
Banyak orang mengira bahwa mengakhiri hidup adalah jalan pintas untuk mengatasi masalah. Mereka lupa bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara saja. Hidup yang kekal, atau mati yang kekal, itu akan kita masuki justru setelah kehidupan singkat di dunia ini kita jalani. Namun bentuk pemikiran ini ternyata bukanlah hal baru. Sejak jaman dulu ternyata pola mengakhiri hidup dengan berbagai alasan pun sudah ada. Sesaat setelah Ayub mengalami serangkaian penderitaan yang tak terperikan, kehilangan anak, harta benda dan ditimpa penyakit kulit mengerikan dari ujung kepala hingga ke telapak kakinya, istri Ayub dengan sinis berkata: "Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" (Ayub 2:9). Buat apa terus memuji Tuhan dengan setia jika malah penderitaan yang diperoleh? Lebih baik mati saja. Itu kira-kira yang dikatakan istrinya. Untunglah Ayub saat itu punya pemikiran lain, meskipun saya yakin hatinya hancur berantakan dan ia merasakan sakit yang luar biasa, baik perasaannya maupun fisiknya. Luar biasa ketika Ayub mengalami penderitaan begitu besar dalam waktu yang sangat singkat, ia masih bisa berkata demikian: "Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya." (ay 10). Ya, banyak diantara kita hanya mau menerima yang baik dari Tuhan. Pola pikir kita seringkali sangat sederhana. Ketika diberkati, Tuhan baik. Ketika menderita, Tuhan jahat. Padahal Tuhan bisa memakai bentuk-bentuk masalah dan problema kehidupan, termasuk penderitaan sebagai sarana untuk melatih diri kita agar bisa bertumbuh secara rohani. Terkadang melalui ujian kehidupan kita diajarkan Tuhan agar berhenti mengandalkan kekuatan sendiri, dan menyadari bahwa kita harus mulai belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam kehidupan kita.
Dalam budaya tradisional Jepang kita mengenal istilah harakiri. Harakiri adalah sebentuk pertanggung jawaban atas kegagalan dengan cara mengakhiri hidup alias bunuh diri. Ketika seorang pejuang samurai jatuh ke tangan lawan, ketimbang mereka harus menderita malu akibat kegagalan mereka, maka menurut budaya tradisional Jepang, mereka lebih baik melakukan harakiri. Cara yang dilakukan lumayan mengerikan jika dideskripsikan. Mereka akan menusuk perut mereka dengan samurai, dan mengirisnya kesamping. Meskipun harakiri dikenal dalam budaya tradisional Jepang, bukan berarti bunuh diri hanya terjadi di sana saja. Di seluruh dunia, bahkan Indonesia, hampir setiap hari kita mendengar kasus bunuh diri. Baik karena tidak tahan lagi menanggung aib, tidak kuat lagi menahan sakit, tidak sanggup lagi menderita, diputus pacar dan sebagainya. Caranya pun berbeda-beda. Minum racun serangga, menggantung diri, melompat dari gedung tinggi dan banyak lagi.
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/04/harakiri.html
Sabtu, 16 Mei 2009
Harakiri
Label:
Sejarah budaya dunia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Link Teman
- adhelina
- ADY EXPRESSION TERITORRY
- ady-inbox
- ajie gumelar
- all u know
- area usaha
- asalcom pasang iklan gratis tanpa daftar
- bit gallery Bebas Download
- blog mungil
- Blogger dari Purwodadi
- blogger indramayu
- fack and farcle
- faniza widya
- feumj
- iklan gratis
- iklan gratisan.cc
- iklan tehobeng
- iklan top tea
- iklan top.cc
- indo spiritual
- indobat
- internet incomeku
- Internet Marketing Indonesia
- irmagi.blog
- jacbferd16
- jacbferd88
- jamalbaharuns's blog
- kebo ello
- kuatza
- lerry060183 Weblogs
- mahawiraku
- norjik
- obbie afri
- pontianak asyik
- rakan blogger
- refill pulsa
- remo creativity
- siak bunga raya
- speech your m1nd
- sunatullah
- takaza
- tempatku berbagi.
- The Story
- tito-kun
- tukarlink1
- tukarlink1.b
- tukarlink11.b
- tukarlink2
- tukarlink3
- tukarlink4
- tukarlinkaku
- tukarlinks
- tukarlinktop.w
- tukarlinktop1.b
- tukeran link yuk
- tutorial7



























Tidak ada komentar:
Posting Komentar