendah dari harga jual. Mengkalkulasi ongkos produksi sudah barang tentu bukan pekerjaan mudah bagi seorang pemula. Barangkali salah satu cara untuk mengurangi kerugian dari kemungkinan gagal adalah mulailah dengan sedikit. Untuk produksi daging usahakan agar waktu penjualannya yaitu saat angsa berumur 4 sampai 6 bulan jatuh menjelang Hari Raya Idulfitri yang biasanya harganya lebih baik. Untuk patokan harga daging dan telur tiap hari bisa dilihat di Departemen Perdagangan dan Perindustrian R.I.
Jenis bibit angsa yang terkenal diantaranya adalah Toulouse, Embden dan African yang tergolong paling berat tubuhnya, Pilgrim yang berat tubuhnya pertengahan dan Chinese yang paling ringan beratnya. Walaupun demikian, kecepatan pertumbuhan dan kemampuan berproduksi telur pada jenis bibit yang sama belum tentu akan sama hasilnya. Jadi dari pengalaman berternak nantinya, pilihlah bibit dari induk yang pertumbuhannya paling cepat dan menghasilkan banyak telur.
Kandang dan peralatan
Angsa tergolong binatang yang tidak kerasan tinggal di kandang. Biarkan mereka berkeliaran di halaman belakang sampai batas tertentu. Kandang diperlukan sebagai tempat berteduh dari hujan lebat dan angin kencang disamping sebagai tempat tidurnya. Ukuran kandang yang dianggap memadai untuk tiap ekor angsa adalah 1 X 1 meter persegi ditambah 3 sampai 4 X 1 meter persegi sebagai pekarangannya. Atap kandang diusahakan tidak bocor agar waktu hujan tetap kering. Makanan sebaiknya dibiasakan diberikan dalam kandang dalam baskom atau wadah plastik yang terbuka. Air minumannya diusakan berada di luar kandang untuk menjaga agar kandang tetap kering. Sarang tidak diperlukan kecuali sudah ada yang bertelur. Sarang bisa dibuat dari kotak kayu yang di dalamnya diberi alas dari serutan kayu atau pecahan strowbur. Cahaya di kandang harus cukup untuk menstimulasi percepatan produksi telur.
Memberi makan
Dalam masa pembiakan, pemberian 15% protein ditambah vitamin dalam kadar yang sama seperti untuk ayam dalam masa pembiakan dianggap telah cukup memenuhi kebutuhan nutrisi. Makanan sebaiknya tetap tersedia, demikian pula halnya dengan kulit kerang dan pasir. Makanan lainnya tidak ada yang spesifik, dedak dicampur sayuran atau sisa makananpun tidak menjadi masalah. Angsa sangat lahap dalam memakan rumput atau daun-daunan.
Apabila pemeliharaan angsa dimaksudkan untuk dikonsumsi, umur angsa yang baik untuk dikonsumsi adalah 4 sampai 6 bulan. Keram mereka pada sangkar yang lebih kecil dan berikan makanan penuh (full feed) 3 atau 4 minggu sebelum batas waktu dikonsumsi.
Adalah sangat mungkin untuk menumbuhkan angsa lebih cepat dengan memberi makan penuh (full feeding grower-finisher pellets) sepanjang masa pertumbuhan. Akan tetapi bila mereka telah mencapai berat yang diinginkan (5,5 sampai 7,5 kilogram) dalam waktu 12 sampai 14 minggu, maka kondisi bulunya akan banyak bulu-bulu pendek yang akan sulit dicabut dan dibersihkan. Setelah lewat 14 minggu, kondisi bulunya akan cepat membaik. Jadi ada baiknya menghemat rumput dengan membatasi pemberiannya pada masa awal dan berkonsentrasi pada masa akhir menjelang dikonsumsi atau dipasarkan.
Pembiakan
Biasanya angsa paling baik dijodohkan sepasang atau bertiga. Angsa jantan yang perkasa akan puas mendapat jodoh dengan 4 atau 5 betina. Apabila mereka telah memilih sendiri pasangannya, maka banyak sekali jantan berpasangan dengan betina yang sama dari tahun ke tahun. Jumlah telur yang dihasilan pada tahun ke dua akan lebih vanyak dari tahun pertama. Prosentase keberhasilan penetasannyapun semakin baik. Induk angsa dapat terus memproduksi telur sampai 10 tahun. Dari hasil penelitian, kemampuan reproduksi angsa jantan lebih cepat menurun dibandingkan angsa betina.
Pemeliharaan telur
Ambil telur dua kali tiap hari, terutama pada musim hujan. Selalu hati-hati dalam pengentasan telur. Berihkan bilamana dipandang perlu. Temperatur yang paling baik pada tempat penyimpanan telur adalah 7 sampai 13°C dengan kelembaban relatif paling kecil 70%. Bila telur akan disimpan lebih dari dua hari, balikkan tiap hari agar prosentase penetasannya meningkat. Apabila cara penyimpanan telur kurang baik, prosentase penetasan ini menurun setelah telur disimpan 6 – 7 hari. Apabila cara penyimpanannya tepat telur dapat bertahan 10 sampai 14 hari dengan hasil pengentasan yang tidak berkurang.
Pengeraman telur
Masa penginkubasian telur angsa yang paling umum adalah antara 29 sampai 30 hari. Empat sampai enam telur dapat diinkubasi pada setelan untuk ayam betina sedangkan 10 sampai 12 telur pada setelan angsa. Balikkan telur tiga atau lima kali sehari apabila incubator tidak bekerja sendiri. Angka bilangan pembalikkan telur harus ganjil untuk mencegah letak telur berada pada posisi yang sama tiap malam.
Apabila telur dieram oleh induk ayam, ambilah anak angsa dari sarang segera setelah dientaskan. Simpan di tempat yang hangat sampai beberapa jam. Apabila anak angsa tidak segera diambil, maka induk ayam mungkin akan meninggalkan sarangnya lebih awal sebelum semua telur menetas. (IRS 5 Desember 2001)
Nah sekian tip tentang “Cara memelihara angsa di halaman rumah”. Selamat memulai dan semoga berhasil! Sering-seringlah mampir di situs Peternakan ini karena kami sedang mempersiapkan tip-tip yang lain.
http://primacendekia.wordpress.com
ternak entok (unggas)

akhir-akhir ini permintaan akan entok baik entok jantan atau betina meningkat terus, sampai2 saya kehabisan stok. Harga entok mendekati hari raya atau peringatan hari besar sangat menjanjikan saya menjual entok betina dengan harga sampai 40.000,00 sedang harga entok jantan sampai 80.000,00. Ini adalah prospek besar untuk berbisnis, sedangkan hasil persilangan yang saya lakukan menujukkan hasil yang sangat menggebirakan, sebab bagimana anakan hasil persilangan itu tumbuhnya cepat dan dagingnya lebih empuk serta padat.Tapi dalam hal ini saya belum mencoba untuk diambil telurnya baru taraf penggemukan untuk diambil dagingya. mungkin dikesempatan lain akan saya coba untuk hal2 lain yang bisa lebih menguntungkan bagi para peternak, khususnya ternak unggas.
dari http://unggas-mars.blogspot.com/
ternak kuda liar tambora
siapa yang tertarik beternak kuda?
Bagi warga kaki Gunung Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, beternak kuda adalah pekerjaan unggulan. Cara beternak kuda di kaki Gunung Tambora sangat khas. Kuda-kuda dilepas di alam bebas. Kuda-kuda di Kaki Gunung Tambora tergolong jenis poni atau berpostur kecil. Tinggi kurang dari 142 sentimeter. Kuda Sumba dan Kuda Sumbawa tergolong asli Indonesia. Meski leluhur kuda Sumba dan kuda Sumbawa berasal dari Mongolia dan Tiongkok Purba.
Kuda Sumba dan kuda Sumbawa dikenal sebagai penghasil susu yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Orang awam mengenalnya dengan sebutan susu kuda liar. Kuda bisa diperas susunya hingga tiga kali dalam sehari. Hasilnya sekitar setengah liter. Masyarakat di kaki Gunung Tambora telah terbiasa mengonsumsi susu kuda, baik langsung setelah diperah atau yang sudah disimpan di ruang pendingin.
Tanpa proses bakterisasi atau pengawetan tambahan, susu kuda murni hasil perahan bisa bertahan antara dua hingga lima bulan. Hasil penelitian sejumlah ahli menyebutkan susu kuda Sumba Sumbawa mengandung senyawa antimikroba alamiah. Senyawa ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri e.coli penyebab diare dan muntaber serta bakteri salmonella penyebab virus.
Selain itu, susu kuda berkadar lemak rendah ini juga mengandung pribiotik alami yang berguna bagi pencernaan. Tak hanya itu, susu kuda Sumba Sumbawa juga dipercaya dapat menyembuhkan penyakit dalam, seperti kanker. Tertarik dengan khasiat susu kuda Suma Sumbawa?
dari http://ghinasepti.com/index_in.php?action=tentang
Rabu, 20 Mei 2009
ternak dan budidaya tokek

Bagi sebagian orang, tokek mungkin termasuk binatang yang menakutkan sekaligus menjijikkan. Tetapi di tangan kreatif dua warga Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi ini, reptil tersebut bisa jadi ladang bisnis yang menggairahkan.
DESA Aliyan tidak selalu identik dengan tradisi Kebo-keboan. Masyarakat desa tersebut juga dikenal sebagai gudangnya pengepul tokek.
Para pengepul tokek itu adalah Salehan, 55, warga Dusun Cempaka Sari, Desa Aliyan. Satu lagi adalah Karyono, 49, warga Dusun Krajan, Desa Aliyan. Kedua pria tersebut sudah menggantungkan hidupnya dari bisnis hewan melata itu.
Salehan, sudah bergelut dengan bisnis tokek sejak tahun 1975. Dia mengakui, tokek merupakan sumber hidupnya sejak masih bujangan. Hingga kini, ketika dia sudah memiliki dua orang anak dan satu orang cucu, Salehan masih setia untuk menjadi pengepul tokek. ''Tidak terasa, sudah 33 tahun saya hidup dengan berbisnis tokek,'' katanya.
Di dalam rumahnya pun, kandang tokek ditempatkan sangat istimewa. Meski terbuat dari kayu, dan sebagian terbuat dari gabus, kandang tokek itu selalu dijaga kebersihannya. Supaya tidak lari, Salehan sesekali juga menyimpan tokeknya di dalam karung.
Salehan mengatakan, tokek memiliki banyak manfaat. Salah satunya, tokek dipercaya berkhasiat untuk obat penyakit gatal. Sewaktu bujang, Salehan sering berburu tokek dari kebun satu ke kebun yang lain. Dia juga berburu tokek dari sawah satu ke sawah yang lain, untuk mengobati penyakit gatal keluarganya.
Seiring berjalannya waktu, populasi tokek semakin banyak. Apalagi daerah rumahnya masih banyak areal persawahan.
Dalam satu hari, Salehan bisa mendapatkan 150 ekor tokek. Tetapi kalau musim hujan, tokeknya jarang keluar. Jika musim hujan, dia hanya mendapatkan sekitar 50 hingga 90 ekor tokek.
Saat ini, pria bertubuh jangkung itu sudah memiliki 50 orang pekerja yang khusus membantunya berburu tokek. Kalau musim panas, dalam sehari dia bisa mengirim 2.000 hingga 3.000 ekor tokek. Binatang tersebut biasanya dikirim ke daerah Lumajang. ''Harga per ekornya Rp 1.800. Kata juragan saya, semua tokek itu akan diekspor ke Thailand, Jepang, dan negara lainnya,'' jelas suami Nur Ifah itu.
Jika sehari mengirim 2.000 ekor tokek, dia bisa mendapat pendapatan kotor sekitar Rp 3.6 juta. Tetapi, semua itu tergantung musim. Kalau lagi musim panas, tokek yang keluar banyak sekali. Sehingga, mereka bisa menjual lebih banyak tokek.
Dari hasilnya menjadi pengepul tokek, Salehan bisa membeli rumah untuk bernaung seluruh anggota keluarganya. Tidak hanya itu, dia juga bisa membeli sepeda motor. ''Padahal sebelumnya, saya hidup mengontrak rumah. Sudah terbiasa pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan yang lainnya,'' kenangnya.
Sementara itu, suasana yang sama juga terlihat di rumah Kariyono. Dia merupakan pengepul tokek di RT 2 - RW 4, Dusun Krajan, Desa Aliyan. Lima orang pekerja tampak sibuk di depan puluhan karung berwarna putih. Menggunakan sarung tangan putih, mereka dengan sabar dan telaten menghitung tokek hasil buruannya. Terkadang, mereka juga berlarian mengejar tokek lepas.
Kariyono sendiri terlihat bercengkrama dengan pekerjanya di depan kandang tokek berukuran besar. Di situ juga terlihat dua buah motor yang dilangkapi tobos. Motor itu siap mengirim tokek yang dikumpulkan Karyono dan anak buahnya.
Dia mengaku sudah sepuluh tahun menggeluti bisnis tokek. Awalnya, dia melihat populasi tokek di sekitar rumahnya sangat banyak. Saat itu langsung muncul di pikirannya, untuk terjun menjadi pengepul tokek. Dia langsung mencari beberapa pemuda pengangguran di sekitar rumahnya. Mereka langsung dipekerjakan untuk mencari tokek di areal perkebunan dan persawahan.
Jika musim panas, mereka bisa mendapatkan 2.500 - 3.000 ekor tokek setiap hari. Harga tokek itu sekitar Rp 1.700 per ekor. Setelah terkumpul 4.000 ribu ekor tokek, mereka langsung mengirim reptil itu ke Probolinggo. ''Katanya sih untuk obat. Setiap kali mengirim biasanya 4.000 ekor tokek. Kami mendapatkan Rp 6.800.000,'' ujar pria bertubuh subur itu.
Kariyono mengaku, dirinya sempat gagal mengirim pasokan tokek. Gara-garanya, stok binatang melata tidak ada. Selama 10 tahun bergelut dengan bisnis tokek, dia mengaku senang. Karena usahanya itu bisa mengurangi angka pengangguran di daerahnya.
http://forum.lareosing.org/archive/index.php/t-7537.html
tips beternak tikus

siapkan kandang (ukuran terserah saja)dgn ram2an dari kawat yg rapat (sperti ayakan pasir)..
Kmudian buat rumah2an didalamnya (sperti rumah barbie) tempat untuk beranak&menyusui..
tikus merupakan omnivora yg memakan apapun makanan....jadi tidak perlu repot-sisa2 makanan yg basipun-mereka suka..
beri kertas2 kering-daun2-jerami..karena mereka akan membuat sarang di dalam rumah barbienya...
minuman secukupnya saja & sering diganti agar tidak bau...
1 tikus jantan bisa membuahi 8-12 betina jadi perbandingan jantan & betina 1:10 saja...
Selamat berbisnis...
Pamuji yuono-
Cara beternak angsa di halaman rumah

Pertama-tama yang harus ditentukan adalah pemilihan bibit angsa. Memilih bibit tergantung dari tujuan pemeliharaannya. Bila untuk sekedar hobby maka akan banyak pilihan karena sifatnya kesukaan pribadi. Sedangkan untuk keperluan memproduksi daging atau telur, pilihan menjadi agak terbatas karena harus memperhitungkan faktor ekonomis yaitu ongkos produksi harus lebih rendah dari harga jual. Mengkalkulasi ongkos produksi sudah barang tentu bukan pekerjaan mudah bagi seorang pemula. Barangkali salah satu cara untuk mengurangi kerugian dari kemungkinan gagal adalah mulailah dengan sedikit. Untuk produksi daging usahakan agar waktu penjualannya yaitu saat angsa berumur 4 sampai 6 bulan jatuh menjelang Hari Raya Idulfitri yang biasanya harganya lebih baik. Untuk patokan harga daging dan telur tiap hari bisa dilihat di Departemen Perdagangan dan Perindustrian R.I.
Jenis bibit angsa yang terkenal diantaranya adalah Toulouse, Embden dan African yang tergolong paling berat tubuhnya, Pilgrim yang berat tubuhnya pertengahan dan Chinese yang paling ringan beratnya. Walaupun demikian, kecepatan pertumbuhan dan kemampuan berproduksi telur pada jenis bibit yang sama belum tentu akan sama hasilnya. Jadi dari pengalaman berternak nantinya, pilihlah bibit dari induk yang pertumbuhannya paling cepat dan menghasilkan banyak telur.
Kandang dan peralatan
Angsa tergolong binatang yang tidak kerasan tinggal di kandang. Biarkan mereka berkeliaran di halaman belakang sampai batas tertentu. Kandang diperlukan sebagai tempat berteduh dari hujan lebat dan angin kencang disamping sebagai tempat tidurnya. Ukuran kandang yang dianggap memadai untuk tiap ekor angsa adalah 1 X 1 meter persegi ditambah 3 sampai 4 X 1 meter persegi sebagai pekarangannya. Atap kandang diusahakan tidak bocor agar waktu hujan tetap kering. Makanan sebaiknya dibiasakan diberikan dalam kandang dalam baskom atau wadah plastik yang terbuka. Air minumannya diusakan berada di luar kandang untuk menjaga agar kandang tetap kering. Sarang tidak diperlukan kecuali sudah ada yang bertelur. Sarang bisa dibuat dari kotak kayu yang di dalamnya diberi alas dari serutan kayu atau pecahan strowbur. Cahaya di kandang harus cukup untuk menstimulasi percepatan produksi telur.
Memberi makan
Dalam masa pembiakan, pemberian 15% protein ditambah vitamin dalam kadar yang sama seperti untuk ayam dalam masa pembiakan dianggap telah cukup memenuhi kebutuhan nutrisi. Makanan sebaiknya tetap tersedia, demikian pula halnya dengan kulit kerang dan pasir. Makanan lainnya tidak ada yang spesifik, dedak dicampur sayuran atau sisa makananpun tidak menjadi masalah. Angsa sangat lahap dalam memakan rumput atau daun-daunan. Dibawah ini adalah tabel komposisi nutrisi sebagai acuan apabila memungkinkan untuk memberikannya.
Apabila pemeliharaan angsa dimaksudkan untuk dikonsumsi, umur angsa yang baik untuk dikonsumsi adalah 4 sampai 6 bulan. Keram mereka pada sangkar yang lebih kecil dan berikan makanan penuh (full feed) 3 atau 4 minggu sebelum batas waktu dikonsumsi.
Adalah sangat mungkin untuk menumbuhkan angsa lebih cepat dengan memberi makan penuh (full feeding grower-finisher pellets) sepanjang masa pertumbuhan. Akan tetapi bila mereka telah mencapai berat yang diinginkan (5,5 sampai 7,5 kilogram) dalam waktu 12 sampai 14 minggu, maka kondisi bulunya akan banyak bulu-bulu pendek yang akan sulit dicabut dan dibersihkan. Setelah lewat 14 minggu, kondisi bulunya akan cepat membaik. Jadi ada baiknya menghemat rumput dengan membatasi pemberiannya pada masa awal dan berkonsentrasi pada masa akhir menjelang dikonsumsi atau dipasarkan.
Pembiakan
Biasanya angsa paling baik dijodohkan sepasang atau bertiga. Angsa jantan yang perkasa akan puas mendapat jodoh dengan 4 atau 5 betina. Apabila mereka telah memilih sendiri pasangannya, maka banyak sekali jantan berpasangan dengan betina yang sama dari tahun ke tahun. Jumlah telur yang dihasilan pada tahun ke dua akan lebih vanyak dari tahun pertama. Prosentase keberhasilan penetasannyapun semakin baik. Induk angsa dapat terus memproduksi telur sampai 10 tahun. Dari hasil penelitian, kemampuan reproduksi angsa jantan lebih cepat menurun dibandingkan angsa betina.
Pemeliharaan telur
Ambil telur dua kali tiap hari, terutama pada musim hujan. Selalu hati-hati dalam pengentasan telur. Berihkan bilamana dipandang perlu. Temperatur yang paling baik pada tempat penyimpanan telur adalah 7 sampai 13°C dengan kelembaban relatif paling kecil 70%. Bila telur akan disimpan lebih dari dua hari, balikkan tiap hari agar prosentase penetasannya meningkat. Apabila cara penyimpanan telur kurang baik, prosentase penetasan ini menurun setelah telur disimpan 6 - 7 hari. Apabila cara penyimpanannya tepat telur dapat bertahan 10 sampai 14 hari dengan hasil pengentasan yang tidak berkurang.
Pengeraman telur
Masa penginkubasian telur angsa yang paling umum adalah antara 29 sampai 30 hari. Empat sampai enam telur dapat diinkubasi pada setelan untuk ayam betina sedangkan 10 sampai 12 telur pada setelan angsa. Balikkan telur tiga atau lima kali sehari apabila incubator tidak bekerja sendiri. Angka bilangan pembalikkan telur harus ganjil untuk mencegah letak telur berada pada posisi yang sama tiap malam.
Apabila telur dieram oleh induk ayam, ambilah anak angsa dari sarang segera setelah dientaskan. Simpan di tempat yang hangat sampai beberapa jam. Apabila anak angsa tidak segera diambil, maka induk ayam mungkin akan meninggalkan sarangnya lebih awal sebelum semua telur menetas. (IRS 5 Desember 2001)
Nah sekian tip tentang "Cara memelihara angsa di halaman rumah". Selamat memulai dan semoga berhasil! Sering-seringlah mampir di situs Peternakan ini karena kami sedang mempersiapkan tip-tip yang lain
from http://www.peternakan.com/Tip/angsa.html
Budidaya ulat sutra

pemeliharaan ulat sutera sudah berkembang di mana-mana. Kalau kita baca di situs BDSP (Business Development Service Provider), di kabupaten Bogor, Ciamis, Tasikmalaya, dan seputarnya saja puluhan lembaga berurusan dengan ulat sutera. Ada koperasi petani pengrajin Ulat sutera (Koppus) Sabilulungan. Ada pengerajin sutera Priyangan, Persuteraan Cibeureum, dan puluhan lagi. Semua berdedikasi tinggi. Ada yang baru aktif setelah 2000-an, namun ada yang berpengalaman sejak 1970-an.
Bahkan ada yang lebih berpengalaman lagi, seperti industri sutera alam yang di pelopori oleh Aman Sahuri, di Garut sejak 1961. Sekarang usaha itu berkembang, menampung lebih dari seratus karyawan dan menghasilkan sekitar 5.000 meter kain sutera dalam sebulan. Tanpa di dukum petani yang ulet dan berproduksi rutin, mustahil perusahaan dengan peralatan yang cukup lengkap itu bisa memasok produknya ke Bandung, Jakarta, bahkan Bali. Jangan lupa, ia hanya salah satu di antara hampir seratus lembaga yang terkait dengan persuteraan di Indonesia.
Di daerah-daerah beriklim lembab, termasuk Temanggung (Jawa Tengah), Soppeng dan Bili-bili (Sulawesi Selatan) terkenal sebagai penghasil ulat sutera sampai sekarang. Sejarah menunjukkan, sudha lama ulat sutera tidak hanya penting bagi perekonomian negara besar (India, China, Jepang) tapi juga petani kecil di pedesaan.
Berapa nilai ekonomi satu kilogram sutera mentah? harga normal berkisar antara Rp. 25.000 sampai Rp.30.000. Nanun kalau anjlok bisa tinggal Rp. 17.500. Itu terjadi akibat serangan virus pebrine, yang membuat peternakan ulat sutera di bandung terpuruk awal 2005. Akibatnya? industri sutera di Jawa Barat jadi semakin tergantung pada baha mentah dari China. Harga benang sutera olahan impor bisa Rp. 310.000,- per kg, sednagkan benang sutera olahan kepompong lokal hanya Rp. 240.000,-.
Meskipun begitu, cukup menggiurkan petani. Hitung saja, dengan modal 1 box berisi 25.000 telor benih berharga Rp. 60.000,- dalam waktu 25-32 hari petni dapat memanen hingga 20 kg kopompong sutera mentah. Tidak perlu lahan luas, cukup 20-50 meter persegi. Pakan yang diperlukan sekitar 700 kg daun murbei segar. Bila pemeliharaannya baik, menurut Rudi Wahyudin, pakar agrotek dari Institut Pertanian Bogor (IPB), panen bisa di tingkatkan hingga 40 kg. Tergantung pada bibit, pakan, cuaca, dan konstruksi rumahnya.
Nah, rumah untuk inilah yag perlu modal. Satu rumah ulat idealnya perlu biaya Rp. 20 juta.
Padahal peternakan ulat sutera sesungguhnya multiguna. Ia bisa berfungsi ekologis- melestarikan alam dan industri ramah lingkungan. Bisa juga bernilai ekonomis dan sekaligus susio-kultural. Kain sutera membuka kegiatan sosial bernilai budaya tinggi dan berdampak langsung pada kesehatan. Serat sutera bersifat higroskopis, menghalangi terpaan sinar ultraviolet, menjaga kekenyalan kulit, dapat di manfaatkan sebagai bahan kosmetik maupun industri pengobatan.
TEH MURBEI DAN EKOLOGI
Penulis diktat Budidaya Ulat Sutera, Mien Kaomini, mengingatkan, perkebunan murbei juga memberikan produk sampingan yang bernilai ekonomi maupun ekologi. Pertama murbei mengandung banyak bioaktif sehingga dapat digunakan sebagai obat alternatif berupa teh daun murbei. Kedua: buahnya dapat dikonsumsi. Sedangkan ketiga: batangnya dapat digunakan untuk media bertanam jamur. Menurut aktifis Kelompok Peneliti Persuteraan dari Bogor itu, limbah peternakan sutera dapat di proses menjadi hasil ikutan antara lain klorofil dari kotoran ulat, serbuk larva, protein pupa, serbuk sutera.
Jadi produk utama adalah daun, buah dan kayu murbei. Di Nepal, pemerintah mendistribusikan bibit murbei sebagi langkah pertama untuk mengembangkan industri sutera. Dalam tahun 2004; misalnya, tak kurang dari satu juta bibit murbei dibagikan di seluruh negeri, guna mengejar target produksi 6.000 kg kokon atau kepompong. Para petani di lereng Himalaya itu percaya bahwa budidaya ulat sutera sangat cocok di lahan-lahan terjal. Jangan heran kalau 180 petani dengan 9 perkebunan murbei dapat menghasilkan 600 kg sutera mentah dalam setahun.
Thailand juga menggunakan perkebunan dan penenunan sutera rakyat sebagai atraksi pariwisata. Pada akhir november hingga awal desember biasa diadakan festival sutera di desa-desa yang menghasilkan kepompong. Begitu juga di Vietnam. Peternakan ulat sutera relatif tidak memerlukan tempat luas. Kandang ulat yang memerlukan lembar-lembar bambu dapat disusun. Wisatawan bisa menikmati mulai dari pemeliharaans ampai proses produksi, pemintalan benang dan penenunan kainnya.
Masalahnya di Indonesia, lahan murbei belum cukup tersedia, bibit ulat sutera sudah melimpah. Akibatnya ulat menetas dan kurang pakan. Satiap satu boks telur ulat, paling sedikit perlu 50 meter persegi kebun murbei. Dan itu harus ditanam dulu. Kalau ulat kurnag pakan, lama sekali baru mau bikin kepompong. Yang biasanya 25 hari sudah memintal benang kepompong, bisa jadi 40 hari. Hasilnya pun tipis dan tidak optimal. Jadi, kebun murbei perlu di kembangkan, sekaligus sebagai sarana penghijauan ditebing-tebing sungai. Itulah yang membuat industri ulat sutera di Temanggung berjalan kencang.
Pohon murbei yang bernama latin Morus alba L dan Mandarin, Sang ye, tidak hanya disukai ulat sutera, tapi juga bermanfaat bagi manusia. Daun mudanya enak di sayur, berkhasiat menurunkan tekanan darah tinggi, memperbanyak susu ibu, membuat pengelihatan lebih terang, dan meluruhkan kentut. Buahnya, dalam bahasa mandarin disebut sang shen, bermanfaat untuk memperkuat ginjal dan meningkatkan sirkulasi darah. Paling praktis, buah murbei adalah pencahar, untuk menghilangkan sembelit dan mengatasi gangguan pencernaan. Di Tiongkok, orang percaya buah murbei dapat mempertajam pendengaran.
Kulit pohon murbei juga biasa di jadikan obat. Nama China-nya sang pei pi, dapat mengobati penyakit asma, sesak nafas, muka bengkak dan batuk. Begitu menurut Sinshe Chang, yang membuka toko obat tradisional di Pekalongan, purwokerto, Tegal, dan beberapa kota lain di Jawa Tengah. Ia juga memberikan resep, daun murbei dapat di pakai sebagai obat kalau digigit serangga, atau di tumbuk halus, dipopokkan pada luka. Akarnya bisa direbus sebagai penawar demam.
Di Jawa Tengah, pohon murbei, banyak ditanam di Temanggung dan Jepara. Tingginya, maksimal bisa mencapai 9 meter. Bagi banyak orang tanaman dari Tiongkok ini bisa tampak sebagai perdu, semak-semak atau sekedar pagar. Namun, di Ithaca, New York, Amerika Serikat, saya pernah melihat dan memanjat pohon murbei yang sudah berumur 150-an tahun. Mulberry itu tidak terlalu tinggi, tapi pokoknya hampir sebesar pelukan orang dewasa. Buahnya banyak sekali. Pemiliknya seorang Indonesianis terkemuka, Benedict Anderson!
Pohon itu memberi inspirasi bahwa kalau di pelihara dengan baik dan tidak di tebang, murbei pun bisa besar dan indah. Namun demikian, dalam pengembangan pohon murbei harus di perhatikan faktor ekologinya.
Potensi industri ulat sutera sebenarnya besar. Apalagi jika menyangkut budidaya selendang sutera, batik sutera, benang sutera dan lain-lain, yang pengerajinnya meluas di berbagai pedesaan.
Murbei mungkin tidak pernah menjadi primadona seperti pohon buah merah yang berkibar sebagai berita. Namun, potensinya sebagai bahan farmasi, tidka boleh diabaikan. Demikian juga buahnya, terutama produk sampingannya: ulatsutera. Kalau saja produksi kain sutera mencukupi, harga kain batik dan baju bodo pun tidak perlu melambung tinggi dan sukar di dapat.
sumber: Majalah Trubus.
Ada yang berminat masuk ke bidang bisnis persuteraan ? partisimon.COM hanya memberikan informasi dini yang sangat sedikit, anda sendiri harus mencari banyak informasi akurat sebagai bahan pengetahuan dan pertimbangan jika ingin terjun ke bisnis ini, supaya tingkat kegagalan bisnis bisa di tekan sekecil mungkin.
dari http://partisimon.com/
cara ternak burung walet

langsung saja
J E N I S
Klasifikasi burung walet adalah sebagai berikut:
Superorder : Apomorphae
Order : Apodiformes
Family : Apodidae
Sub Family : Apodenae
Tribes : Collacaliini
Genera : Collacalia
Species : Collacaliafuciphaga
4. MANFAAT
Hasil dari peternakan walet ini adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya (saliva). Sarang walet ini selain mempunyai harga yang tinggi, juga dapat bermanfaat bagi duni kesehatan. Sarang walet berguna untuk menyembuhkan paru-paru, panas dalam, melancarkan peredaran darah dan penambah tenaga.
5. PERSYARATAN LOKASI
Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah:
1) Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.
2) Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat.
3) Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging.
4) Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1. Suhu, Kelembaban dan Penerangan
Gedung untuk kandang walet harus memiliki suhu, kelembaban dan penerangan yang mirip dengan gua-gua alami. Suhu gua alami berkisar antara 24-26 derajat C dan kelembaban ± 80-95 %. Ada tiga cara berternak bekicot di dalam kandang, antara lain:
Pengaturan kondisi suhu dan kelembaban dilakukan dengan:
a. Melapisi plafon dengan sekam setebal 20 cm
b. Membuat saluran-saluran air atau kolam dalam gedung.
c. Menggunakan ventilasi dari pipa bentuk “L” yang berjaraknya 5 m satu lubang, berdiameter 4 cm.
d. Menutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak terpakai.
e. Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar yang berbentuk corong dari goni atau kain berwarna hitam sehingga keadaan dalam gedung akan lebih gelap. Suasana gelap lebih disenangi walet.
2.
3. Bentuk dan Konstruksi Gedung
Umumnya, rumah walet seperti bangunan gedung besar, luasnya bervariasi dari 10×15 m2 sampai 10×20 m2. Makin tinggi wuwungan (bubungan) dan semakin besar jarak antara wuwungan dan plafon, makin baik rumah walet dan lebih disukai burung walet. Rumah tidak boleh tertutup oleh pepohonan tinggi.
Tembok gedung dibuat dari dinding berplester sedangkan bagian luar dari campuran semen. Bagian dalam tembok sebaiknya dibuat dari campuran pasir, kapur dan semen dengan perbandingan 3:2:1 yang sangat baik untuk mengendalikan suhu dan kelembaban udara. Untuk mengurangi bau semen dapat disirami air setiap hari.
Kerangka atap dan sekat tempat melekatnya sarang-sarang dibuat dari kayukayu yang kuat, tua dan tahan lama, awet, tidak mudah dimakan rengat. Atapnya terbuat dari genting.
Gedung walet perlu dilengkapi dengan roving room sebagai tempat berputarputar dan resting room sebagai tempat untuk beristirahat dan bersarang. Lubang tempat keluar masuk burung berukuran 20×20 atau 20×35 cm2 dibuat di bagian atas. Jumlah lubang tergantung pada kebutuhan dan kondisi gedung. Letaknya lubang jangan menghadap ke timur dan dinding lubang dicat hitam.
6.2. Peyiapan Bibit
Umumnya para peternak burung walet melakukan dengan tidak sengaja. Banyaknya burung walet yang mengitari bangunan rumah dimanfaatkan oleh para peternak tersebut. Untuk memancing burung agar lebih banyak lagi, pemilik rumah menyiapkan tape recorder yang berisi rekaman suara burung Walet. Ada juga yang melakukan penumpukan jerami yang menghasilkan serangga-serangga kecil sebagai bahan makanan burung walet.
1) Pemilihan Bibit Calon Induk
Sebagai induk walet dipilih burung sriti yang diusahakan agar mau bersarang di dalam gedung baru. Cara untuk memancing burung sriti agar masuk dalam gedung baru tersebut dengan menggunakan kaset rekaman dari wuara walet atau sriti. Pemutaran ini dilakukan pada jam 16.00–18.00, yaitu waktu burung kembali mencari makan.
2) Perawatan Bibit dan Calon Induk
Di dalam usaha budidaya walet, perlu disiapkan telur walet untuk ditetaskan pada sarang burung sriti. Telur dapat diperoleh dari pemilik gedung walet yang sedang melakukan “panen cara buang telur”. Panen ini dilaksanakan setelah burung walet membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur walet diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Telur yang dibuang dalam panen ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak populasi burung walet dengan menetaskannya di dalam sarang sriti.
a. Memilih Telur Walet
Telur yang dipanen terdiri dari 3 macam warna, yaitu :
- Merah muda, telur yang baru keluar dari kloaka induk berumur 0–5 hari.
- Putih kemerahan, berumur 6–10 hari.
- Putih pekat kehitaman, mendekati waktu menetas berumur 10–15 hari.
Telur walet berbentuk bulat panjang, ukuran 2,014×1,353 cm dengan berat 1,97 gram. Ciri telur yang baik harus kelihatan segar dan tidak boleh menginap kecuali dalam mesin tetas. Telur tetas yang baik mempunyai kantung udara yang relatif kecil. Stabil dan tidak bergeser dari tempatnya. Letak kuning telur harus ada ditengah dan tidak bergerak-gerak, tidak ditemukan bintik darah. Penentuan kualitas telur di atas dilakukan dengan peneropongan.
b. Membawa Telur Walet
Telur yang didapat dari tempat yang jaraknya dekat dapat berupa telur yang masih muda atau setengah tua. Sedangkan telur dari jarak jauh, sebaiknya berupa telur yang sudah mendekati menetas. Telur disusun dalam spon yang berlubang dengan diameter 1 cm. Spon dimasukkan ke dalam keranjang plastik berlubang kemudian ditutup. Guncangan kendaraan dan AC yang terlalu dingin dapat mengakibatkan telur mati. Telur muda memiliki angka kematian hampir 80% sedangkan telur tua lebih rendah.
3) Penetasan Telur Walet
a. Cara menetaskan telur walet pada sarang sriti.
Pada saat musim bertelur burung sriti tiba, telur sriti diganti dengan telur walet. Pengambilan telur harus dengan sendok plastik atau kertas tisue untuk menghindari kerusakan dan pencemaran telur yang dapat menyebabkan burung sriti tidak mau mengeraminya. Penggantian telur dilakukan pada siang hari saat burung sriti keluar gedung mencari makan.
Selanjutnya telur-telur walet tersebut akan dierami oleh burung sriti dan setelah menetas akan diasuh sampai burung walet dapat terbang serta mencari makan.
b. Menetaskan telur walet pada mesin penetas
Suhu mesin penetas sekitar 400 C dengan kelembaban 70%. Untuk memperoleh kelembaban tersebut dilakukan dengan menempatkan piring atau cawan berisi air di bagian bawah rak telur. Diusahakan agar air didalam cawan tersebut tidak habis.
Telur-telur dimasukan ke dalam rak telur secara merata atau mendata dan jangan tumpang tindih. Dua kali sehari posisi telur-telur dibalik dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan embrio. Di hari ketiga dilakukan peneropongan telur. Telur-telur yang kosong dan yang embrionya mati dibuang. Embrio mati tandanya dapat terlihat pada bagian tengah telur terdapat lingkaran darah yang gelap. Sedangkan telur yang embrionya hidup akan terlihat seperti sarang laba-laba. Pembalikan telur dilakukan sampai hari ke-12.
Selama penetasan mesin tidak boleh dibuka kecuali untuk keperluan pembalikan atau mengisi cawan pengatur kelembaban. Setelah 13–15 hari telur akan menetas.
6.3. Pemeliharaan
1) Perawatan Ternak
Anak burung walet yang baru menetas tidak berbulu dan sangat lemah. Anak walet yang belum mampu makan sendir perlu disuapi dengan telur semut (kroto segar) tiga kali sehari. Selama 2–3 hari anak walet ini masih memerlukan pemanasan yang stabil dan intensif sehingga tidak perlu dikeluarkan dari mesin tetas. Setelah itu, temperatur boleh diturunkan 1–2 derajat/hari dengan cara membuka lubang udara mesin.
Setelah berumur ± 10 hari saat bulu-bulu sudah tumbuh anak walet dipindahkan ke dalam kotak khusus. Kotak ini dilengkapi dengan alat pemanas yang diletakan ditengah atau pojok kotak.
Setelah berumur 43 hari, anak-anak walet yang sudah siap terbang dibawa ke gedung pada malam hari, kemudian dletakan dalam rak untuk pelepasan. Tinggi rak minimal 2 m dari lantai. Dengan ketinggian ini, anak waket akan dapat terbang pada keesokan harinya dan mengikuti cara terbang walet dewasa.
2) Sumber Pakan
Burung walet merupakan burung liar yang mencari makan sendiri. Makanannya adalah serangga-serangga kecil yang ada di daerah pesawahan, tanah terbuka, hutan dan pantai/perairan. Untuk mendapatkan sarang walet yang memuaskan, pengelola rumah walet harus menyediakan makanan tambahan terutama untuk musim kemarau. Beberapa cara untuk mengasilkan serangga adalah:
a. menanam tanaman dengan tumpang sari.
b. budidaya serangga yaitu kutu gaplek dan nyamuk.
c. membuat kolam dipekarangan rumah walet.
d. menumpuk buah-buah busuk di pekarangan rumah.
3) Pemberian pakan yang bermutu secara teratur
Agar hasil budidaya berhasil dengan baik diperlukan pemberian pakan yang bermutu dan teratur. Pemberian pakan berpedoman pada mutu pakan dan kebiasaan waktu makan. Mutu makan yang baik akan menentukan kualitas daging bekicot. Mutu pakan yang baik dapat dipenuhi dengan memberi pakan berupa daun-daunan yang disukai dan buah-buahan. Misalnya; daun dan buah pepaya, daun bayam, buah terung mentimun, swai dan lain sebagainya.
7. HAMA DAN PENYAKIT
1) Tikus
Hama ini memakan telur, anak burung walet bahkan sarangnya. Tikus mendatangkan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat menyebabkan suhu yang tidak nyaman. Cara pencegahan tikus dengan menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang akan digunakan untuk sarang tikus.
2) Semut
Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung walet yang sedang bertelur. Cara pemberantasan dengan memberi umpan agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu semut disiram dengan air panas.
3) Kecoa
Binatang ini memakan sarang burung sehingga tubuhnya cacat, kecil dan tidak sempurna. Cara pemberantasan dengan menyemprot insektisida, menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan dibuang agar tidak menjadi tempat persembunyian.
4) Cicak dan Tokek
Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan anak burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang ditimbulkan mengganggu ketenangan burung walet. Cara pemberantasan dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin dan dicat dan lubang-lubang yang tidak digunakan ditutup.
8. P A N E N
Sarang burung walet dapat diambil atau dipanen apabila keadaannya sudah memungkinkan untuk dipetik. Untuk melakukan pemetikan perlu cara dan ketentuan tertentu agar hasil yang diperoleh bisa memenuhi mutu sarang walet yang baik. Jika terjadi kesalahan dalam menanen akan berakibat fatal bagi gedung dan burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet merasa tergangggu dan pindah tempat. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, para pemilik gedung perlu mengetahui teknik atau pola dan waktu pemanenan.
Pola panen sarang burung dapat dilakukan oleh pengelola gedung walet
dengan beberapa cara, yaitu:
1) Panen Rampasan
Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian burung walrt karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur.
2) Panen Buang Telur
Cara ini dilaksanankan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal. Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan telurnya.
3) Panen Penetasan
Pada pola ini sarang dapat dipanen ketika anak-anak walet menetas dan sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotorannya. Sedangkan keuntungannya adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga polulasi burung dapat meningkat.
Adapun waktu panen adalah :
1) Panen 4 kali setahun
Panen ini dilakukan apabila walet sudah kerasan dengan rumah yang dihuni dan telah padat populasinya. Cara yang dipakai yaitu panen pertama dilakukan dengan pola panen rampasan. Sedangkan untuk panen selanjutnya dengan pola buang telur.
2) Panen 3 kali setahun
Frekuensi panen ini sangat baik untuk gedung walet yang sudah berjalan dan masih memerlukan penambahan populasi. Cara yang dipakai yaitu, panen tetasan untuk panen pertama dan selanjutnya dengan pola rampasan dan buang telur.
3) Panen 2 kali setahun
Cara panen ini dilakukan pada awal pengelolaan, karena tujuannya untuk memperbanyak populasi burung walet.
9. PASCA PANEN
Setelah hasil panen walet dikumpulkan dalu dilakukan pembersihan dan penyortiran dari hasil yang didapat. Hasil panen dibersihkan dari kotorankotoran yang menempel yang kemudian dilakukan pemisahan antara sarang walet yang bersih dengan yang kotor.
dari http://ngraho.wordpress.com/2008/01/01/ternak-burung-walet/
cara beternak lebah

yang harus diketahui sebelum beternak lebah. Sebah koloni terdiri dari satu ekor lebah ratu, berpuluh-puluh sampai beratus-ratus lebah jantan dan beribu-ribu lebah pekerja. "Ibarat sebuah kerajaan, dalam satu koloni hanya terdapat satu ekor ratu, kalau lebih akan berkelahi," ujar Wawan Darmawan , sejawat Nurrochman.
Masing-masing mempunyai tugas sendiri. Lebah ratu yang bisa hidup sampai lima tahun bertugas bertelur. Sedangkan lebah jantan yang hidup hanya dalam hitungan bulan bertugas mengawini lebah ratu. Setelah kawin ia langsung mati apes benar nasibnya. Nah yang bertugas menghasilkan madu disebut lebah pekerja. Ketiganya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dari merekalah madu tercipta dan koloni berkembang.
Satu koloni akan menepati sebuah kotak atau istilah kerennya stup. Standar internasional ukuran kotak adalah 20 x 20 x 40 cm3 , kotak dengan ukuran tersebut mempunyai daya tampung lebah sebanyak dua puluh ribu lebah.
Dalam stup terdapat 6-9 frame/bingkai sarang sebagai rumah lebah. Satu frame disiapkan sebagai fider atau tempat menaruh makanan disaat paceklik. Alat lain yang diperlukan adalah extractor yaitu alat untuk memanen madu. Dengan cara memutar, madu akan keluar tanpa merusak sarang lebah. Untuk mengambil bee polen (tepung sari) gunakan alat pollent trap. Sedangkan untuk membuat royal jelly pakailah grafing.
Selain yang disebutkan diatas, diperlukan juga peralatan tambahan seperti pengasap (smoker), masker,hifi tool (pengungkit), pisau madu,kurungan ratu,penyeka ratu, sikat lebah, mangkokak royal jelly dan sarung tangan.
Ikuti Musim
Saat ini ada dua species yang dikembangkan oleh PAP yaitu lebah unggul (Apis mellifera) dan lebah lokal (Apis Cerana), dalam berternak lebah dua hal yang diadapat sekaligus. Pertama, untuk pengembangan dengan cara mengambil tepung sari (bee pollen), royal jelly dan pengembangan koloni. Kedua, diambil madunya.
Lebah tidak produktif setiap bulannya. Masa produktif adalah bulan Juni sampai Nopember, selebihnya masa paceklik. Dalam masa produktif , praktis tidak diperlukan biaya apapun, kecuali lebah terserang hama kutu. Hanya jika paceklik tiba, setiap minggu harus mengeluarkan 1 kg gula pasir untuk setiap stup. Gula tersebut dibuat sirup dengan perbandingan 1 : 1.
Waktu panen yang diperlukan sebauh koloni dalam stuf relatif singkat, yaitu 15 hari. Artinya dalam satu bulan bisa dipanen dua kali. Setiap panen bisa mendapat 3 kg madu, 3 gr royal jelly dan 100 gr bee pollen. Seperti telah disebutkan diatas untuk memanen madu tinggal memutar exstactor. Setelah itu lakukan penyaringan untuk memisahkan madu dengan kotoran. Selanjutnya madu dimasukkan ke dalam botol/kemasan. PAP menggunakan botol ukuran 100 cc, 300 cc dan 600 cc.
Pemasaran
Agar mendapatkan hasil yang maksimal, mengkonsumsi madu sebaiknya tiga kali sehari. Bagi orang dewasa setiap pagi mengkonsumsi 40 gr madu. Siang dan sore cukup 30 gr saja. Sedangkan untuk anak-anak pagi 30 gr , siang dan sore 20 gr saja.
Rata-rata pihaknya menjual madu ukuran 30 cc dengan harga Rp 10.000 perbotol, ukuran 60 cc, Rp 20.000 perbotolnya. Harga tersebut tidak berlaku bagi madu klengkeng yang harga perbotolnya Rp 18.000 (300 cc) dan Rp 35.000 (600cc).
Dari berbagai jenis madu yang paling laku dipasaran adalah madu kapuk. Soalnya madu ini bisa dikonsumsi semua orang dari balita sampai kakek-nenek. Sedangkan madu yang paling mahal adalah madu klengkeng karena hasil panennya relatif lebih kecil dibanding jenis lain.
Guna memenuhi permintaan konsumen yang sudah tersebar dipelosok negeri, PAP membuka perwakilannya di Jalan Raya Kutosari, Gringsing Kabupaten Batang Jawa Tengah. YHD(Kiriman Joko Harismojo, Jakarta)
Disalin kembali oleh Purnomo Bayu Aji.
ANALISA KEUNTUNGAN USAHA BUDI DAYA LEBAH PERSTUP/ KOTAK
1. Biaya lancar
Bibit satu koloni lebah unggul (apis mellfera) Rp 175.000
Biaya simulasi/makan masa paceklik 1 kg/minggu
(4kg x 6 bulan) x Rp 4000 = Rp 96.000
Biaya obat-obatan Rp 10.000
Total biaya lancar Rp 281.000
2. Pendapatan
Penjualan madu berbagai jenis dengan asumsi harga terendah madu
Curah per kg Rp 20.000 (6kg x 6 bulan x Rp 20.000) Rp 720.000
Penjualan tepung sari/bee polen
(200gr x 6 bulan) x Rp150.000/kg Rp 180.000
Penjualan Royal jelly dengan harga Rp 1200/kg
(6gr x 6 bulan) x Rp 1200 Rp 43.000
Total pendapatan Rp 943.200
3. Keuntungan (B – A)
Rp 943.200 – Rp 281.000 Rp 662.200
Catatan :
* Hitungan diatas belum termasuk investasi stup/koak dan alat-alat lainnya
* Belum termasuk biaya migrasi/pemindahan kotak ke daerah lainnya.
dari http://wirausaha.itgo.com/lebah.htm
Selasa, 19 Mei 2009
cara Beternak burung puyuh

beternak puyuh cukup memberikan hasil jika kita mengetahui cara beternak yang benar.
Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek, dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga gemak (Jawa) atau quail (asing), merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakkan di Amerika Serikat tahun 1870 dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal dan diternakkan sejak akhir 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.
Puyuh bisanya diambil telur dan dagingnya memunyai nilai gizi dan rasa yang lezat, bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya, dan kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman.
Lokasi kandang jauh dari keramaian dan permukiman penduduk karena burung puyuh mudah terkena stres. Juga harus punya sirkulasi udara yang baik.
Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20--25 derajat Celsius; kelembapan kandang berkisar 30--80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25--40 watt, sedangkan malam hari 40--60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kandang.
Model kandang puyuh ada dua macam yang biasa diterapkan, sistem litter (lantai sekam) dan sangkar. Ukuran kandang untuk 1 m®MDSU¯2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjutnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m®MDSU¯2 sampai masa bertelur.
Yang perlu diperhatikan peternak sebelum memulai usahanya adalah memahami tiga unsur produksi usaha perternakan, yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum), dan pengelolaan usaha peternakan.
Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.
Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur apkiran.
Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.
Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin.
Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau Dinas Peternakan setempat atau petunjuk dari poultry shop.
Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu bentuk pallet®MDBU¯, remah-remah, dan tepung. Karena puyuh yang suka usil mematuk temannya akan memunyai kesibukan dengan mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan dua kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya sekali sehari pada pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus.
Pada umur 4--7 hari puyuh divaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra-okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat ataupun dari toko peternakan (poultry shop), yang ada di dekat Anda beternak puyuh. n SAG/E-3
dari http://www.lampungpost.com
Penangkaran dan peternakan Belibis

Belibis yang lebih suka hidup berkelompok itu biasa mencari sisa-sisa gabah yang tertinggal di lahan sawah. Selain itu, bangsa unggas ini juga suka makan daun eceng gondok.
Walaupun bentuknya lucu dan menggemaskan, burung ini sulit sekali ditangkap. Belibis termasuk burung liar yang mencari makan malam hari, biasa disebut itik liar atau juga itik air. Sering dijumpai di persawahan, terutama setelah panen berakhir.
Namun, kini penampakan dan perilaku burung belibis itu bisa leluasa diamati di Desa Teluk Betung, Kecamatan Sungai Pandan, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan (Kalsel). Adalah Faturahim, warga desa itu, yang kini sukses menangkarkan burung belibis.
Faturahim yang lulusan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Amuntai tahun 1991 itu telah mematahkan anggapan selama ini bahwa burung belibis tidak bisa dibudidayakan. Kini pekarangan di samping rumahnya yang berbentuk panggung praktis menjadi kandang sekitar 3.000 ekor belibis tangkaran.
Ribuan burung belibis itu ditempatkan di penangkaran di samping rumah dengan ukuran kandang 10 x 6 meter. Rumah yang memang berada di rawa- rawa itu (rawa merupakan karakter umum tanah di Kalsel yang biasa ditempati sebagai tempat tinggal-Red) beserta pekarangannya dipasangi jaring agar belibis tidak kabur.
Di tengah kandang itu ada semacam rawa tempat para itik liar bermain, sementara di tepi rawa-rawa kecil buatan itu disediakan gundukan tanah tempat para belibis bersenda gurau. Ribuan belibis itu setiap hari berjejer di tepi rawa menunggu makanan gabah.
Belibis yang sudah berumur tiga bulan itu ditetaskan dari telur perkawinan alami antarbelibis di kandang itu tahun sebelumnya. Sebagian belibis merupakan pembesaran anak-anak belibis yang ditemukan di rawa kawasan Hulu Sungai Utara.
Faturahim mengatakan, hingga kini di wilayahnya belum ada peternak lain yang mengikuti jejaknya memelihara itik liar. "Orang-orang masih beranggapan memelihara belibis itu tidak mungkin dan pasti sulit," katanya.
USAHA unik yang hanya ada di Kalsel itu ditekuni Faturahim sejak tahun 2000 dan kini telah menghasilkan ribuan ekor belibis tangkaran. Pada mulanya usaha itu hanya pelarian Faturahim yang saat itu bekerja sebagai pengebor sumur.
"Jadi pengebor sumur itu kalau musim hujan sudah tidak terpakai lagi, menganggur. Karena itu, saya mulai berpikir bagaimana berbisnis yang menguntungkan," katanya.
Akhirnya Faturahim memilih beternak belibis karena dia tahu penggemar belibis goreng umumnya berasal dari kalangan menengah ke atas. Tentu saja ide bisnis itu ditertawakan orang lain mengingat selama ini belum ada yang berhasil memelihara apalagi menangkarkan belibis.
"Waktu itu saya coba dengan membeli belibis anakan yang ditangkap orang dari rawa. Modal saya tahun 2000 itu hanya Rp 20.000, saya belikan 41 anakan belibis," katanya.
Belibis itu kemudian dilepas di kandang jaring di samping rumahnya yang memang berawa-rawa. Setelah diberi makanan rutin gabah dan terkadang eceng gondok selama empat bulan, belibis-belibis betina itu pun bertelur.
"Dalam setahun, belibis hanya mengalami tiga kali musim bertelur. Setiap musim bertelur hanya menghasilkan tujuh sampai sembilan butir telur," kata Faturahim. Setelah itu belibis tersebut mengerami telur itu selama 21 hari, sama seperti ayam yang mengerami telurnya.
Dari penuturan Faturahim, ada perilaku unik pada masa perkawinan belibis. "Belibis itu ternyata tipe hewan yang sangat setia terhadap pasangannya. Satu pejantan hanya mau melayani satu betina, jadi tidak seperti itik yang satu ekor pejantan sehari bisa mengawini 10 ekor betina," paparnya.
Dari berbagai uji coba itu Faturahim semakin paham terhadap perilaku belibis dibanding itik yang yang biasa diternakkan warga di Kabupaten Hulu Sungai Utara. "Memelihara belibis itu ternyata lebih mudah dan lebih murah dibandingkan memelihara itik," katanya.
Bersama istrinya, Ruhaiti, lulusan sekolah menengah pertama (SMP), mereka terus mendalami penangkaran belibis. Ruhaiti mengatakan, walaupun belibis termasuk hewan sensitif terhadap manusia, namun sebenarnya belibis termasuk hewan yang "tabah" dan tidak mudah stres. Belibis tidak rakus makanan dan usia kawinnya ketika berumur empat bulan.
"Belibis yang kami pelihara itu justru badannya lebih berbobot dan tubuhnya bersih, sementara belibis hasil tangkapan dari rawa pasti kurus dan kusam bulunya," kata Ruhaiti. Tiap hari dia memberi makan belibis-belibis tangkaran itu, tetapi tetap liar walaupun sudah berbulan-bulan dipeliharanya.
DARI modal 41 belibis itu, kini Faturahim bersama istrinya Ruhaiti sudah memiliki ribuan belibis. Setelah berumur sekitar empat bulan, belibis itu dijualnya ke warung di sekitarnya dengan harga Rp 12.500 sampai Rp 20.000 seekor.
Walaupun hanya melayani warung di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara, tetapi Faturahim sudah merasa kewalahan. Beberapa pembeli memang berasal dari kabupaten lain, seperti dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kota Banjarmasin, tetapi volume pembeliannya tidak sebanyak dari Hulu Sungai Utara sendiri.
Untuk mengatasi kekurangan pasokan belibis itu, Faturahim mengaku juga menerima belibis hasil tangkapan warga. Itik liar itu biasa ditangkap menggunakan jaring di kawasan rawa Kabupaten Hulu Sungai Utara, juga yang didatangkan dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
"Satu belibis saya beli dari penangkap Rp 8.000, kemudian saya jual Rp 10.000. Ongkos angkutan dari Kutai Kartanegara Rp 1 juta," kata Ahmad, salah seorang pedagang pengumpul yang menjual belibis ke Faturahim. Belibis tangkapan itu hanya bertahan tiga hari di rumah Faturahim, kemudian dijual lagi dengan harga Rp 12.500 per ekor.
Faturahim menyadari bahwa belibis tangkapan di alam tidak akan selamanya ada karena itu dia berharap bisa menangkarkan lebih banyak lagi. Hanya saja kini dia kesulitan mencari tempat.
Lokasi penangkaran di rumahnya dirasakan sudah tidak mungkin dikembangkan. "Kendala utamanya karena saya sudah tidak punya lokasi penangkaran memadai," kata Faturahim.
dari http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0408/26/ekora/1220614.htm
CARA MEMBUAT TELUR ASIN

sebelum membuat telur asin kita persiapkan Bahan-bahan:
10 biji telur itik (segar)
450 gm garam kasar
2.5 liter air
Cara Menyediakan:
Sediakan bancuhan air garam. Garam kasar dimasukkan ke dalam periuk dan didihkan untuk melarutkannya. Kemudian alih dari api dan sejukkan untuk semalaman.
Telur itik yang segar dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam balang kaca. Masukkan air garam sehingga menutupi kesemua telur. Letakkan 1 beg plastik bersih berisi air di atas telur dalam balang kaca tersebut untuk memastikan semua telur berada di bawah paras permukaan air garam. Tutup dan labelkan dan ia sedia untuk digunakan selepas 21 hari dari tarikh diproses.
dari http://www.doa.sarawak.gov.my/telur_asin.htm
Beternak Ayam Ras jika Musim Hujan
Pada umumnya memang benar kalau musim hujan lebih riskan beternak ayam ras. Ini dihubungkan dengan kondisi curah hujan yang tinggi, intensitas cahaya matahari yang menurun sehingga akan menyebabkan kelembaban meningkat dan temperatur rendah, aliran udara sangat cepat dan kualitas air menurun. Kondisi ini menyebabkan jumlah dan jenis penyakit meningkat, ternak rentan terhadap penyakit, pertumbuhan lambat dan keseragaman rendah, serta kegagalan vaksinasi.
Oleh sebab itu, perlu dilakukan persiapan khusus untuk mengantisipasi musim hujan ini dimulai saat persiapan kandang, dan perubahan manajemen yang dilakukan sejak chick in.
Pada saat persiapan kandang perhatikan hal-hal berikut, antara lain : memperbaiki atap kandang dan gudang yang bocor, tirai dan lantai kandang yang berlubang. Kemudian bersihkan pemanas, regulator, selang, serta tempat pakan dan minum, dan sanitasi kandang secara menyeluruh. Jangan lupa juga untuk menyiapkan kaporit dan tambahan lampu.
Selanjutnya, ketika chick in kondisikan agar brooding/ indukan dalam kondisi yang ideal, antara lain : 500 ekor DOC, bentuk lingkaran, diameter 3,25 m, Feeder tray 10 buah, 6 bell drinker, lampu 60 watt, dan pasang termometer di setiap brooder.
Setelah itu, terapkan manajemen berikut dengan disiplin, yaitu : Pakan dan minum harus berikan segera dan jangan memakai box DOC sebagai tempat pakan lebih dari 3 hari. Berikan nutrisi tambahan VITERNA Plus, POC NASA dan HORMONIK guna meningkatkan daya imunitas tubuh, meurunkan angka mortalitas, sebagai suplai tambahan mineral dan vitamin lengkap yang berguna untuk proses pertumbuhan.Berikutnya pantau kondisi sekam agar suhunya sekitar 32°C, dan gantilah sekam yang basah.
Untuk mengukur temperatur pasanglah termometer (max-min), dan lakukan pengecekan suhu setiap 2 jam. Nyalakan brooding jika ayam bergerombol/ kedinginan, dan perpanjanglah periode brooding.
Selain hal yang telah disebutkan tadi, ada yang tidak boleh terlupakan yaitu meningkatkan biosekuriti (misal : celup kaki) sebagai bagian utama dalam mencegah penyakit masuk ke kandang.
dari http://agrikultur-nasa.blogspot.com
cara ternak bebek

bebek di Indonesia awalnya berasal dari Jawa. Sementara di Inggris dikenal dengan nama Indian Runner (Anas javanica). Berbagai jenis bebek lokal dikenal penamaannya berdasarkan tempat pengembangannya, wilayah asal dan sifat morfologis. Mungkin Anda pernah mendengar nama-nama bebek seperti bebek Alabio (dari Kalimantan Selatan), itik Tegal dan bebek Mojosari dan bebek Maros.
Umumnya usaha peternakan itik ditujukan untuk bebek petelur. Namun peluang bebek pedaging juga bisa diambil dari bebek jantan atau bebek betina yang sudah lewat masa produksinya. Selain itu bisa juga pebisnis mengambil bagian pembibitan ternak bebek sebagai fokus usaha.
Namun sebelum seorang peternak memulai usahanya, harus menyiapkan diri dengan pemahaman tentang perkandangan, bibit unggul, pakan ternak, pengelolaan dan dan pemasaran hasil. Misalnya bagaimana pemeliharaan anak bebek (5-8 minggu), pemeliharaan bebek Dara (umur 8-20 minggu ke atas) dan pemeliharaan bebek petelur (umur 20 minggu ke atas).
Masa produksi telur yang ideal adalah selama 1 tahun. Produksi telur rata-rata bebek lokal berkisar antara 200-300 butir per tahun dengan berat rata-rata 70 gram. Bahkan, bebek alabio memiliki produktivitas tinggi di atas 250 butir per tahun dengan masa produksi telur hingga 68 minggu.
Pengembangan dan pemeliharaan bebek potong agar tercapai efisiensi pemanfaatannya menurut D.L Satie (1991) seperti dikutip Majalah Poultry Indonesia Online, dapat menggunakan bebek yang telah lewat masa produksinya maupun bebek jantan. Hal ini dimaksudkan karena bebek jantan mempunyai beberapa keunggulan dan keuntungan kalau ditinjau dari segi ekonomisnya. Sementara untuk harga bibit, bebek jantan lebih murah jika dibandingkan bebek betina, karena msyarakat selama ini hanya mengenal dan memetik keuntungan dari bebek betina sebagai petelur.
Masih menurut Satie, pemeliharaannya tidak membutuhkan waktu yang lama, dimana hasil sudah bisa dipetik dalam waktu 2-3 bulan. Hal tersebut disebabkan karena pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya relatif lebih baik daripada bebek betina. Berat badan sampai saat dipotong tidak kurang dari 1,5 kg. Dengan memanfaatkan bebek jantan, dalam waktu yang relatif singkat sudah dapat dicapai berat yang lebih dibutuhkan. Pemotongan pada umur yang relatif muda, menghasilkan daging yang lebih empuk, lebih gurih dan nilai gizinya lebih tinggi.
dari http://peternakandody.blogspot.com/2008/05/peluang-beternak-itik.html
ternak ayam kampung

A. Pemberian Pakan
1.Untuk ayam muda –dewasa, 100 gr /ekor/hari
Jumlah pakan per hari untuk 155 ekor =(100x 155) kg: 1000 = 15,5 kg.
Jumlah pakan bulan I = 30x15,5 kg = 465 kg
Jumlah pakan bulan II= (0,2x465 kg)+465 kg = 558 kg
Jumlah pakan bulan III= (0,25x558kg)+558kg = 697,5 kg
Jumlan pakan bulan IV – umur 2 tahun = 17x697,5 kg =11.857,5 kg
Total pemberian pakan =13,578 kg
2. Untuk DOC 60 gr/ekor/hari, sampai umur 3 bulan
Jumlah pakan untuk 189 DOC (189 x 60)kg :1000 = 11,34 kg
Jumlah pakan bulan I 30 x 11,34kg = 340,20 kg
Jumlah pakan bulan II(mortalitas 3%)(0,15x60)+60x183 x30x1kg = 378,81 kg
1000
jumlah pakan bulan III (0,15x378,81kg)+378,81kg = 435,63 kg
Total pemberian pakan = 1.154,64 kg
3. Untuk ayam muda –dewasa, 100gr/ekor/hari
Jumlah pakan per hari untuk 183 ekor (100x183)kg: 1000 = 18,3 kg
Jumlah pakan bulan I =30x18,3 = 549 kg
Jumlah pakan bulan II =(0,2x549)kg+549kg = 658,8kg
Jumlah pakan bulan III =(0,25x658,8)kg+658,8kg = 823,5kg
Jumlah pakan bluan IV –bulan keXI = 10x823,5kg = 8.235 kg
Total pemberian pakan = 10.266,3kg
B. Analisa Biaya
1. Input
a. Biaya Infestasi
-Pembuatan kandang tahun 1 = Rp.35.000,00
-Pembuatan kandang dan Box tahun 11 =Rp.40.000,00
-Pembuatan pagar keliling =Rp.125.000,00
Total biaya investasi =Rp.200.000,00 (1)
b. Biaya Operasi
-Pembelian 155 ekor ayam=155xRp900,00 =Rp.139.500,00
-Pembelian untuk 155 ekor ayam=13.578xRp120,00 =Rp.1.29.360,00
-Pembelian pakan untuk 189 DOC sampai umur 3 bulan =1.154,64xRp.120,00 = Rp.138.556,80
-Pembelian pakan untuk 183 ekor ayam=Rp.10.266,3x120,00
=Rp.1.231.956,00 +
Total pembelian pakan =Rp.2.999.872,80
-Biaya vaksin dan obat cacing untuk ayam muda dan dewasa =Rp.3.000 ,00
-Biaya vaksin dan obat cacing/DOC =Rp.1.000 ,00
Total biaya operasi =Rp.139.500,00 + Rp.2.999.872,80 + Rp 4000,00
=Rp.3.143.372,80
c. Penyusutan dan Perbaikan
-Penyusutan kandang 1 tahun =Rp.2.500,00
-Penyusutan pagar 1 tahun =Rp.3.000.00
-Perbaikan kandang 1 tahun =Rp. 4.000,00
` -Perbaikan kandang 1 tahun =Rp. 5000,00
Total =Rp. 14.50000
2.Output
-Penjualan telur selama pemeliharaan= 49.300xRp850,00=Rp 41 905.000,00
-Penjualan ayam afkir @Rp40.000,00 =Rp 6.200.000,00
- Penjualan dari telur yang dikomsumsi =3060x500=Rp 1.530.000,00
Total Rp 49.635.000,00
C. Keuntungan Yang Diperoleh
Rp 49.635.000,00 – Rp25.034.099.00 = 24.600.001,00
Rp24.600.001,00 : 20bln = Rp 1.230.000,00 /bln
CARA TERNAK AYAM TELUR

BERIKUT PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
semoga berguna
Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3 (tiga) unsur produksi yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan), breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan)
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1. Kandang
Iklim kandang yang cocok untuk beternak ayam petelur meliputi persyaratan temperatur berkisar antara 32,2–35 derajat C, kelembaban berkisar antara 60–70%, penerangan dan atau pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang serta sirkulasi udara yang baik, jangan membuat kandang dengan permukaan lahan yang berbukit karena menghalangi sirkulasi udara dan membahayakan aliran air permukaan bila turun hujan, sebaiknya kandang dibangun dengan sistem terbuka agar hembusan angin cukup memberikan kesegaran di dalam kandang.
Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting kuat, bersih dan tahan lama. Selanjutnya perlengkapan kandang hendaknya disediakan selengkap mungkin seperti tempat pakan, tempat minum, tempat air, tempat ransum, tempat obat-obatan dan sistem alat penerangan.
Bentuk-bentuk kandang berdasarkan sistemnya dibagi menjadi dua: a) Sistem kandang koloni, satu kandang untuk banyak ayam yang terdiri dari ribuan ekor ayam petelur; b) Sistem kandang individual, kandang ini lebih dikenal dengan sebutan cage. Ciri dari kandang ini adalah pengaruh individu di dalam kandang tersebut menjadi dominan karena satu kotak kandang untuk satu ekor ayam. Kandang sistem ini banyak digunakan dalam peternakan ayam petelur komersial.
Jenis kandang berdasarkan lantainya dibagi menjadi tiga macam yaitu: 1) kandang dengan lantai liter, kandang ini dibuat dengan lantai yang dilapisi kulit padi, pesak/sekam padi dan kandang ini umumnya diterapkan pada kandang sistem koloni; 2) kandang dengan lantai kolong berlubang, lantai untuk sistem ini terdiri dari bantu atau kayu kaso dengan lubang-lubang diantaranya, yang nantinya untuk membuang tinja ayam dan langsung ke tempat penampungan; 3) kandang dengan lantai campuran liter dengan kolong berlubang, dengan perbandingan 40% luas lantai kandang untuk alas liter dan 60% luas lantai dengan kolong berlubang (terdiri dari 30% di kanan dan 30% di kiri).
2. Peralatan
a. Litter (alas lantai)
Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasi serutan kayu dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.
b. Tempat bertelur
Penyediaan tempat bertelur agar mudah mengambil telur dan kulit telur tidak kotor, dapat dibuatkan kotak ukuran 30 x 35 x 45 cm yang cukup untuk 4–5 ekor ayam. Kotak diletakkan dididing kandang dengan lebih tinggi dari tempat bertengger, penempatannya agar mudah pengambilan telur dari luar sehingga telur tidak pecah dan terinjak-injak serta dimakan. Dasar tempat bertelur dibuat miring dari kawat hingga telur langsung ke luar sarang setelah bertelur dan dibuat lubah yang lebih besar dari besar telur pada dasar sarang.
c. Tempat bertengger
Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar. Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur.
d. Tempat makan, minum dan tempat grit
Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu, almunium atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat. Untuk tempat grit dengan kotak khusus
6.2. Peyiapan Bibit
Ayam petelur yang akan dipelihara haruslah memenuhi syarat sebagai berikut, antara lain:
a) Ayam petelur harus sehat dan tidak cacat fisiknya.
b) Pertumbuhan dan perkembangan normal.
c) Ayam petelur berasal dari bibit yang diketahui keunggulannya.
Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old Chicken) /ayam umur sehari:
a) Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.
b) Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya .
c) Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya.
d) Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik.
e) Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.
f) Tidak ada letakan tinja diduburnya.
1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Penyiapan bibit ayam petelur yang berkreteria baik dalam hal ini tergantung sebagai berikut:
a. Konversi Ransum.
Konversi ransum merupakan perabandingan antara ransum yang dihabiskan ayam dalam menghasilkan sejumlah telur. Keadaan ini sering disebut dengan ransum per kilogram telur. Ayam yang baik akan makan sejumlah ransum dan menghasilkan telur yang lebih banyak/lebih besar daripada sejumlah ransum yang dimakannya. Bila ayam itu makan terlalu
banyak dan bertelur sedikit maka hal ini merupakan cermin buruk bagi ayam itu. Bila bibit ayam mempunyai konversi yang kecil maka bibit itu dapat dipilih, nilai konversi ini dikemukakan berikut ini pada berbagai bibit ayam dan juga dapat diketahui dari lembaran daging yang sering dibagikan pembibit kepada peternak dalam setiap promosi penjualan bibit
ayamnya.
b. Produksi Telur.
Produksi telur sudah tentu menjadi perhatian. Dipilih bibit yang dapat memproduksi telur banyak. Tetapi konversi ransum tetap utama sebab ayam yang produksi telurnya tinggi tetapi makannya banyak juga tidak menguntungkan.
c. Prestasi bibit dilapangan/dipeternakan.
Apabila kedua hal diatas telah baik maka kemampuan ayam untuk bertelur hanya dalam sebatas kemampuan bibit itu. Contoh prestasi beberapa jenis bibit ayam petelur dapat dilihat pada data di bawah ini.
- Babcock B-300 v: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 270, ransum 1,82 kg/dosin telur.
- Dekalb Xl-Link: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 255-280, ransum 1,8-2,0 kg/dosin telur.
- Hisex white: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 288, ransum 1,89 gram/dosin telur.
- H & W nick: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 272, ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur.
- Hubbarb leghorn: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house)260, ransum 1,8-1,86 kg/dosin telur.
- Ross white: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 275, ransum 1,9 kg/dosin telur.
- Shaver S 288: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house)280, ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur.
- Babcock B 380: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 260-275, ransum 1,9 kg/dosin telur.
- Hisex brown: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house)272, ransum 1,98 kg/dosin telur.
- Hubbarb golden cornet: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 260, ransum 1,24-1,3 kg/dosin telur.
- Ross Brown: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 270, ransum 2,0 kg/dosin telur.
- Shaver star cross 579: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 265, ransum 2,0-2,08 kg/dosin telur.
- Warren sex sal link: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 280, ransum 2,04 kg/dosin telur.
6.3. Pemeliharaan
1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup.
2. Pemberian Pakan
Untuk pemberian pakan ayam petelur ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu).
a. Kualitas dan kuantitas pakan fase starter adalah sebagai berikut:
- Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%, ME 2800-3500 Kcal.
- Kwantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor; minggu kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor; minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor.
Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520 gram.
b. Kwalitas dan kwantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut:
- Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-21,2%; lemak 2,5%; serat kasar 4,5%; kalsium (Ca) 1%; Phospor (P) 0,7-0,9% dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.
- Kwantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor; minggu ke-6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor; minggu ke-7 (umur 44-50 hari) 146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829 gram.
Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam, dalam hal ini dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:
a. Fase starter (umur 1-29 hari) kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor; minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor.
Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air.
b. Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor; minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.
3. Pemberian Vaksinasi dan Obat
Vaksinasi merupakan salah satu cara pengendalian penyakit virus yang menulardengan cara menciptakan kekebalan tubuh. Pemberiannya secara teratur sangat penting untuk mencegah penyakit. Vaksin dibagi menjadi 2 macam yaitu:
Vaksin aktif adalah vaksin mengandung virus hidup. Kekebalan yang ditimbulkan lebih lama daripada dengan vaksin inaktif/pasif.
Vaksin inaktif, adalah vaksin yang mengandung virus yang telah dilemahkan/dimatikan tanpa merubah struktur antigenic, hingga mampu membentuk zat kebal. Kekebalan yang ditimbulkan lebih pendek, keuntungannya disuntikan pada ayam yang diduga sakit.
Macam-macam vaksin:
a) Vaksin NCD vrus Lasota buatan Drh Kuryna
b) Vaksin NCD virus Komarov buatan Drh Kuryna (vaksin inaktif)
c) Vaksin NCD HB-1/Pestos.
d) Vaksin Cacar/pox, virus Diftose.
e) Vaksin anti RCD Vaksin Lyomarex untuk Marek.
Persyaratan dalam vaksinasi adalah:
a) Ayam yang divaksinasi harus sehat.
b) Dosis dan kemasan vaksin harus tepat.
c) Sterilisasi alat-alat.
4. Pemeliharaan Kandang
Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna kandang bisa maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang bagi ternak yang dipelihara.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Penyakit
1.Berak putih (pullorum)
Menyerang ayam kampung dengan angka kematian yang tinggi.
Penyebab: Salmonella pullorum.
Pengendalian: diobati dengan antibiotika
2. Foel typhoid
Sasaran yang disering adalah ayam muda/remaja dan dewasa.
Penyebab: Salmonella gallinarum.
Gejala: ayam mengeluarkan tinja yang berwarna hijau kekuningan.
Pengendalian: dengan antibiotika/preparat sulfa.
3. Parathyphoid
Menyerang ayam dibawah umur satu bulan.
Penyebab: bakteri dari genus Salmonella.
Pengendalian: dengan preparat sulfa/obat sejenisnya.
4. Kolera
Penyakit ini jarang menyerang anak ayam atau ayam remaja tetapi selain menyerang ayam menyerang kalkun dan burung merpati.
Penyebab: pasteurella multocida.
Gejala: pada serangan yang serius pial ayam (gelambir dibawah paruh) akan membesar.
Pengendalian: dengan antibiotika (Tetrasiklin/Streptomisin).
5. Pilek ayam (Coryza)
Menyerang semua umur ayam dan terutama menyerang anak ayam.
Penyebab: makhluk intermediet antara bakteri dan virus.
Gejala: ayam yang terserang menunjukkan tanda-tanda seperti orang pilek.
Pengendalian: dapat disembuhkan dengan antibiotia/preparat sulfa.
6. CRD
CRD adalah penyakit pada ayam yang populer di Indonesia. Menyerang anak ayam dan ayam remaja. Pengendalian: dilakukan dengan antibiotika (Spiramisin dan Tilosin).
7. Infeksi synovitis
Penyakit ini sering menyerang ayam muda terutama ayam broiler dan kalkun.
Penyebab: bakteri dari genus Mycoplasma.
Pengendalian: dengan antibiotika.
7.2. Penyakit karena Virus
1.Newcastle disease (ND)
ND adalah penyakit oleh virus yang populer di peternak ayam Indonesia. Pada awalnya penyakit ditemukan tahun 1926 di daerah Priangan.Tungau (kutuan) Penemuan tersebut tidak tersebar luas ke seluruh dunia. Kemudian di Eropa, penyakit ini ditemukan lagi dan diberitakan ke seluruh dunia. Akhirnya penyakit ini disebut Newcastle disease.
2.Infeksi bronchitis
Infeksi bronchitis menyerang semua umur ayam. Pada dewasa penyakit ini menurunkan produksi telur. Penyakit ini merupakan penyakit pernafasan yang serius untuk anak ayam dan ayam remaja. Tingkat kematian ayam dewasa adalah rendah, tapi pada anak ayam mencapai 40%. Bila menyerang ayam petelur menyebabkan telur lembek, kulit telur tidak normal, putih telur encer dan kuning telur mudah berpindah tempat (kuning telur yang normal selalu ada ditengah). Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini tetapi dapat dicegah dengan vaksinasi.
3.Infeksi laryngotracheitis
Infeksi laryngotracheitis merupakan penyakit pernapasan yang serius terjadi pada unggas.
Penyebab: virus yang diindetifikasikan dengan Tarpeia avium. Virus ini di luar mudah dibunuh dengan desinfektan, misalnya karbol.
Pengendalian: (1) belum ada obat untuk mengatasi penyakit ini; (2) pencegahan dilakukan dengan vaksinasi dan sanitasi yang ketat.
4.Cacar ayam (Fowl pox)
Gejala: tubuh ayam bagian jengger yang terserang akan bercak-bercak cacar.
Penyebab: virus Borreliota avium. Pengendalian: dengan vaksinasi.
5.Marek
Penyakit ini menjadi populer sejak tahun 1980-an hingga kini menyerang bangsa unggas, akibat serangannya menyebabkan kematian ayam hingga 50%. Pengendalian: dengan vaksinasi.
6.Gumboro
Penyakit ini ditemukan tahun 1962 oleh Cosgrove di daerah Delmarva Amerika Serikat. Penyakit ini menyerang bursa fabrisius, khususnya menyerang anak ayam umur 3–6 minggu.
7.3. Penyakit karena Jamur dan Toksin
Penyakit ini karena ada jamur atau sejenisnya yang merusak makanan. Hasil perusakan ini mengeluarkan zak racun yang kemudian di makan ayam. Ada pula pengolahan bahan yang menyebabkan asam amino berubah menjadi zat beracun. Beberapa penyakit ini adalah :
1.Muntah darah hitam (Gizzerosin)
Ciri kerusakan total pada gizzard ayam. Penyebab: adalah racun dalam
tepung ikan tetapi tidak semua tepung ikan menimbulkan penyakit ini. Timbul penyakit ini akibat pemanasan bahan makanan yang menguraikan asam amino hingg menjadi racun.
Pengendalian: belum ada.
2.Racun dari bungkil kacang
Minyak yang tinggi dalam bungkil kelapa dan bungkil kacang merangsang pertumbuhan jamur dari grup Aspergillus. Untuk menghindari keracunan bungkil kacang maka dalam rancung tidak digunakan antioksidan atau bungkil kacang dan bungkil kelapa yang mengandung kadar lemak tinggi.
7.4. Penyakit karena Parasit
1.Cacing
Karena penyakit cacing jarang ditemukan di peternakan yang bersih dan terpelihara baik. Tetapi peternakan yang kotor banyak siput air dan minuman kotor maka mungkin ayam terserang cacingan. Ciri serangan cacingan adalah tubuhnya kurus, bulunya kusam, produksi telur merosot dan kurang aktif.
2.Kutu
Banyak menyerang ayam di peternakan Indonesia. Dari luar kutu tidak terlihat tapi bila bulu ayam disibak akan terlihat kutunya. Tanda fisik ayam terserang ayam akan gelisah. Kutu umum terdapat di kandang yang tidak terkena sinar matahari langsung maka sisi samping kandang diarahkan melintang dari Timur ke Barat. Penggunaan semprotan kutu sama dengan cara penyemprotan nyamuk. Penyemprotan ini tidak boleh mengenai tangan dan mata secara langsung dan penyemprotan dilakukan malam hari sehingga pelaksanaannya lebih mudah karena ayam tidak aktif.
7.5. Penyakit karena Protoza
Penyakit ini berasal dari protozoa (trichomoniasis, Hexamitiasis dan Blachead), penyakit ini dimasukkan ke golongan parasit tetapi sebenarnya berbeda. Penyakit ini jarang menyerang ayam lingkungan peternakan dijaga kebersihan dari alang-alang dan genangan air.
8. P A N E N
8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya ayam petelur adalah berupa telur yang diahsilkan oelh ayam. Sebaiknya telur dipanen 3 kali dalam sehari. Hal ini bertujuan agar kerusakan isi tlur yang disebabkan oleh virus dapat terhindar/terkurangi. Pengambilan pertama pada pagi hari antara pukul 10.00-11.00; pengambilan kedua pukul 13.00-14.00; pengambilan ketiga (terakhir)sambil mengecek seluruh kandang dilakukan pada pukul 15.00-16.00.
8.2. Hasil Tambahan
Hasil tambahan yang dapat dinukmati dari hasil budidaya ayam petelur adalah daging dari ayam yang telah tua (afkir) dan kotoran yang dapat dijual untuk dijadikan pupuk kandang.
8.3. Pengumpulan
Telur yang telah dihasilkan diambil dan diletakkan di atas egg tray (nampan telur). Dalam pengambilan dan pengumpulan telur, petugas pengambil harus langsung memisahkan antara telur yang normal dengan yang abnormal. Telur normal adalah telur yang oval, bersih dan kulitnya mulus serta beratnya 57,6 gram dengan volume sebesar 63 cc. Telur yang abnormal misalnya telurnya kecil atau terlalu besar, kulitnya retak atau keriting, bentuknya lonjong.
8.4. Pembersihan
Setelah telur dikumpulkan, selanjutnya telur yang kotor karena terkena litter atau tinja ayam dibershkan. Telur yang terkena litter dapat dibersihkan dengan amplas besi yang halus, dicuci secara khusus atau dengan cairan pembersih. Biasanya pembersihan dilakukan untuk telur tetas.
dari http://ngraho.wordpress.com/2008/01/02/ternak-ayam-petelur/
Link Teman
- adhelina
- ADY EXPRESSION TERITORRY
- ady-inbox
- ajie gumelar
- all u know
- area usaha
- asalcom pasang iklan gratis tanpa daftar
- bit gallery Bebas Download
- blog mungil
- Blogger dari Purwodadi
- blogger indramayu
- fack and farcle
- faniza widya
- feumj
- iklan gratis
- iklan gratisan.cc
- iklan tehobeng
- iklan top tea
- iklan top.cc
- indo spiritual
- indobat
- internet incomeku
- Internet Marketing Indonesia
- irmagi.blog
- jacbferd16
- jacbferd88
- jamalbaharuns's blog
- kebo ello
- kuatza
- lerry060183 Weblogs
- mahawiraku
- norjik
- obbie afri
- pontianak asyik
- rakan blogger
- refill pulsa
- remo creativity
- siak bunga raya
- speech your m1nd
- sunatullah
- takaza
- tempatku berbagi.
- The Story
- tito-kun
- tukarlink1
- tukarlink1.b
- tukarlink11.b
- tukarlink2
- tukarlink3
- tukarlink4
- tukarlinkaku
- tukarlinks
- tukarlinktop.w
- tukarlinktop1.b
- tukeran link yuk
- tutorial7
